RISALAH NU ONLINE, JOMBANG — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Kiai Kikin), mengajak seluruh pengelola pesantren dan akademisi ilmu hadis untuk menghidupkan kembali tradisi keteladanan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang konsisten turun mengajar ke masyarakat kampung setiap hari Selasa.
Pesan tersebut disampaikannya saat membuka acara International Conference on Hadith Studies Muktamar Turost Nabawi (MUTUN 2026) dan Annual Meeting Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Senin (5/10/2026).
Kegiatan ilmiah internasional yang berlangsung pada 5–7 Oktober 2026 ini mengusung tema “Developing Hadith Studies in Pesantren: From the Tradition of Transmission toward the Production of Contemporary Knowledge.”
Dalam pidato sambutannya, Kiai Kikin mengungkapkan latar belakang sejarah di balik tradisi libur mengajar setiap hari Selasa di Pondok Pesantren Tebuireng. Libur tersebut bukanlah sekadar jeda istirahat biasa, melainkan momentum bagi Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk terjun langsung membimbing masyarakat di pedesaan.
“Di Tebuireng itu kalau hari Selasa itu enggak ngaji. Dan sekarang karena mencontoh Hadratussyaikh enggak ngaji, ya sekarang libur betulan menikmati liburnya. Nah, tapi yang dicontoh untuk terjun ke masyarakat, nah barangkali ini nanti bisa dihidupkan lagi,” ujar Kiai Kikin di hadapan para peserta muktamar.
Kiai Kikin menceritakan bagaimana pendiri Nahdlatul Ulama tersebut membeli sebidang tanah sawah, namun alih-alih berfokus pada urusan pertanian pribadi, beliau justru memanfaatkannya untuk merangkul dan mengedukasi warga sekitar.
“Apa yang dilakukan, beliau ke masyarakat bukan ngurusi sawahnya, tetapi ngurusi masyarakatnya. Beliau ajarkan bagaimana bercocok tanam yang baik, meningkatkan ekonomi masyarakat, kemudian beliau ajarkan ilmu-ilmu agama, dan kemudian mendirikan majelis taklim,” tuturnya.
Beliau menambahkan bahwa jejak-jejak pengabdian masyarakat setiap hari Selasa tersebut ditemukan di berbagai wilayah, mulai dari Banyuwangi, Ponorogo, hingga Bandung.
Lebih lanjut, Kiai Kikin menegaskan bahwa penguasaan ilmu hadis merupakan fondasi penting bagi para pendakwah dan akademisi saat terjun ke tengah masyarakat. Ilmu hadis memberikan argumentasi yang kuat dalam menyampaikan ajaran Islam yang merangkul dan menyatukan.
“Barang siapa menguasai hadis, akan kuat argumennya. Oleh karena itu, di dalam bermasyarakat, yang paling cocok adalah siapa yang menguasai hadis,” tegasnya.
Melalui pembukaan MUTUN 2026 dan Pertemuan Tahunan ASILHA ini, Kiai Kikin berharap agar Ma’had Aly dan para ahli hadis dapat memadukan tradisi sanad dan pemikiran turats untuk diaplikasikan secara nyata dalam membina ukhuwah (persaudaraan) dan menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat modern.
(Anisa)