Muqarrabin dan Abrar: Dua Jalan Menuju Ridha Allah

0

Pada edisi yang lalu kita telah mengkaji wasiat Syaikh Yusuf al-Razi mengenai bagaimana seorang salik perlu selektif dalam membangun lingkungan pergaulan. Sebab, interaksi sosial pada dasarnya memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan kualitas spiritual seseorang.

Peringatan untuk tidak bergaul dengan orang yang bertentangan tabiat sebagaimana ditegaskan oleh Yusuf al-Razi di atas bukan dimaksudkan sebagai ajakan menjauhi mereka yang berbeda pendapat. Namun, hal itu dimaksudkan sebagai upaya menghindari lingkungan yang membawa pengaruh negatif dan berpotensi menghambat proses pensucian jiwa.

Pada edisi ini, kita akan melanjutkan pembahasan yang masih dalam ruang lingkup tasawuf, hanya saja highlight yang disorot adalah bagaimana menghindari diri dari sikap meremehkan orang lain yang istiqamah beribadah. Meskipun, secara dzahir yang bersangkutan orang awam yang tidak memiliki tanda-tanda kewalian, atau bukan seorang ahli makrifat. Karena itu, Syaikh Ibnu Athaillah al-Sakandari menegaskan dalam maqalahnya:

إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ، وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلَا تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلَاهُ؛ لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ، وَلَا بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ، فَلَوْلَا وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.

Jika engkau melihat seorang hamba yang telah ditetapkan oleh Allah untuk senantiasa mengamalkan wirid, dan Dia mengistiqamahkannya dalam keadaan secara terus-menerus, maka janganlah sekali-kali engkau meremehkan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya, hanya karena engkau tidak melihat padanya tanda-tanda ahli makrifat, serta tidak pula melihat tanda orang-orang yang mencintai Allah. Sebab, seandainya tidak ada warid, niscaya tidak akan pernah ada wirid. (Syarah Hikam li Ibni Abbâd al-Nafazî, Juz: 01, hal: 61).

Sebelum membahas lebih jauh, penulis ingin menjelaskan terlebih dahulu perbedaan warid dengan wirid sebagaimana disebutkan dalam maqolah di atas. Secara bahasa, warid adalah sesuatu yang datang atau sesuatu yang menghampiri. Dalam kajian tasawuf, warid adalah pancaran, bak berupa cahaya, ilham, ketenangan, dan atau rahmat Allah s.w.t. yang diberikan kepada hamba-Nya. Sedangkan wirid secara bahasa adalah tempat atau jalan menuju mata air. Secara istilah, wirid merupakan aktivitas yang terwujud dalam amal ibadah, baik ketaatan maupun riyadhah yang dilakukan oleh seorang hamba.

Dalam pandangan logika orang awam, wirid seringkali didahulukan daripada warid, karena logika tersebut terikat oleh paradigma hukum kausalitas atau hukum sebab akibat. Contoh sederhana dari logika ini adalah jika seseorang beribadah, tentu Allah akan membari hidayah atau karunia kepada yang bersangkutan. Tetapi, Ibnu Athaillah al-Sakandari punya paradigma berbeda mengenai warid dan wirid ini. Ia menegaskan bahwa warid mendahului wirid dengan argumen bahwa seseorang tidak akan pernah mampu, apalagi istiqamah untuk menjalankan qiyamul lail jika tidak ada taufiq dan maunah dari Allah s.w.t.. Bagi Ibnu Athaillah, keinginan yang kuat untuk istiqamah menjalankan aktivitas qiyamul lail itulah yang disebut sebagai warid atau rahmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.

Karena itulah, pada saat yang sama, Ibnu Abbâd al-Nafazî memberikan komentar atas maqolah Ibnu Athaillah di atas dengan pernyataan menarik.

عِبَادُ اللَّهِ الْمَخْصُوصُونَ يَنْقَسِمُونَ إِلَى قِسْمَيْنِ: مُقَرَّبِينَ وَأَبْرَارٍ. فَالْمُقَرَّبُونَ هُمُ الَّذِينَ أُخِذُوا عَنْ حُظُوظِهِمْ وَإِرَادَتِهِمْ، وَاسْتُعْمِلُوا فِي الْقِيَامِ بِحُقُوقِ رَبِّهِمْ عُبُودِيَّةً لَهُ وَطَلَبًا لِمَرْضَاتِهِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الْعَارِفُونَ وَالْمُحِبُّونَ. وَالْأَبْرَارُ هُمُ الَّذِينَ بَقُوا مَعَ حُظُوظِهِمْ وَإِرَادَتِهِمْ، وَأُقِيمُوا فِي الْأَعْمَالِ وَالطَّاعَاتِ لِيُجْزَوْا عَلَيْهَا بِرَفِيعِ الدَّرَجَاتِ فِي الْجَنَّاتِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الزَّاهِدُونَ وَالْعَابِدُونَ. وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَمْدُودٌ فِي مَقَامِهِ الَّذِي هُوَ فِيهِ بِمَدَدٍ إِلَهِيٍّ، اقْتَضَى مِنْهُمُ الْقِيَامَ بِحُقُوقِ مَقَامَاتِهِمْ عَلَى اخْتِلَافِهَا.

