Haul Induk Ulama NU

0

Haul Agung Mbah Sambu (Sayyid Abdurrahman) dan Mbah Srimpet (Pangeran Tejakusuma I) setiap tahun selalu meriah. Bersamaan pula ikut diselengarakan haul masyayikh Lasem 2026, antara lain KH Kholil, KH Baidlawi Aziz, dan KH Ma’shum Ahmad. Tiga nama itu termasuk ulama yang ikut mendirikan NU tahun 1926.

Ribuan masyarakat dari berbagai daerah memadati kawasan Masjid Jami’ Lasem sejak Jumat hingga Minggu akhir Mei 2026 itu mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, sosial, dan budaya yang menjadi bagian dari tradisi tahunan tersebut.

Salah satu agenda yang paling menyita perhatian masyarakat adalah karnaval budaya yang digelar pada Sabtu. Sebanyak sembilan lembaga pendidikan turut ambil bagian dalam pawai yang menyuguhkan beragam kreativitas dan nuansa religius.

Kesembilan peserta tersebut adalah SMK NU Lasem, SD Negeri 2 Selopuro, MI An Nashriyah, MA NU Lasem, Pondok Pesantren Al Wahdah, SD Negeri Sumbergirang, SD Negeri Dorokandang, dan MI Sholatiyah. Serta satu lembaga peserta lainnya yang turut memeriahkan jalannya karnaval. Pertunjukan budaya lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang memadati sepanjang rute perjalanan.

Panitia haul, Kiai Abdullah Hamid menjelaskan, seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan sejak jauh hari. Hal ini agar dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Rangkaian haul dimulai sejak Jumat malam dengan prosesi penggantian kain luwur di makam Mbah Sambu dan Mbah Srimpet. Setelah itu dilanjutkan pembukaan luwur dan lelang kain luwur yang menjadi bagian dari tradisi haul setiap tahunnya,” tuturnya.

Menurutnya, suasana religius dan kebersamaan sudah terasa sejak malam pertama pelaksanaan haul. Ratusan warga dan peziarah mengikuti setiap prosesi dengan penuh kekhusyukan.

Selain kegiatan sosial dan budaya, haul tahun ini juga mencatat peningkatan antusiasme masyarakat dalam pelaksanaan lelang kain luwur. Panitia menyebut nilai lelang mengalami kenaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 3.500.000- Pemenang yang beruntung H.Muhammadun dari PT Duta Anugerah Ilahi. “Alhamdulillah nilai lelang tahun ini meningkat dibanding sebelumnya,” ungkap Kiai Abdullah Hamid.

Tak hanya itu, panitia juga melakukan pemasangan penanda atau tetenger di area makam. Sebab selama ini sering menimbulkan pertanyaan dari para peziarah. “Selama ini banyak masyarakat yang bertanya, makam ini makam siapa. Karena gapura dan bentuk makam sudah mengalami perubahan dari masa ke masa,” terangnya.

“Akhirnya kami memasang penanda dari batu alam agar masyarakat lebih mudah mengenali dan mengetahui sejarah makam tersebut,” imbuhnya. Yaitu tetenger Watu Prasasti Pesarean Adipati Lasem Tejakusuma I atau Mbah Srimpet. Ia juga dikenal sebagai mertua Mbah Sambu bin Sultan Benawa bin Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir.

Rangkaian acara kemudian berlanjut pada Sabtu (30/5/2026) malam dengan tradisi selamatan buka luwur atau yang dikenal masyarakat sebagai kenduren. Warga dari berbagai desa turut berpartisipasi dengan membawa berkat sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur.

“Kalau nasi berkat dari desa-desa, warga yang menyiapkan. Panitia hanya menyediakan kemasannya berupa besek,” katanya. “Ini menjadi bentuk gotong royong yang masih terus terjaga sampai sekarang,” sambungnya.

Memasuki hari puncak pada Ahad, 31 Mei pagi, kegiatan diawali dengan tahlil di Makam Mbah Srimpet, kemudian dilanjutkan Khatmil Qur’an di kompleks Masjid Jami’ Lasem. Ribuan jemaah tampak memadati lokasi untuk mengikuti doa bersama dan mengenang perjuangan para ulama penyebar Islam di Lasem dilanjutkan yahlil dan pengajian umum oleh Drs. KH. Fathurrohman Alfa, M.Ag., pengasuh pondok pesantren di Sarang, Rembang.

“Alhamdulillah seluruh rangkaian acara berjalan dengan baik. Haul ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, menjaga tradisi, dan meneladani perjuangan dakwah Mbah Sambu, Mbah Srimpet, serta para masyayikh Lasem,” pungkasnya.

KH. Hamzani Syarif Pengurus PCNU Lasem menambahkan bahwa ada empat pesan Mbah Sambu. Pertama: ojo wedi ilang (jangan takut kehilangan). Kedua, ojo wedi kurang (jangan takut kekurangan). Ketiga, ojo wedi cilik (jangan takut kecil), dan keempat, ojo wedi sithik (jangan takut sedikit). Kata kuncinya, kata KH Hamzani Syarif, pengendalian nafsu.

Mbah Srimpet lahir dari keluarga bangsawan Jawa, beliau adalah putra dari Adipati Santi Wira bin Adipati Badra bin Adipati Santi Puspa (Syekh Abu Bakar kakak sulung Raden Said atau Sunan Kalijaga). Ia diangkat sebagai adipati Lasem oleh Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) pada tahun 1585 M. Ia juga menantu Sultan Pajang itu.

R.M. Tejokusumo memerintah Kadipaten Lasem hingga tahun 1632 M, beliau wafat pada usia 77 tahun dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Jami’ Lasem dengan bernisankan pola Troloyo sebagai ciri khas keningratan tertentu. Ia mengundang Sayid Abdur Rahman (Mbah Sambu) untuk mengjsi kegiatan keagamaan Lasem yang sekaligus dijadikan menantunya. Mbah Sambu wafat tahun 1653 M dan dimakamkan di utara masjid. Makam dua tokoh ulama ini hingga kini selalu ramai dikunjungi oleh peziarah.

Seperti diketahui, Mbah Sambu adalah induk ulama-ulama NU antara lain KH Hasyim Asy’ari, KHA Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Ali Ma’shum, KH Ahmad Shiddiq, KH Sahal Mahfudz, KH Mustofa Bisri, KH Maimum Zubeir dan lain sebagainya. (MH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.