Golf Cart dan Cara NU Memuliakan Tamu

0

RISALAH NU ONLINE, JOMBANG – Hal pertama yang menarik perhatian saya di Muktamar ke-35 NU justru bukan panggung, pidato, atau hiruk-pikuk persidangan.

Melainkan sebuah golf cart.

Kendaraan kecil itu hilir mudik mengantar peserta dari penginapan menuju arena Muktamar. Yang menarik, ia bukan sekadar fasilitas tambahan. Golf cart menjadi salah satu sarana penting untuk mobilitas para kiai, terutama para kiai sepuh, dari tempat penginapan menuju arena Muktamar.

Ada sesuatu yang khas NU dari pemandangan itu. Seorang kiai sepuh turun dari golf cart, kemudian disambut panitia dan santri. Tidak ada kemewahan yang berlebihan. Tetapi ada penghormatan.

Di tengah Muktamar yang melibatkan lebih dari 2.800 peserta, detail semacam ini justru terasa penting.

Sebab skalanya memang luar biasa. Presiden hadir membuka Muktamar. Lebih dari 2.800 peserta mengikuti forum utama, sementara Rombongan Lillahi Ta’ala (Romlah) yang datang untuk meramaikan Muktamar mencapai lebih dari 50.000 orang.

Mengelola manusia sebanyak itu tentu bukan pekerjaan sederhana.

Karena itu, hal yang patut diapresiasi bukan hanya kemampuannya mengumpulkan massa dalam jumlah besar, tetapi juga bagaimana seluruh kegiatan dikelola dengan tata kelola yang semakin tertib, terukur, dan akuntabel.

Salah satu contohnya adalah sistem identifikasi peserta. Setiap peserta memiliki ID card yang dilengkapi QR code. Kartu tersebut digunakan untuk melakukan pemindaian ketika memasuki arena persidangan.

Kelihatannya sederhana. Tetapi dalam sebuah forum sebesar Muktamar, sistem ini penting.

Ia membantu memastikan siapa yang memiliki akses ke ruang persidangan, mengurangi potensi akses yang tidak semestinya, sekaligus menciptakan pencatatan kehadiran yang lebih terukur. Dengan jumlah peserta ribuan dan agenda persidangan yang padat, digitalisasi registrasi dan kontrol akses seperti ini membuat pengelolaan peserta jauh lebih mudah dipantau.

Prinsip yang sama terlihat dalam pengelolaan fasilitas.

Sembilan tower disiapkan sebagai tempat akomodasi. Ruang-ruang kelas yang biasanya digunakan untuk kegiatan belajar disulap menjadi ruang inap dan ditata sedemikian rupa agar memberikan kenyamanan layaknya penginapan.

Tentu saja, kita tidak sedang membandingkannya dengan hotel berbintang.

Yang menarik justru kemampuan mengubah ruang yang ada menjadi tempat tinggal yang layak bagi ribuan tamu.

Dan kemudian ada para santri.

Mereka seperti menjadi front office Muktamar. Ada di banyak titik, menyambut tamu, mengarahkan peserta, membantu mobilitas, dan menjawab berbagai pertanyaan. Kadang hanya dengan menunjukkan arah atau mengantarkan seseorang ke tempat yang dituju.

Hal-hal seperti ini mungkin tidak akan muncul dalam laporan jumlah peserta.

Tetapi justru pengalaman semacam itulah yang biasanya dibawa pulang oleh orang.

Muktamar juga bukan hanya tentang persidangan. Lebih dari 1.500 UMKM ikut meramaikan bazar. Puluhan ribu orang yang datang menciptakan ruang ekonomi yang hidup bagi para pelaku usaha.

Dengan demikian, Muktamar menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia menjadi perjumpaan sosial, keagamaan, dan ekonomi dalam skala yang sangat besar.

Karena itu, keberhasilan Muktamar rasanya tidak cukup diukur dari siapa yang berpidato, apa yang diputuskan, atau bagaimana dinamika politik organisasinya.

Ukuran lainnya justru ada pada hal-hal sederhana.

Apakah tamu merasa diterima?

Apakah peserta mudah bergerak?

Apakah kiai sepuh mendapatkan perhatian yang layak?

Apakah santri mampu menjadi tuan rumah yang ramah?

Apakah sistem registrasi dan akses berjalan tertib?

Dan apakah masyarakat sekitar ikut merasakan manfaatnya?

Pada titik ini, apresiasi layak diberikan kepada *Organizing Committee (OC)* dan seluruh pihak yang bekerja di balik layar. Sebab acara sebesar ini tidak mungkin lahir dari kerja satu-dua orang. Ada perencanaan, koordinasi, teknologi, logistik, transportasi, akomodasi, keamanan, konsumsi, hingga pelayanan tamu yang harus berjalan hampir bersamaan.

Muktamar mengingatkan kita pada satu prinsip sederhana: pekerjaan besar harus dikerjakan oleh orang-orang yang memang ahli di bidangnya.

Golf cart itu mungkin hanya kendaraan kecil. Tetapi di baliknya ada perencanaan mobilitas. QR code di kartu peserta mungkin hanya terlihat sebagai kotak hitam-putih. Tetapi di baliknya ada sistem. Ruang kelas yang berubah menjadi kamar juga bukan sekadar soal menata kasur, melainkan pekerjaan logistik yang membutuhkan ketelitian.

Begitulah sebuah Muktamar besar sesungguhnya bekerja.

Yang terlihat publik adalah panggungnya. Yang membuat semuanya berjalan adalah ribuan orang yang bekerja di belakang panggung.

Dan kepada merekalah apresiasi itu layak diberikan.

Sebab menjadi tuan rumah bagi puluhan ribu warga NU bukan hanya tentang kemampuan menggelar acara besar.

 

Ia tentang bagaimana membuat setiap tamu merasa diterima, dilayani, dan dimuliakan—dengan keramahan, ketertiban, dan profesionalisme.

Dan mungkin, justru dari sebuah golf cart kecil, kita bisa melihat wajah besar Muktamar NU kali ini.

Alfaqir-CSR

(Choirul Sholeh Rasyid)

Leave A Reply

Your email address will not be published.