Roger Garaudy: Ketika Akal Barat Menemukan Tauhid

0

FIlsuf Barat Terkemuka

Kemajuan Barat tidak selalu melahirkan ketenangan. Teknologi maju, tetapi manusia kehilangan makna hidup. Dari kegelisahan inilah lahir kisah Roger Garaudy, seorang filsuf besar Prancis yang akhirnya menemukan Islam.

Roger Garaudy bukanlah orang biasa. Ia Adalah filsuf terhormat yang berasal dari Prancis, diaman peran filsuf pada abad ke-20 mempunyai peran signifikan terutama yang berkecimpung di dunia politik. Latar belakang Garaudy menjadikannya menjadi sosok intelektual Barat dan bahkan sempat menjadi pelopor pergerakan Komunis di Prancis. Ia dikenal dengan pemikirannya yang dinamis bahkan knotroversial, yang terus merevisi posisi dan sudut pandangnya seiring krisis zaman yang ia saksikan sampai pada di titik ia menemukan tauhid.

Dibesarkan dalam lingkungan Kristen Protestan, Garaudy sudah terpapar dengan ideologi Marxisme karena ketertarikannya pada keadilan sosial. Ia pun menjadi tokoh penting dalam Partai Komunis Prancis dan berpegang teguh bahwa bahwa sistem ini mampu menghadirkan masyarakat yang adil dan setara. Namun seiring berjalannya waktu, ia menolak ajaran Marxisme yang kaku, yang menolak keberadaan Tuhan (ateistik). Selain bersifat ateistik, ideologi ini memandang manusia hanya sebagai makhluk materi dan dari hal tersebut ide-ide yang terkandung hanya menjadi sebuah pembenaran untuk penindasan. Puncaknya terjadi pada unjuk rasa besar-besaran di Prancis pada tahun 1968, Garaudy justru mengkritik Partai Komunis Prancis yang bersebrangan dengan pergerakan mahasiswa otoritarianisme yang terjadi pada saat itu. Dari ketimpangan tersebut, Garaudy memutuskan untuk hengkang dari Partai Komunis Prancis.

Setelah keluar dari Partai Komunis Prancis di tahun 1970, Garaudy mulai mengembangkan kritik tajam terhadap peradaban Barat yang dianggapnya materialistis dan kehilangan sifat spiritual. Dari situ timbul kegelisahan dari diri Garaudy dimana ia akhirnya berlabuh pada satu kesimpulan bahwa peradaban manusia tanpa hubungan Tuhan adalah peradaban yang sedang diambang menuju kehancuran.

Perjalanan Keislaman Garaudy

Dalam pencariannya mencari Tuhan, Garaudy mulai mempelajari berbagai peradaban dunia, bahkan sempat berpindah agama memeluk Katolik sebelum akhirnya menemukan Islam. Dengan bertahap mempelajari Al-Qur’an, Garaudy menemukan bahwa agama Islam tidak hanya memberikan ketenangan spiritual namun juga menstimulasi akal untuk berpikir. Dalam sejarahnya, ilmu dalam peradaban Islam begitu berkembang pesat tanpa mengesampingkan rasa iman dalam diri. Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Tuhan, tetapi juga antar sesama manusia dan alam.

Sebagai seorang pemikir, Garaudy melihat Islam sebagai jawaban atas krisis manusia modern. Islam memberikan makna hidup yang utuh dan tujuan yang jelas. Karena itulah, pada tahun 1982, ia memutuskan untuk memeluk Islam. Keputusan ini diambil secara sadar dan rasional tanpa dorongan atau emosi semata. Baginya, Islam bukan hanya sekadar ibadah ritual, tetapi juga perjalanan hidup dan sebuah aktualisasi diri.

Dengan menyandang status sebagai mualaf, terutama di negara Barat, tentunya keputusan ini tidaklah mudah. Garaudy masih aktif dalam menyuarakan buah pemikirannya akan keadilan bagi kemanusiaan, namun ia mulai dipandang sebelah mata karena status barunya tadi dan kerap mendapat penolakan bahkan pengucilan.

Dalam karya Les Mythes fondateurs de la politique israélienne (1996), Roger Garaudy dituduh mengemukakan penyangkalan dan peniadaan akan pembantaian yang dilakukan Nazi akan Yahudi dan memandang Zionisme sebagai proyek politik untuk menggusur warga Palestina. Akibatnya, Garaudy diseret ke pengadilan karena dianggap telah melakukan pelanggaran Undang-Undang Gayssot, dimana Undang-Undang tersebut mengatur larangan penyangkalan keberadaan atau besarnya kejahatan terhadap kemanusiaan, khususnya Holocaust.

Pada akhirnya, Garaudy dinyatakan bersalah dengan denda dan buku-bukunya ditarik dari peredaran. Namun hukuman yang lebih berat diterimanya ialah sanksi sosial, dia dijauhi dari elit-elit Prancis, begitu juga sebagian besar Masyarakat Perancis.

Dalam keterasingan dari arus utama intelektual Barat, Garaudy tetap berpegang pada pandangan-pandangan kritisnya. Ia pun menghabiskan masa tuanya dengan tenang bersama keluarga dan relatif terdekat, dimana akhirnya Garaudy menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 98 tahun, pada 13 Juni 2012.

Penutup

Dari kisah Roger Garaudy, sebagai umat Islam kita dapat bercermin:

  1. Islam tidak kalah oleh Barat, justru lebih utuh dan manusiawi
  2. Dakwah membutuhkan ilmu, keberanian, dan kejujuran
  3. Jangan minder dengan pemikiran Barat
  4. Islam adalah solusi krisis peradaban, bukan sekadar identitas
  5. Jadilah Muslim yang berpikir dan beramal

Kisah Roger Garaudy memberikan pelajaran penting bagi umat Islam bahwa pencarian kebenaran tidak selalu berhenti pada pencapaian intelektual formal. Ilmu pengetahuan perlu disertai dengan refleksi etis dan spiritual agar tidak kehilangan orientasi kemanusiaannya.

Islam adalah agama yang rasional dan relevan bagi setiap zaman. Umat Islam tidak perlu merasa rendah diri di hadapan Barat, karena Islam mampu menjawab persoalan yang gagal dijawab oleh ideologi modern. Ketiga, iman yang sejati membutuhkan keberanian dan kejujuran. Pada akhirnya, kisah Roger Garaudy menunjukkan bahwa ketika akal digunakan dengan jujur dan hati terbuka terhadap kebenaran, manusia akan menemukan tauhid sebagai tujuan akhir. Islam bukan penghalang kemajuan, tetapi cahaya yang memberi arah bagi peradaban manusia.

 

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

“Maka ke mana kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)

 

Oleh: Rio M. Gandhirat (Penulis dan peneliti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.