Di Balik Kesejagatan, Kemegahan Gerakan Ulama  (Bagian terakhir)

0

Riadi Ngasiran

Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur, Tim Kerja Monumen Resolusi Jihad NU, Surabaya.

 

Ketika melihat ikatan tali yang kuat maka Kiai Wahab merasa ada ketidakcocokan. Lalu mengusulkan pada Kiai Ridlwan agar mengubah gambarnya itu dengan membuat ikatan bola dunia jangan dengan tali terlalu ketat. Sedikit dilonggarkan karena para ulama NU sebagai pengendali organisasi keagamaan harus lebih luwes dan lentur dalam mengikuti perkembangan Masyarakat dan perubahan zaman. Saat itu pula lambang diubah dengan tali kendo, longgar, bukan tali mati.

Dengan usulan Kiai Wahab itu, Kiai Ridlwan pun ikut puas karena dengan masukan itu lambang menjadi lebih estetik. Setelah itu, sebagai penanda akhir maka Kiai Ridlwan menambahkan sebuah khat (tulisan) Arab yang melintang di bola dunia dan Bintang Sembilan dengan tulisan Nahdlatul Ulama’. Tulisan Ulama dalam lambang itu dibuat huruf ‘ain besar (terbuka), padahal itu menyalahi aturan khat Arab huruf tengah mestinya ‘ain kecil dan tertutup. Penyimpangan ini untuk menunjukkan keaslian dan sekaligus kemegahan serta keindahan. Maka dengan demikian selesailah pembuatan rancangan bendera NU, yang ternyata melalui proses Panjang dan melibatkan banyak orang.

Namun, ada kesulitan selanjutnya dialami Kiai Ridlwan: bagaimana mencari bahan kain untuk menuangkan lambang tersebut, sebagai dekorasi dalam medan congres. Beberapa toko kain di Surabaya dimasuki. Tak ada yang cocok. Karena warna yang terlihat di dalam mimpi tidak ada yang cocok dengan warna kain di toko-toko Surabaya. Akhirnya, Kiai Ridlwan Abdullah mencoba mencari kain berwana hijau tersebut di toko-toko kota Malang. Warna hijau sebagai warna dasar bendera merupakan warna kesukaan Nabi s.a.w. Bersyukur, akhirnya di kota ini warna kain yang cocok dengan mimpin tersebut berhasil ditemukan. Tapi, jumlahnya hanya sedikit. Persediaan di toko hanya sisa 4×6 meter. ‘’Tak apa,’’ kata Kiai Ridlwan dan kain hijau itu pun dibawa pulang ke Surabaya. (Aula No.1 Th.V, Januari 1983:9-10) Akhirnya, di atas kain itulah rancangan gambar NU yang telah disepakati lalu dibordir.

Sesuai rencana lambang tersebut akan diperkenalkan pada Congres kedua NU di Surabaya. Namun, Kiai Hasyim rupanya ingin lambang kebesaran NU itu diperkenalkan kepada bangsa ini dengan mengundang pejabat pemerintah Hindia-Belanda. Pada tahun 1926, wilayah Jawa Timur (Geweest Oost-Java) belum berstatus sebagai provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur dalam struktur administrasi modern Hindia Belanda.

Pada masa itu, Jawa Timur masih merupakan bagian dari wilayah administrasi yang lebih besar di bawah seorang Residen di Surabaya. Residen Surabaya pada 1926 adalah Willem Charles Hardeman. Sebagaimana tata cara dalam peresmian lambang, maka lambang baru tersebut tidak dipampang sejak awal di depan ruang pertemuan. Tetapi terlebih dulu ditutup dengan kain, dan rencana yang akan membuka adalah tamu kehomatan, pejabat tersebut.

