Catatan Ulama 1947: Van Der Plas Muslim

0

Pengantar

Tulisan in dikutip dari buku Hari Hari Revolusi Indonesia yang ditulis KH Abdul Chalim Shidiq, seorang ulama besar Jember yang sangat berpengaruh. Catatan ini ditulisn tangan selama dalam perjuangan dan pengungian. Ditulis dengan aksara Arab pegon dalam Bahasa Indonesia campur Jawa dan Arab.

Tulisan ini menarik karena ada keselumit kisah tentang Van Der Plas yang ternyata mengaku sebagai seorang muslim.

Charles Olke van der Plas (15 Mei 1891 – 7 Juni 1977) adalah seorang birokrat yang bekerja dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan Gubernur Provinsi Jawa Timur dari tahun 1936 hingga 1941. Ia menjabat sebagai konsul Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Pada tahun 1927, saat kembali ke Jawa, ia diangkat menjadi penasihat Wakil Urusan Pribumi (Inlandsche Zaken). Pada periode 1929 hingga 1932 ia melaksanakan berbagai tugas di bidang pendidikan dan transmigrasi. Pada tahun 1936 ia diangkat menjadi Gubernur Jawa Timur, suatu jabatan yang dipegangnya hingga tahun 1941. Van der Plas banyak dipengaruhi oleh sarjana Islam Belanda Christiaan Snouck Hurgronje dan menjadi pakar masyarakat dan politik Indonesia dan Islam. (MH)

 

Akhirnya Hirmes (pejabat Belanda, red) berkata akan membasmi Masyumi seluruh Besuki. Saya membantah, saya katakan apakah Belanda bukan (negara) demokratis? Kalau Tuan akan membunuh Masyumi, semua partai di Negeri Belanda basmilah lebih dulu.

Saya katakan bahwa dokumen semua tidak betul, yang lebih tepat dan bukti nyata bahwa Belanda sendirilah yang merampok. Lalu mengenai naskah lagi saya tetap menjawab menolak. Lalu ditanya: “Sekeluar Tuan dari sini akan berusaha apa?”

Saya menjawab: “Saya akan meninggikan derajat Masyumi dan akan menjaga keamanan.”

Saya ditanya: “Apakah Tuan sanggup bekerja bersama-sama?”

Saya berkata: “Bersedia.”

Semua pertanyaan-pertanyaan yang disoalkan ada 32 pertanyaan. Waktu diajukannya 32 soal itu ialah disaksikan oleh Tuan Sunarto dan Nasrudin pada tanggal 21/8. Akhirnya Tuan Hirmes (asal Menado): “Sekarang, Tuan boleh ke mana-mana tetapi belum boleh keluar. Dan Tuan sekarang menjadi tamu saya. Tuan tidak boleh keluar sebelum bertemu dengan Tuan Van Der Plas, karena beliau akan menemui Tuan.”

Saya dipesan tidak boleh kasih tahu pada orang bahwa saya dipukuli. Dan saya dibolehkan tidur di rumah Sunarto. Pada tanggal (24/8/’47) saya permisi minta pulang kepada Tuan Ulimudien komandan V.D.M.B. Olehnya diperkenankan malah di-verslag-kan naik montor-nya, tetapi saya menolak.

 

Van Der Plas

Pada hari Rabu tanggal 27/8/47 jam 13.30 zuhur Van Der Plas datang dengan mobilnya. Setelah mengucap “assalamualaikum”, lalu duduk dan berbicara dengan saya menggunakan Bahasa Arab: “Kalian telah mendengar bahwasanya kalian ditahan tujuh hari, dan saya menyesali pemukulan kepada Anda.”

Saya berkata: “Kiai-kiai banyak yang ditangkap, Cina-Cina yang sudah bekerja dengan Belanda merampok.”

Dia berkata: “Ah, kalau begitu caranya polistionil tidak baik.”

Dan Van Der Plas berkata: “Bahwa saya datang ke sini untuk berkunjung dan bermusyawarah. Saya bermaksud pada 17 September’47, saya ingin membangun pemerintahan untuk Jawa Timur yang dibangun atas dasar Islam. Apa pendapatmu terhadap niatan ini?”

Saya berkata: “Dalam hadis disebutkan bahwa barangsiapa memecah belah umat Islam maka pukullah dengan pedang. Untuk hal ini tidak ada pendapat lain. Karena kita adalah umat Islam, bagi kami tujuan hanya satu, yaitu meraih kemerdekaan Indonesia secara penuh, dan meraih kebebasan sepenuhnya dalam menjalan agama Islam.”

Van Der Plas terdiam. Lalu berkata: ”Saya sangat menyesal atas perbuatan para tentara asli Belanda terhadap para ulama dan kiai. Saya di Borneo (Kalimantan, Red) telah mendirikan sekolah-sekolah dan kegiatan sosial, akan tetapi mereka merusaknya.”

Dan saya ditanya soal Kiai Haji Abdul Halim Siddiq. Saya berkata: “Waallahu a’lam. Sungguh mereka pindah karena takut pada tentara, bagaimana tidak, perabotan rumahnya dirampok dan dihancurkan.”

Dia (Van Der Plas) berkata: “Saya ingin bertemu beliau dan sampaikan salam saya kepadanya bila bertemu, dan saya sanggup memberi surat jaminan atas keselamatan beliau dari tertangkap tentara.”

Saya berkata: “Insya Allah.” Dan saya bertanya: “Dari mana Anda belajar Bahasa Arab?

Dia menjawab: “Di Leiden dan bersama saya dr. Finger Wakubi, dan saya jadi Konsul Jeddah selama tujuh tahun. Saya muslim, tapi mereka bilang saya Yahudi. Ini tidak benar.”

Lalu, dia menunjukkan kepada saya Al-Quranul Karim, lalu pulang. Dan saya minta darinya susu dan dia menjawab: “Insya Allah.”

Saya mendengar bahwa Sunarto berdebat dengan Van der Plas, mencela perbuatan Belanda di sini. Dia berkata kepada saya: “Damanhuri, bahwa dua hari kemarin Eksekutif Kabupaten mengadakan musyawarah antara Van der Plas dan kita. Memutuskan dalam sidang itu: Pertama, kiai-kiai tidak boleh ditangkap kalau tidak mendapat persetujuannya B.E., sedikitnya bupati. Kedua, Van der Plas menyanggupi akan mempertahankan bendera merah putih.”

Tamu Konsul Jendral Australia

Pada hari Jumat tanggal 12/9/1947 atau 26 Syawal 1366, di Jember kedatangan tamu Jenderal Konsul Australia dan Inggris, dijamu di Hotel Jember. Pihak Republik yang diundang hanya Bupati. Pertama yang dipanggil Bupati, ia membelakan benar-benar pada Republik.

Leave A Reply

Your email address will not be published.