RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), memberikan tanggapan terkait isu adanya intervensi atau “cawe-cawe” dari pihak Istana Kepresidenan menjelang pelaksanaan Muktamar NU. Beliau mengimbau agar seluruh pengurus tidak mudah memercayai klaim-klaim yang membawa nama Presiden dalam kontestasi NU.
Gus Yahya menyatakan bahwa pemerintah maupun Presiden tidak memiliki kepentingan untuk ikut campur dalam urusan internal NU. Oleh karena itu, ia meminta pengurus di tingkat wilayah maupun cabang untuk tetap tenang dan fokus pada mekanisme organisasi yang ada.
“Kalau ada yang mengklaim bahwa dia misalnya direstui atau diperintah oleh presiden pasti bohong karena tidak ada kepentingan pemerintah,” ujar Gus Yahya di gedung PBNU, Selasa, (14/07/26).
Menurut Gus Yahya, dinamika internal semacam ini merupakan hal yang biasa terjadi di dalam organisasi. Ia meyakini pengurus NU di tingkat cabang memiliki kedewasaan untuk menyikapi berbagai isu luar yang berkembang menjelang Muktamar.
”Dan itu tidak akan mempan kepada NU cabang-cabang itu tidak akan mempan karena NU ini by nature memang independen sejak awal sehingga tidak mudah untuk dipengaruhi dengan isu-isu yang tidak relevan seperti itu,” tambahnya.
Lebih lanjut, Gus Yahya menjelaskan bahwa sebagai organisasi yang berdiri 19 bulan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, NU telah memiliki kematangan sejarah untuk menyelesaikan dinamika organisasinya secara mandiri. Beliau juga meyakini bahwa pihak pemerintah sangat menghormati independensi yang dimiliki oleh NU.
Di akhir penjelasannya, Gus Yahya menekankan pentingnya menjaga integritas dan nilai-nilai dasar organisasi agar tidak terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan lain di luar tujuan awal pendirian NU.
”NU ini walaupun urusannya urusan duniawi tapi niatnya jelas adalah niat agama kalau dicampur-campur dengan niat-niat yang lain saya pribadi saya yakin sekarang bahwa NU punya sistem ketahanan yang bukan hanya lahiriah tetapi juga ketahanan ruhaniyah ketahanan ruhaniyah yang paling penting yang dapat menjaga integritasnya. Istimewanya kalau ada yang mau coba-coba silahkan nanti merasakan akibatnya,” pungkas Gus Yahya.
(Anisa)