Ketika pejabat itu datang diberitahu bahwa nanti setelah Kiai Hasyim Asy’ari menyampaikan khutbah Iftitah maka dialah yang diminta menyampaikan sambutan sekaligus membuka Congres kedua NU ditandai dengan peresmian lambang NU. Willem C. Hardeman, pejabat itu pun kaget. Akhir setuju tapi dengan syarat sebelum dipakainya lambang NU, ia meminta terlebih dulu penjelasan makna dari simbol NU tersebut. Adanya permintaan mendadak itu, membuat Kiai Hasyim kesulitan karena merasa tidak tahu makna lambang tersebut. Kemudian menyerahkan kepada Kiai Wahab, sementara Kiai Wahab sendiri pun tak tahu maknanya secara pasti.

Akhirnya, Kiai Wahab memanggil Kiai Ridlwan yang saat itu bertugas sebagai panitia seksi konsumsi yang berada di dapur. Ketika didatangi Kiai Wahab agar menjelaskan makna lambang tersebut, jawaban Kiai Ridlwan sama, juga merasa tidak tahu. Mereka pun akhirnya berdebat di dapur. Nampaknya perdebatan mereka cukup lama yang membuat Kiai Hasyim tak sabar. Lalu didatangilah mereka. Kiai Hasyim akhirnya meminta Kiai Ridlwan menjelaskan maka lambang tersebut. Dengan rendah hati Kiai Ridlwan menjawab, ‘’Kiai, saya dulu hanya panjenengan suruh menggambar. Tidak ditugasi untuk menjelaskan maknanya, sehingga saya betul-betul tidak tahu’’.

Dengan bijaksana dan penuh kerendahan hati, Kiai Hasyim mengatakan, ‘’Tidak apalah, jelaskan saja apa adanya yang penting pejabat Hindia-Belanda tahu saja, agar mau segera meresmikannya’’. Karena ini perintah kiai, maka dengan segala hormat dan risiko ia kerjakan. ‘’Tapi bagaimana say aini. ‘Kan berpakaian layak, saya hanya pakai kaos oblong ini maju ke panggung congres’’. ‘’Kalau begitu pinjamilah jas,’’ kata Kiai Hasyim menunjuk pada Kiai Wahab Hasbullah. Kemudian Kiai Wahab meminjamkan jas tapi kekecilan. Kemudian memakai jas Kiai Mas Alwi, meskipun agak kebesaran. Untuk melengkapi penampilan, Kiai Wahab meminjamkan surban.

Dengan persiapan pakaian dan mental seadanya, Kiai Ridlwan maju, naik panggung. Pada saat itu terjadi keajaiban pada diri Kiai Ridlwan Abdullah. Setelah mengucapkan salam dan iftitah, dia tak sadar lagi, seolah ada kekuatan lain yang merasuk dalam tubuhnya. Tiba-tiba mulutnya berbicara sendiri sekitar satu jam, menjalaskan arti dari satu persatu makna lambang NU dengan sangat tegas jelas dan memukau:

‘’Dalam lambang ini ada lima Bintang yang berada di atas dengan satu yang paling besar adalah simbol Nabi Muhammad, yang empat adalah sahabatnya. Kemudian di bawah tulisan terdapat Bintang empat yang melambangkan empat mazhab, sedang bila dijumlah semuanya ada Sembilan yang melambangkan Walisongo.

‘’Tali yang melingkari bola dunia menandakan perlunya persatuan perjuangan di jalan Allah dan seterusnya. Kemudian tulisan Ulama yang melintang di jagat itu ditulis dengan huruf ‘ain terbuka menunjukkan bahwa ilmu itu selalu terbuka dan ulama juga harus selalu terbuka terhadap kebenaran dan terus belajar, mulai dari ayunan hingga liang lahat, dari Arab hingga negeri Cina, agar ulama selalu siap pikiran, relevan, sehingga bisa mendampingi umat.’’

