Pesantren Nihadlul Qulub Gelar Pelatihan Digital Branding: Sukses Dakwah dan Finansial di Era Automation
Risalah NU ONLINE, Pemalang – Pondok Pesantren Nihadlul Qulub, Moga, Pemalang, Jawa Tengah, menyelenggarakan program Pelatihan Digital Branding: Sukses Dakwah dan Finansial di Era Automation selama setengah bulan penuh di bulan suci Ramadan. Kegiatan ini berlangsung pada 23 Februari – 9 Maret 2026 atau bertepatan dengan 5–19 Ramadan 1447 H, dengan dukungan dari NU Care LAZIS NU.
Program ini dirancang sebagai pelatihan intensif yang memadukan penguatan kompetensi digital, pengembangan mental kewirausahaan, serta pendalaman keilmuan keagamaan. Pesantren berupaya menghadirkan ekosistem pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi, sekaligus menjaga nilai-nilai spiritual dan tradisi keilmuan pesantren.
Selama program berlangsung, para peserta mengikuti berbagai sesi pelatihan yang dipandu oleh para praktisi dari beragam bidang digital kreatif dan pemasaran online.
Pada bidang digital, peserta mendapatkan materi dari sejumlah praktisi yang telah berpengalaman dalam industri kreatif dan bisnis digital. Hendri Lisdiyant, praktisi desain grafis dari Tegal, menyampaikan materi “Canva untuk Seni Dakwah”. Dalam sesi ini, peserta diajarkan cara membuat desain dakwah yang menarik secara visual menggunakan platform Canva, sehingga pesan-pesan keagamaan dapat disampaikan secara lebih kreatif dan mudah diterima oleh masyarakat digital.
Materi berikutnya disampaikan oleh M. Ulinnuha Iskandar, praktisi videografi dari Pekalongan, dengan topik “CapCut untuk Artistik Dakwah.” Ia membimbing peserta memanfaatkan aplikasi CapCut untuk mengedit video dakwah secara artistik dan dinamis, sehingga konten yang dihasilkan tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki kualitas visual yang menarik bagi audiens media sosial.
Sementara itu, Array, fotografer asal Pemalang, memberikan materi “Fotografi untuk Seni Display Produk.” Peserta diajak memahami teknik dasar fotografi produk yang efektif untuk pemasaran digital, termasuk pencahayaan, komposisi, serta cara menampilkan produk secara menarik agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi di platform marketplace.
Materi mengenai peluang bisnis digital disampaikan oleh Amirrul Ja’far Maulana, praktisi TikTok Affiliate dari Purbalingga. Dalam sesi “Peluang dan Tantangan TikTok Afiliasi,” peserta diperkenalkan pada strategi memanfaatkan platform TikTok sebagai sarana promosi dan penjualan produk melalui sistem afiliasi.
Selain itu, Lutfi Maulana, praktisi dropship dari Pemalang, membawakan materi “Manajemen Akun dan Building Toko Kosmetik Tanpa Modal.” Ia menjelaskan langkah-langkah membangun toko online berbasis sistem dropship, termasuk pengelolaan akun marketplace dan strategi pengembangan toko digital tanpa memerlukan modal besar di tahap awal.
Materi digital marketing juga diperkaya oleh M. Kushaeri, praktisi digital marketing dari Pemalang, yang menyampaikan topik “Manajemen Keywords.” Peserta diajak memahami pentingnya riset kata kunci dalam strategi pemasaran digital agar produk maupun konten yang dibuat lebih mudah ditemukan oleh calon konsumen di internet.
Selain pelatihan keterampilan digital, program ini juga menekankan pentingnya penguatan mental dan pemanfaatan teknologi otomatisasi. Materi pada bidang ini disampaikan oleh Ali Sobirin El-Muannatsy, pengasuh Pondok Pesantren Nihadlul Qulub, yang juga dikenal sebagai trainer nasional dan penulis buku Teknologi Ruh: Panduan Teknis Mengawal Masa Depan (Jakarta: TOPP Indonesia, 2007).
Dalam sesi Mindset Building, ia menekankan pentingnya membangun mentalitas kreatif, disiplin, dan adaptif terhadap perubahan teknologi. Menurutnya, generasi muda pesantren harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah sekaligus sebagai jalan kemandirian ekonomi.
Selain itu, ia juga memberikan materi AI for Content Creation, yang memperkenalkan berbagai teknologi kecerdasan buatan untuk mendukung proses produksi konten digital secara lebih cepat dan efisien.
Di samping pelatihan digital dan penguatan mental, kegiatan ini tetap menempatkan pendalaman ilmu keagamaan sebagai fondasi utama. Kajian kitab disampaikan oleh Kyai Khozin melalui pembahasan Tafsir Jalalain, sementara Kyai Ma’nawi Romdlon mengampu kajian Mabadi’ul Fiqhiyyah. Melalui kajian ini, peserta diharapkan tetap memiliki landasan keilmuan yang kuat dalam menjalankan aktivitas dakwah di ruang digital.
Peserta pelatihan berasal dari berbagai daerah dan lembaga pendidikan. Mereka merupakan utusan dari beberapa pesantren di Tegal, Wonosobo, dan Jombang, serta madrasah dari wilayah Pemalang. Bahkan, latar belakang asal peserta cukup beragam, mulai dari Riau, Papua, Wonosobo, Tegal, Pemalang (Jawa Tengah), hingga Probolinggo dan Bondowoso di Jawa Timur.
Keragaman latar belakang ini menciptakan ruang kolaborasi dan pertukaran pengalaman yang kaya di antara para peserta.
Sebagai hasil dari pelatihan ini, para peserta ditargetkan mampu membangun toko kosmetik digital di platform Shopee dengan produk yang lengkap. Selain itu, peserta juga mendapatkan belasan tool premium untuk kreasi konten digital yang merupakan hasil pengembangan dan eksperimen teknologi oleh tim pesantren, dan diberikan secara gratis kepada para peserta untuk mendukung aktivitas dakwah dan bisnis digital mereka.
Meskipun demikian, penyelenggara menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada proses pelatihan, tetapi juga pada menjaga ketahanan dan konsistensi peserta dalam menjalankan jadwal produksi konten setelah pelatihan selesai.
Karena itu, pesantren berharap para peserta mampu menjaga disiplin dalam mengelola akun digital, terus memproduksi konten secara rutin, serta memanfaatkan keterampilan yang telah diperoleh untuk memperkuat dakwah dan meningkatkan kemandirian ekonomi.
Melalui program ini, Pondok Pesantren Nihadlul Qulub berupaya menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga dapat berperan sebagai laboratorium inovasi digital yang mempersiapkan generasi santri menghadapi tantangan zaman. (rls).