RISALAH NU ONLINE, JOMBANG — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Kiai Kikin), menyoroti fenomena “NU Paradoks” saat membuka acara International Conference on Hadith Studies Muktamar Turots Nabawi (MUTUN 2026) dan Annual Meeting Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Senin (5/10/2026).
Dalam sambutannya, Kiai Kikin menceritakan pengalamannya saat diberikan sebuah buku karya Prabowo Subianto yang berjudul Indonesia Paradox. Beliau mengungkapkan pernah menyampaikan secara langsung kepada Prabowo bahwa situasi serupa juga terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama.
“Ada bukunya Pak Prabowo, saya diberikan satu buku yang judulnya Indonesia Paradox. Dalam satu kesempatan pada saat di acara Nahdlatul Ulama, saya sampaikan kepada beliau, ‘Pak, ini NU paradoks juga ini’,” ujar Kiai Kikin di hadapan para peserta muktamar.
Kiai Kikin menjelaskan bahwa bentuk paradoks di NU terletak pada besarnya potensi basis massa yang dimiliki, namun belum mampu dioptimalkan secara maksimal untuk kemaslahatan umat. Berdasarkan data survei, jumlah warga Nahdliyin diperkirakan mencapai sekitar 57,8 persen dari total umat Islam Indonesia, atau setara dengan lebih dari 140 juta jiwa.
Namun, beliau menyoroti ketimpangan antara jumlah warga Nahdliyin yang sangat besar dengan kapasitas pengurus di tingkat struktural PBNU yang amat terbatas.
“Struktur itu hanya bagaimana ia menjalankan organisasi. Ini jumlahnya hanya 210 untuk ngurusi 140 sekian juta warga Nahdliyin ini,” jelasnya.
Oleh karena itu, setelah diamanahi tanggung jawab sebagai Ketua Umum PBNU, Kiai Kikin menegaskan tugas besar bersama adalah menyatukan potensi, pemikiran, dan kekuatan warga NU tanpa terbatas pada sekat-sekat struktural. Beliau mendorong penguatan ukhuwah (persaudaraan) serta jejaring keilmuan pesantren agar potensi besar tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi bangsa dan dunia.
“Ini tanggung jawab kita semuanya. Kita memiliki potensi itu, kita memiliki kemampuan itu, kita perlu kebersamaan untuk kemudian kita membangun, untuk kita menjaga Izzul Islam wal Muslimin,” pungkasnya.
(Anisa)