Para kiai yang hadir pun tekun mencatat, tentu saja Kiai Hasyim merasa puas dan kagum dengan uraian yang sangat jelas dan memukau itu. Sementara pejabat Hindia-Belanda pun mengangguk-angguk setuju. Pada saat Kiai Ridlwan turun dari panggung, Kiai Wahab segera merangkul sambil mengatakan, ‘’Sampean ini luar biasa. Tadi mengaku tak mengetahui arti lambang NU, ternyata telah mengetahui dengan sangat mendalam makna lambang organisasi kit aini. Semua rahasia terbuka dan menjadi thau, sampean memang luar biasa. Bisa mengetahui makna lambang itu semuanya’’

Dengan agak keheranan, Kiai Ridlwan balik bertanya, ‘’Memangnya saya tadi menjelaskan apa? Saya tidak merasakan apa-apa’’. ‘’Lho ya mengenai lambang tadi,’’ jawab Kiai Wahab. ‘’Masyaallah saya baru ingat,’’ sahut Kiai Ridlwan. Akhirnya keduanya sadar bahwa memang ada kekuatan lain yang hadir dan merasuk dalam tubuh Kiai Ridlwan saat membeberkan arti lambang organisasi para ulama ini. Mereka pun bersyukur, Allah s.w.t. telah membuka tabir rahasia organisasi yang mereka rintis ini.

Ketika pejabat Hindia-Belanda telah mengetahui jelas makna simbol NU tersebut, maka segera dibuka dan diresmikan lambang organisasi yang baru tersebut dengan penuh kemeriahan. Sehingga dikenal oleh seluruh warga NU, pemerintah Hindia-Belanda serta para aktivis pergerakan. Sejak itu, NU telah memiliki lambang yang orisinal tidak meniru bendera mana pun dan menggambarkan haibah atau kemegahan gerakan ulama. Selain estetik lambang itu pun memiliki unsur kemegahan yang abadi, sehingga akan teta dikagumi sampai kapan pun, tidak akan ketinggalan zaman walaupun zaman telah berakhir. Belakangan banyak bendera di dunia yang mengeksplorasi bola dunia dan gugusan Bintang sebagai lambang mereka. (Mun’im Dz 2017: 36-38)

Dalam menggambar ukuran ‘’lambang NO’’ itu, dibuat memanjang ke bawah. Lebar 4 meter, panjang 6 meter, sesuai dengan bentuk asli lambang NU. Ketika dipasang di arena congres di Hotel Moeslimin, ternyata peserta congres kedua merasa kagum dan diterima sebagai lambang NO.

Kiai Ridlwan Abdullah, lahir di Surabaya pada 1 Januari 1885, memang tidak bisa dipisahkan dari sejarah kehidupan NU pada awal perkembangannya. Namanya muncul sebagai a’wan dalam jajaran struktual NU awal. Bahkan, rumahnya d Bubutan VI No.20 Surabaya, pernah ditempati untuk penandatangan prasasti berdiriya Nahdlatoel Oelama. (Kesaksikan Kiai Mudjib Ridlwan, Majalah Aula edisi Januari 1983).

Perhatian Kiai Ridlwan Abdullah kepada NU cukup besar, termasuk juga terkait pengembangan kader-kader perempuan seperti Fatayat. Pada tanggal 19-25 Februari 1954 di Gedung Madrasah Nahdlatul Wathan, Kawatan Surabaya, saat Fatayat NU mengadakan kursus kader, Kiai Ridlwan menyampaikan pesan tetap diingat hingga kini. ‘’Fatayat harus dapat menjaga dirinya, jangan sampai hatinya banyak terkena penyakit karena hidup di kota dan di desa itu berlainan. Karena yang hidup di kota banyak yang dapat melemahkan semangat dan mengusik hati. Karena sekarang banyak hal-hal yang mengeruhkan pikiran meeka. Sehingga sukar menerima pelajar-pelajaran yang sulit’’. (habis)

Leave A Reply

Your email address will not be published.