RISALAH NU ONLINE, DEMAK – Sabtu (27/06), Salah satu Wali Songo Kanjeng Sunan Kalijogo dinilai patut dijuluki sebagai “Bapak Ilmu Maqashid Syariah” karena rekam jejak metodologi dakwahnya yang terbukti menguasai esensi terdalam dari hukum Islam, yaitu menjaga kemaslahatan umat manusia.
Hal tersebut ditegaskan oleh pakar Maqashid Syariah, Dr KH Nasrulloh Afandi, Lc, MA (Gus Nasrul), saat memberikan ceramah dalam pengajian umum puncak acara Haul Agung Kanjeng Sunan Kalijogo ke-441 di lingkungan Pesarean Agung/Makam Sunan Kalijogo, Demak, Jawa Tengah.
Di hadapan para jemaah, Gus Nasrul menyebut: “Kanjeng Sunan Kalijogo patut disebut bapak Ilmu maqashid Syariah, Kanjeng Sunan Kalijogo adalah orang berilmu luas, utamanya menguasai Ilmu Maqashid Syariah, Salah satu buktinya adalah kemampuan menyelaraskan hukum Islam dengan konteks sosial budaya masyarakat Jawa kala itu”. kata Gus Nasrul yang langsung disambut aplaus dari para hadirin.
Pakar peraih Doktor Maqashid Syariah summa cum laude dari Universitas al-Qurawiyin Maroko ini kemudian mengaitkan metodologi dakwah tersebut dengan pandangan ulama besar ahli Maqashid Syariah, Imam Syatibi, dalam kitab magnum opusnya, al-Muwafaqat. “Bahwa Syariat Islam diturunkan untuk menjaga kemaslahatan semua hamba, apapun agamanya, apapun sukunya, apapun perbedaan adat tradisinya, semua punya hak yang sama di mata syariat Islam,” papar Gus Nasrul.
Menurut Gus Nasrul, keluasan ilmu Sunan Kalijogo terlihat dari langkahnya yang tidak menggusur adat tradisi lokal, melainkan merangkulnya sebagai instrumen dakwah untuk mendekatkan masyarakat kepada Tuhan. media seperti wayang, gamelan, hingga pakaian adat Jawa dimanfaatkan secara taktis tanpa menghilangkan esensi ajaran Islam.
“Kita amati, metodologi dakwah Sunan Kalijogo, yang tidak menggugusur berbagai adat tradisi, tetapi dijadikan sarana dakwah, untuk menuju kebaikan, mengingatkan dan beribadah kepada Alloh SWT. Wayang, gamelan, pakaian adat Jawa, semua dijadikan sarana dakwah oleh kanjeng Sunan Kalijogo, merangkul berbagai perbedaan adat dan tradisi, dengan satu tujuan mengajak mereka bangkit dalam nilai-nilai positif, dan taat pada Alloh SWT. Hal ini sesuai kaidah fikih yang sangat terkenal, berbunyi: Suatu sarana (Wasilah) Itu hukumnya sama dengan apa yang menjadi tujuannya,” urai alumnus Pesantren Lirboyo Kediri tersebut.
Pendekatan budaya ini, lanjut Gus Nasrul, juga sejalan dengan nilai-nilai tasawuf dalam kitab al-Hikam karya Sufi Besar Imam Ibnu Athaillah asy-Sakandari. Kanjeng Sunan dinilai mampu menempatkan diri sebagai figur yang kehadirannya membangkitkan semangat kebaikan bagi lingkungan sekitar.
“Jangan berkumpul bersama orang yang sikapnya tidak bisa membangkitkan semangat kebaikan, dan ucapannya tidak menunjukkan kepada taat kepada Allah SWT,” tutur Gus Nasrul menyitir nasihat kitab al-Hikam.
Pengajian Tetapi Membuat Hati Mati
Pengasuh Pesantren Balekambang Jepara ini, juga menyayangkan adanya pergeseran fungsi pengajian pada masa sekarang. Merujuk pada kitab Risalah al-Qusaeriyah, inti sari pengajian seharusnya menerangi hati (Tanwirul Qulub), bukan malah sebaliknya.
Gus Nasrul mengkritik tajam maraknya penceramah masa kini yang terlalu banyak mengumbar tawa di atas panggung, yang dinilainya bertolak belakang dengan metode substantif milik Sunan Kalijogo.
“Tetapi sekarang ini banyak pengajian yang justru membuat hati mati (Mautul Qolb), resikonya hadirin susah menerima nasihat kebenaran, pesan kebenaran dianggap angin berlalu, yaitu fenomena pengajian yang penceramahnya terlalu banyak tertawanya,” cetus Ketua PP Persatuan Guru NU (Pergunu) itu.
Gus Nasrul juga mengingatkan hadis Nabi mengenai dampak buruk memperbanyak tertawa yang bisa mematikan hati. Ia menyayangkan standar kelayakan di masyarakat yang justru lebih menyukai tipe penceramah yang berlebihan dalam melucu.
“Humor boleh, tetapi jangan terlalu banyak humor, berlebihan, hal itu dilarang oleh Islam. Namun sayangnya justru, penceramah yang banyak tertawanya itu, yang dianggap bagus, dan disenangi masyarakat,” kata Gus Nasrul.
Menurutnya, Sunan Kalijogo menggunakan alat hiburan adat tradisi demi membangkitkan kesadaran spiritual jemaah, bukan demi tawa instan. “Jadi para penceramah yang berlebihan tertawa, selain melanggar perintah Nabi, itu juga bertentangan dengan metode dakwah Kanjeng Sunan Kalijogo,” tegasnya.
Kemulian Dunia Akhirat
Pada bagian ceramahnya, Gus Nasrul juga sempat membedah konsep kehormatan manusia dengan mengutip pendapat Imam Ghazali, yang membaginya menjadi kemuliaan sesaat dan kemuliaan dunia akhirat.
Ia mencontohkan jabatan politik seperti presiden, gubernur, hingga bupati sebagai bentuk kehormatan sesaat yang dibatasi oleh waktu dan regulasi.
“Orang Jadi presiden, Gubernur, Bupati, dan jabatan lainnya, maksimal dua periode 10 tahun, itu pun kalau tidak ditangkap oleh KPK. Saat menjabat mereka dihormati disertai protokoler, para staf dan lainnya, tapi setelah tidak lagi menjabat semua itu tidak ada lagi, padahal orangnya masih hidup. Itu contoh kehormatan sesaat,” seloroh Gus Nasrul.
Sebaliknya, figur seperti para wali, kiai, dan orang saleh dinilai memiliki kemuliaan dunia akhirat. Jasad mereka yang telah lama dikuburkan pun hingga kini tetap dihormati dan diziarahi, seperti halnya makam Sunan Kalijogo.
Rangkaian haul ke-441 ini juga diadakan penyerahan santunan kepada 100 anak yatim oleh pihak panitia. Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Kadilangu Demak sekaligus pengurus Makam Sunan Kalijogo, Raden Agus Supriyanto, menyatakan kegiatan sosial ini merupakan bentuk nyata implementasi ajaran sang wali mengenai pentingnya berbagi.
“Kami bersyukur masih diberi kesempatan untuk melaksanakan haul ini sekaligus berbagi kebahagiaan kepada anak-anak yatim. Semoga menjadi amal ibadah dan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat,” pungkas Raden Agus. (hud/rls)