RISALAH NU ONLINE, MASJID AL-FALAH HUALIEN — 25 Februari 2026. Malam itu suasana Masjid Al-Falah Hualien terasa hangat dan penuh kekhusyukan. Di tengah kehidupan para perantau yang padat dengan aktivitas kerja, sejumlah jamaah berkumpul mengikuti kajian kitab Maqāṣidus Shalāt yang disampaikan dengan metode ngaji bandongan. Suasana tersebut mengingatkan pada tradisi ngaji romadhonan di tanah air—namun kali ini berlangsung di bumi Formosa, jauh dari kampung halaman.
Para jamaah tampak duduk rapi, menyimak setiap penjelasan dengan penuh perhatian. Antusiasme mereka menjadi tanda bahwa kebutuhan akan penguatan spiritual tetap hidup di tengah rutinitas pekerja migran. Dalam kajian tersebut, penekanan utama diarahkan pada pemahaman bahwa sholat merupakan ibadah paling pokok dalam kehidupan seorang Muslim.
Disampaikan kepada jamaah bahwa menjaga sholat lima waktu adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, meskipun berada dalam situasi kerja yang padat. Bagi para pekerja migran di Taiwan, menjaga sholat sering kali menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika terbentur aturan majikan atau keterbatasan waktu kerja.Di tengah pengajian, seorang jamaah mengajukan pertanyaan yang mewakili kegelisahan banyak pekerja: bagaimana jika majikan tidak memberi izin sholat, bahkan berpotensi memecat apabila terlambat bekerja?
Pertanyaan itu dijawab dengan senyum dan pendekatan fiqih yang menenangkan. Jamaah dianjurkan untuk tetap melaksanakan sholat li hurmati al-waqt—shalat sebagai penghormatan terhadap waktu, meskipun dalam kondisi sangat terbatas. Setelah situasi memungkinkan, seperti ketika kembali ke kontrakan atau ruang istirahat, sholat tersebut dapat diulang (i‘ādah) dengan lebih sempurna. Penjelasan tersebut memberikan kelegaan bagi jamaah. Mereka memahami bahwa ajaran Islam tidak memberatkan, melainkan memberi ruang kemudahan sesuai kondisi umat. Hukum fiqih tetap berpegang pada prinsip-prinsip ulama mazhab empat, namun juga mempertimbangkan realitas kehidupan yang dihadapi para perantau.
Malam itu bukan sekadar kajian kitab, tetapi juga ruang berbagi kegelisahan dan menemukan solusi spiritual. Di Masjid Al-Falah, para jamaah merasakan bahwa dakwah dan ilmu tetap hadir sebagai penuntun—menguatkan langkah mereka menjalani kehidupan di negeri orang tanpa meninggalkan kewajiban kepada Allah.
Kajian pun ditutup dengan doa sederhana agar para pekerja migran diberikan kekuatan menjaga ibadah, kemudahan dalam pekerjaan, serta keberkahan dalam setiap langkah. Di bumi Formosa, tradisi ngaji tetap hidup, menjadi cahaya kecil yang menjaga iman di tengah kesibukan rantau. (Ricky Habibullah)