KH. Achmad Muhajir AH, S.Pd
Dai Go Global 2026 dan Pengasuh Ponpes Hamalatul Qur’an asrama Wadil Qur’an Jogoroto Jombang
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرسُولُهُ أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَالدِّيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبَنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ الله وَخَيْرِ خَلْقِهِ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِهِ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وقال الله تعالى وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah s.w.t. yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, serta kesempatan kepada kita untuk meraih keberkahan di hari-hari mulia. Pada kesempatan ini, marilah kita mengambil pelajaran dari hari-hari tasyrik, yang telah kita lewati bersama. Hari di mana di mana segala keberkahan dibuka untuk dijadikan sebagai momentum dalam memperbanyak dzikir, syukur, dan mengingat kebesaran Allah atas segala nikmat-Nya.
Hari-hari Tasyrik sering kali hanya dipahami sebagai hari setelah Idul Adha, hari ketika orang-orang masih menikmati daging kurban dan suasana hari raya. Tetapi jika kita renungkan lebih dalam, sesungguhnya hari-hari Tasyrik menyimpan pesan yang sangat penting tentang bagaimana Islam memandang kehidupan manusia. Di dalam sebuah dikatakan:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ قَالَ أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ وَأَوْسُ بْنُ الْحَدَثَانِ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَنَادَيَا أَنْ لَا يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq, ia berkata telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Thahman dari Abu al-Zubair dari Ibnu Ka’ab bin Malik dari ayahnya, ia menginformasikan bahwa Rasulullah s.a.w. mengutusnya bersama Uwais bin al-Hadatsan pada Hari Tasyrik. Lalu keduanya menyerukan bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang mukmin dan Hari Tasyrik adalah hari makan dan minum. (HR. Ahmad).
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Hadits di atas tampak sederhana, namun justru di dalam kesederhanaannya terkandung pandangan hidup Islam yang sangat mendalam. Biasanya ketika kita berbicara tentang ibadah, yang terbayang adalah puasa, shalat malam, membaca al-Qur’an, atau bentuk-bentuk pengendalian diri lainnya. Tetapi pada hari-hari Tasyrik, justru kita diperintahkan untuk tidak berpuasa. Kita diperintahkan makan dan minum. Mengapa demikian? Karena Islam bukan hanya agama yang mengajarkan permusuhan terhadap kehidupan. Islam tidak mengajarkan bahwa semakin jauh seseorang dari kenikmatan dunia, semakin dekat ia kepada Allah.
Hadits di atas mengandung dua pelajaran besar, yaitu pertama bahwa kunci keselamatan dan kebahagiaan abadi di surga adalah keimanan yang benar kepada Allah s.w.t.. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa memperkuat iman dengan memperbanyak amal saleh dan memperbaiki kualitas ketakwaannya. Kedua, hadis di atas hendak menjelaskan hakikat hari-hari tasyrik sebagai hari makan dan minum. Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan menikmati nikmat Allah secara halal. Namun demikian, makna hari makan dan minum bukan untuk berlebihan sehingga lalai mengingat Allah.
Karena, justru yang diajarkan oleh Islam adalah bagaimana menghadirkan Allah s.w.t. dalam seluruh pengalaman hidup kita. Artinya, menghadirkan Allah s.w.t. dalam setiap kesempatan, merupakan ciri mukmin sejati. Saat lapar kita mengingat Allah, saat kenyang kita mengingat Allah, saat susah kita mengingat Allah, dan bahkan saat bahagia pun kita mengingat Allah s.w.t.. Sebab nikmat yang tidak disertai mengingat Allah, dapat menjadi sebab kelalaian, yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam kubangan kehinaan.
Para Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Dalam banyak tradisi keagamaan, keshalehan seseorang seringkali dihubungkan dengan penderitaan dan pengingkaran terhadap kenikmatan hidup. Tetapi di sini, Islam justru mengajarkan bahwa menikmati anugerah Allah s.w.t. disertai rasa syukur juga merupakan ibadah. Karena itu Rasulullah s.a.w. tidak hanya menyebut makan dan minum, tetapi langsung mengaitkannya dengan dzikir kepada Allah. Artinya, letak persoalannya bukan pada makan atau tidak makan, bukan pula pada memiliki atau tidak memiliki.
Persoalannya adalah apakah hati kita masih terhubung kepada Allah ketika menikmati semua anugerah itu atau tidak? Sebab manusia sering kali lupa, ketika kekurangan ia mengeluh kepada Allah, tetapi ketika diberi kelapangan, ia justru melupakan-Nya. Padahal, nikmat yang paling berbahaya bukanlah nikmat yang sedikit, melainkan nikmat yang membuat manusia lupa dari mana semua itu berasal.
Sekali lagi, hari Tasyrik ini bukan hanya kelanjutan dari perayaan Idul Adha, tetapi ia merupakan hari-hari yang penuh dengan nilai ibadah, aktivitas syukur, dan penguatan hubungan kita dengan Allah s.w.t.. Selain itu, hari tasyrik juga mengajarkan bahwa agama bukan hanya kumpulan ritual, melainkan piranti dalam mendidik jiwa. Allah s.w.t. mendidik manusia melalui berbagai keadaan, seperti halnya Ramadhan mendidik kita melalui rasa lapar, maka pada hari-hari Tasyrik kita dididik melalui rasa kenyang.
Jika pada bulan Ramadhan kita belajar sabar, maka pada Tasyrik kita belajar bersyukur. Realitas kehidupan menyatakan, sering kali bersyukur jauh lebih sulit dari pada bersabar. Sebab, ketika susah, manusia mudah mengingat Allah, namun di kala bahagia, belum tentu ia mengingat-Nya. Allah s.w.t. berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat pedih. (Q.S Ibrahim, 14: 7).
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Takbir yang terus kita kumandangkan pada tanggal 10 Dzulhijjah yang dilanjutkan pada hari-hari Tasyrik, pada hakikatnya merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah s.w.t. sekaligus sebagai latihan agar kita tidak terjebak ke dalam rasa memiliki. Ketika kita mengucapkan kalimat Allahu Akbar berulang kali, pada dasarnya sebagai pengingat bahwa yang besar bukan harta, bukan jabatan, dan bukan pula diri kita. Justru, Dzat Yang Maha Besar hanyalah Allah yang tidak ada makhluk pun yang menyerupai-Nya.
Karena itu, di momentum hari-hari Tasyrik yang telah kita lalui bersama, hendaknya dijadikan sebagai langkah untuk memperbaiki cara kita memandang nikmat. Janganlah kita terjebak ke dalam aktivitas menikmati karunia, namun pada saat yang sama kita lupa kepada Sang Pemberi karunia. Janganlah kita hanya menerima rizki, namun pada saat yang sama kita lupa kepada Yang Maha Memberi Rizki.
Karena pada akhirnya, inti dari seluruh ibadah bukanlah lapar atau kenyang, bukan pula miskin atau kaya, bukan sempit atau lapang. Tetapi yang menjadi inti adalah bagaimana menghadirkan Allah dalam setiap keadaan hidup yang kita jalani. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang mampu bersyukur saat diberi nikmat, bersabar saat diberi ujian, dan selalu mengingat-Nya dalam segala keadaan.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِن الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلَهُ, أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمْسُلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّهُمَّ أَصْلِحِ الرُعَاةَ وَالرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فىِ السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.