Putus Rantai Kekerasan Seksual, PP IPPNU Bentuk Agen “Teman Sebaya” di Pembukaan Rapimnas 2026

0

RISALAH NU ONLINE, BANDAR LAMPUNG — Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) resmi pembentukan agen Teman Sebaya serta deklarasi yang melibatkan Ketua Rohani Islam (Rohis) dan Ketua OSIS se-Provinsi Lampung di Balai Keratun Provinsi Lampung, Sabtu (13/6/2026).

Gerakan yang diluncurkan sebelumnya di Pondok Pesantren Assiddiqiyah ini diinisiasi secara khusus sebagai langkah preventif untuk mengedukasi pelajar agar mampu menjadi pendengar yang baik serta peka mendeteksi tanda-tanda kekerasan di lingkungan pendidikan.

Langkah taktis ini diperkuat dengan penandatanganan petisi kesepakatan untuk menjadi agen Teman Sebaya di lingkungan pendidikan. Komitmen perlindungan pelajar ini mendapat dukungan penuh secara makro dari pemerintah dan instansi terkait, yang dibuktikan dengan penandatanganan oleh Wakil Gubernur Lampung, Dinas Pendidikan, serta Kanwil Kementerian Agama (Kemenag).

Ketua Umum PP IPPNU, Whasfi Velasufah, menegaskan bahwa program Teman Sebaya hadir untuk memutus budaya diam (culture of silence) atas kekerasan seksual yang marak terjadi di institusi pendidikan, baik umum maupun keagamaan. Berdasarkan data Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2020–2024, terdapat sedikitnya 97 pengaduan kekerasan seksual di sektor pendidikan, di mana klaster pendidikan Islam dan SMA/SMK sederajat menduduki angka tertinggi.

Vela menjelaskan, banyak korban yang baru berani bersuara berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah kejadian akibat fenomena psikologis tonic immobility—kondisi di mana psikis remaja membeku (freeze) saat mengalami kekerasan.

“Sirkulasi konflik emosional remaja hampir sepenuhnya bermuara pada relasi pertemanan akrab, sehingga kader harus dibentuk menjadi instrumen mitigasi utama sejak dini,” ujar Vela.

Program Teman Sebaya ini sendiri bergerak melalui empat pilar cara kerja utama, yakni Deteksi Dini (Early Warning Recognition), Pendampingan Suportif (Supportive Listening), Menjaga Kerahasiaan (Confidentiality), Mengubah Pandangan Lingkungan agar tidak menormalisasi kekerasan seksual.

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, yang hadir dan mendukung penuh penandatanganan petisi ini, menyampaikan bahwa IPPNU merupakan wadah krusial dalam membentuk karakter Islam yang baik di tingkat pelajar.

“Tanpa ada karakter yang baik, ilmu akan percuma,” tegas Jihan. Ia juga mengingatkan pentingnya kapasitas intelektual pelajar di era melimpahnya informasi saat ini agar bisa memilah hal-hal yang baik dan sahih.

Pada peluncuran, dukungan serupa sebelumnya juga datang dari Kementerian PPPA RI. Staf Khusus Menteri PPPA Bidang Perlindungan Anak, Prof. Dr. Zahrotun Nihayah, M.Si., mengapresiasi gerakan ini karena tindakan mendengarkan secara berempati lewat teman sebaya terbukti mampu mereduksi separuh beban psikologis yang dialami anak secara instan.

Setelah deklarasi dan penandatanganan petisi di Lampung ini, gerakan taktis Teman Sebaya diproyeksikan akan langsung bergerak aktif. Agenda akan dilanjutkan dengan sosialisasi intensif sepanjang Juni 2026, pelatihan kapasitas pendampingan pada Juli 2026, pengawalan gugus daerah di bulan Agustus 2026, dan diakhiri dengan monitoring serta evaluasi dampak menyeluruh pada September 2026.

(Anisa)

Leave A Reply

Your email address will not be published.