Penghargaan untuk Gus Dur

0

Majalah berita mingguan Editor yang didirikan oleh wartawan majalah Tempo Grup (Grafiti Pers) tahun 1987 telah membuat tradisi penggelaran tokoh pemberitaan yang menonjol di masanya sebagai Tokoh Editor.

KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur terpilih sebagai Tokoh Editor tahun 1990. Gus Dur saat itu merupakan tokoh yang sangat vokal menentang keras berdirinya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang didukung Pemerintah. Dia juga pemikir kritis terutama terhadap kekuasaan.

Setahun kemudian, 1991, Gus Dur dan beberapa tokoh lainnya membentuk Forum Demokrasi (Fordem), yang membuat penguasa semakin gerah yang berujung pada panasnya Muktamar NU ke 29 di Cipasung tahun 1994.

Mengapa harus Gus Dur? Dia tokoh dan Ketua Umum PBNU yang menonjol di zamannya. Penggelaran Gus Dur sebagai Tokoh Editor tahun 1990 diselenggarakan di Hotel Sultan (Hilton), Jakarta. Tulisan ini merupakan tulisan penobatan yang dimuat majalah Editor edisi Desember 1990.

Tahun 1990 mungkin sebuah awal dan akhir perhitungan harapan dan sejarah. Tahun 1990 telah menutup era 80-an yang ramai. Penuh sesak peristiwa menyedihkan dan menyenangkan. Tahun 1980 telah mencatatkan pena emas pada pemikiran keagamaan. Pertama, dengan munculnya H. Munawir Sjadzali, M.A. sebagai menteri agama RI, 1983. Orang terperangah, karena seorang diplomat tiba-tiba menjadi penggawa agama di negeri ini. Orang tak tahu banyak, beliau adalah santri Mambaul Ulum di Solo, pesantren yang melahirkan K.H. Masjkur (mantan menteri agama RI) dan K.H. Syukri Gozali (mantan ketua umum MUI Pusat). Munawir melahirkan pemikiran “Reaktualisasi Ajaran Islam”. Darinya muncul pertanyaan tentang keadilan soal waris-mewaris, dan tidak relevannya masalah perbudakan dalam Al-Quran.

Suasana itu makin disemarakkan dengan kembalinya Dr. Nurcholish Madjid dari Amerika, 1984. Siapa pun menghitung Nurcholish sebagai pemikir keagamaan yang kita eman. Kembalinya Cak Nur menjadikan ajang pemikiran kian semarak. Dia bentuk Yayasan Paramadina yang, tiap bulan, menghidangkan pengajian segar untuk konsumsi kalangan intelektual.

Keadaan itu makin ramai setelah Desember 1984, Abdurrahman Wahid muncul di permukaan sebagai ketua umum PBNU. Gus Dur, panggilan akrabnya, memutuskan hubungan NU dengan politik. Dan sebelumnya, Gus Dur sebenarnya juga telah melahirkan beberapa pemikiran menyentuh: soal keadilan sosial, 1978, misalnya.

Gus Dur memang unik. Ia tak betah menunggu tekun Pesantren warisan kakek dan ayahnya, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ia lebih suka tinggal di Jakarta dan menjabat sebagai konsultan LP3ES. Ia merasa lebih bebas menulis di Jakarta dari soal politik hingga bola. Kiprah pesantren pada masyarakatnya yang kini banyak dilakukan adalah jasa Gus Dur. Ia adakan penelitian tentang pesantren, dan ia bikin jembatan untuk memasyarakatkannya. Lantas ia lebih jauh membentuk P3M (Perhimpunan Pesantren pada Pengembangan Masyarakat). Proyek ini berjalan bagus untuk mengubah cara ulama-ulama pesantren menghadapi kitab kuning. Di sinilah muncul istilah pemahaman kontekstual.

Kegiatan P3M memang mengarah untuk mendewasakan umat sambil melepas kebelengguan pemikiran yang sudah lama mengakar. Hambatannya: Gus Dur dan proyeknya terhalang ulama tua. Proyek pembahasan kitab kuning di PBNU, akhirnya, dibubarkan Syuriah, 1986. Tapi, Gus Dur jalan terus. Terbukti ia terpilih kembali menjadi ketua umum PBNU di Yogya pada Muktamar NU ke-27, November 1989. Ia jauh melangkahi nasib semujur pamannya, K.H. Yusuf Hasyim.

Gus Dur memang mutiara tersendiri bagi NU. Ketika ia diangkat sebagai ketua umum PBNU 1984, kalangan intelektual membuat syukuran tersendiri di YTKI (Yayasan Tenaga Kerja Indonesia). Mereka memang banyak berharap dari Gus Dur, untuk membawa NU pada suatu kenyataan. Gus Dur, ibarat lokomotif baru, dibebani tugas harus menarik kencang gerbong tua yang tak lagi layak jalan. Umat NU hakikatnya berbeda dengan umat Muhammadiyah, yang lebih banyak tinggal di kota dan dari kalangan terpelajar. Umat NU terdiri dari warga lugu yang menyandarkan semuanya kepada ulamanya. Tapi, mereka juga memiliki potensi ekonomi yang besar.

Dalam membawa gerbong itulah, Gus Dur hampir sering terjungkal. Kasus assalamualaikum, kasus menjadi ketua DKJ, juri film, pembukaan puisi Yesus, dan hadir di Sidang PGI, untuk menyebut beberapa peristiwa kritis. Bahkan, yang terakhir, tanggapannya atas kasus Monitor yang dianggap beda dengan suara mayoritas. Semua dilaluinya dengan mulus. Bahkan yang paling menonjol, sejak pertengahan tahun ini, adalah keberaniannya membentuk BPR bekerja sama dengan Bank Summa. Lantas, lahirnya fatwa halal atas bunga bank dalam putusan Syuriah NU di Banyuwangi, Jawa Timur.

Ini langkah besar Gus Dur. Buktinya, NU Jawa Barat akhirnya menyetujui kerja samanya dengan BRI. NU Cirebon telah menyetujui kerja sama dengan sebuah perusahaan elektronik besar di Jakarta untuk membuat mesin pendingin. Ini, agaknya, akan diikuti langkah lain yang pada intinya bagaimana membawa umat menjadi dinamis, tak sekadar mencemburui kehidupan yang lebih mapan. Inilah yang kita lihat dari kelebihan Gus Dur.

Ini memang kerja keras Gus Dur. Karena itu, penghargaan dalam kesempatan kali ini, merupakan suatu apresiasi tersendiri buat EDITOR. Melalui Gus Dur, EDITOR memberi penghargaan pada para pemikir keagamaan. Di antaranya, ada Prof. Dr. Harun Nasution, Dr. Amin Rais, Dr. Zamakhsyari Dhofier, Muslim Abdurrahman, K.H. Ahmad Sidik, K.H. Ali Yafi, K.H. Sahal Mahfud, dan banyak intelektual lagi. Insya Allah, 1991, merupakan awal yang baik.

Penulis : Musthafa Helmy

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.