Soal Aklamasi Muktamar NU, Gus Yahya: Mari Kompetisi, Enggak Usah Cegat Kandidat di Tata Tertib

0

RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menanggapi munculnya usulan aklamasi serta memanasnya peta persaingan menjelang Muktamar NU. Ia menegaskan agar seluruh kandidat berkompetisi secara terbuka tanpa upaya mengubah tata tertib organisasi.

Gus Yahya menyatakan bahwa aksi pengkondisian peserta maupun kontestasi antar-kandidat di lapangan merupakan hal wajar dalam arena Muktamar, selama tidak diwarnai manuver yang merusak aturan.

“Soal karantina dan lain-lain itu menurut saya enggak masalah. Asal enggak aneh-aneh. Kompetisi mari kompetisi, tapi enggak usah aneh-aneh. Enggak usah berusaha nyegatin kandidat di tata tertib,” ujar Gus Yahya dalam forum diskusi Bincang-Bincang Muktamar NU ke-35 Serial 11 yang digelar di Yayasan Talibuana Nusantara, Pancoran, Jakarta Selatan pada Senin, (24/08/26).

Menurutnya, potensi keributan atau kemacetan (deadlock) dalam perhelatan Muktamar seringkali dipicu oleh upaya salah satu pihak untuk mengubah tata tertib demi menjegal kandidat lain.

“Itu di Lampung relatif smooth karena gaada orang ribut tata tertib. Yaudah aturannya kayak apa, ayo berdasarkan aturan itu,” tambahnya.

Menurutnya siapapun kandidat boleh mencalonkan diri, selama mengikuti proses aturan yang ada.

“Kenapa ada calon yang harus dibatasi? Kenapa ada calon yang harus dicegat, pokoknya enggak boleh dia? Enggak bisa begitu. Ini semua kader. Game-nya kita jalankan sesuai dengan rules yang ada,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, Gus Yahya juga menyoroti peningkatan kesadaran dan bargaining pengurus cabang (PCNU) dalam menentukan arah kepemimpinan NU ke depan. Ia menilai dinamika harga suara yang kian mahal di tingkat cabang sebagai indikasi bahwa pemilik suara kini merasa lebih bermartabat dan memiliki posisi tawar yang kuat.

Mengenai bursa calon Ketua Umum maupun kandidat Rais Aam, Gus Yahya menekankan pentingnya figur yang tampil atas dasar kapasitas dan kualifikasi keilmuan mandiri, bukan sekadar dorongan sponsor atau modal finansial.

“Bukan hanya didorong-dorong orang, bukan hanya karena dimodali orang, bukan hanya karena begitu-begitu, tapi dia sendiri ini kapasitasnya kayak apa,” pungkasnya.

(Anisa)

Leave A Reply

Your email address will not be published.