RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Dosen Hubungan Internasional dari Universitas Bina Nusantara (Binus), Dr. Tia Mariatul Kibtiah memberikan catatan kritis sekaligus saran strategis bagi peran Nahdlatul Ulama (NU) di kancah internasional. Beliau menekankan bahwa NU melalui para intelektualnya harus menjadi garda terdepan dalam meluruskan narasi radikal yang sering kali menyesatkan masyarakat terkait konflik di Timur Tengah.
Dr. Tia menyoroti bagaimana ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat sering kali dibelokkan oleh kelompok radikal menjadi isu sektarian seperti sentimen Syiah-Sunni.
“Ini bukan persoalan ideologi, bukan soalnya Syiah kafir kemudian Sunni, tidak. Ini persoalan siapa yang salah, siapa yang menyalahkan international law,” tegas Dr. Tia dalam paparannya.
Menurutnya, NU harus mampu menggeser paradigma berpikir masyarakat dari debat ideologi ke arah kepatuhan pada hukum internasional karena pelanggaran kedaulatan adalah ancaman nyata bagi dunia.
Beliau menambahkan, “Kalau semua hal yang salah di-approve, kacau dong tatanan dunia. Studi HI (Hubungan Internasional) bubar saja sudah, tidak usah ada kalau begitu.”
Oleh karena itu, cendekiawan NU didorong untuk aktif menarasikan isu-isu ini secara objektif guna membendung hoaks sektarian dan mengawal isu radikalisme di Indonesia yang sering kali muncul sebagai efek dari perang di luar negeri.
Selain itu, Dr. Tia memberikan saran terkait sensitivitas isu Palestina-Israel agar setiap langkah diplomasi yang dilakukan tokoh NU dikemas dengan komunikasi publik yang matang. “Maka ini pun harus dikemas dengan sangat cantik, bahwa kita berjuang tetap untuk Palestina,” ujarnya.
Meski menutup pemaparannya dengan nada pesimis mengenai perdamaian di Timur Tengah akibat perebutan sumber daya alam, beliau memandang peran moderasi NU tetap krusial sebagai penyeimbang.
(Anisa).