Hamba-hamba Allah yang khusus terbagi menjadi dua golongan, yaitu muqarrabin dan Abrar. Adapun muqarrabin adalah orang-orang yang telah dilepaskan dari nafsu dan kehendak pribadi mereka. Mereka digerakkan untuk melaksanakan hak-hak Allah semata-mata sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya dan demi mencari ridha-Nya. Mereka inilah yang disebut sebagai orang-orang yang arif dan muhibbin. Sedangkan abrar adalah orang-orang yang masih terikat oleh nafsu dan kehendak pribadinya. Mereka ditempatkan dalam amal-amal dan ketaatan agar mereka dibalas atas amal tersebut dengan derajat yang tinggi di dalam surga-surga. Mereka inilah yang disebut sebagai ahli zuhud dan ahli ibadah. Setiap orang dari mereka itu senantiasa disokong pada kedudukan di mana ia berada dengan pertolongan Allah yang menuntut mereka untuk melaksanakan hak-hak kedudukan mereka, meskipun terdapat perbedaan di antara kedudukan tersebut. (Syarah Hikam li Ibni Abbâd al-Nafazî, Juz: 01, hal: 62).

Dari pernyataan Ibnu Abbad al-Nafazi sebagai respons atas maqolah Ibnu Athaillah al-Sakandari, ada dua golongan dalam menempatkan posisi warid dan wirid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah s.w.t.. Kelompok pertama adalah al-Muqarrabîn, yaitu hamba yang beribadah kepada Allah s.w.t. karena cinta yang tulus kepada-Nya. Kelompok ini tidak lagi memikirkan untung rugi atau pahala untuk dirinya sendiri. Karena itulah kelompok ini dalam istilah Ibnu Abbâd al-Nafazî dikenal sebagai ahli makrifat dan atau muhibbin. Kelompok pertama ini punya atribusi yang menjadi distingsi dengan kelompok setelahnya, yaitu lenyapnya al-Hudzûdz atau pamrih pribadi dan irâdah atau kehendak pribadi dalam beribadah kepada Allah.

Dari uraian di atas, kita bisa melihat bahwa dalam konteks pelaksanaan ibadah, pijakan mereka bukan lagi reward and punishment atau surga dan neraka, melainkan mengharapakan keridhaan Allah s.w.t.. Hal ini senada dengan pesan yang disampaikan oleh hadits berikut:

 عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَقُولُونَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ فَيَقُولُ هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى يَا رَبِّ وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَلَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُونَ يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا

​Dari Abu Said al-Khudri r.a. menginformasikan bahwa Nabi s.a.w. bersabda: Sesunngguhnya Allah s.w.t. berfirman kepada pendududuk  surga: “Wahai penduduk surga!”. Mereka menjawab: “Kami penuhi panggilan-Mu ya Tuhan kami dan segala kebaikan berada di dalam kekuasaan-Mu”. Allah berfirman: “Apakah kalian telah ridha?”. Mereka menjawab: “Bagaimana kami tidak ridha wahai Tuhan kami, padahal Engkau telah memberikan kami apa yang tidak pernah Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu”. Allah berfirman: “Maukah Aku berikan kepada kalian anugerah yang lebih utama dari semua itu?”. ​Mereka bertanya: “Wahai Tuhan kami, hal apakah yang lebih utama dari itu semua?”. ​Allah berfirman: “Aku melimpahkan keridhaan-Ku kepada kalian, sehingga Aku tidak akan pernah murka kepada kalian setelah ini untuk selama-lamanya”. (HR. Muslim, 2829).

Kelompok kedua adalah al-Abrâr, yaitu hamba yang beribadah kepada Allah s.w.t. yang masih digerakkan oleh irâdah atau kehendak pribadi. Dalam kaitannya dengan ibadah, kelompok ini masih terikat oleh “transaksi keuntungan” seperti pahala, derajat di surga, dan keselamatan dari belenggu api neraka. Kelompok yang kedua ini dikenal dengan sebutan al-Zâhidûn atau orang yang menjauhi kemewahan dunia dan al-‘Âbidûn atau ahli ibadah yang istiqamah. Jika ada pertanyaan, apakah kita bisa memilih menjadi kelompok ini? Jawabannya adalah bisa dan sah, sebab mengharap pahala surga dan atau takut siksa neraka adalah wujud keyakinan pada janji Allah. Para nabi dan rasul pun berdoa meminta surga dan perlindungan dari neraka, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. (QS. Al-Isra’: 17: 57).

Dari penjelasan di atas kita bisa memahami bahwa baik al-Muqarrabîn atau al-Abrâr merupakan kedudukan dan kelompok yang sah serta diridhai oleh Allah s.w.t.. Keduanya merupakan kelompok yang makhshûshûn di hadapan-Nya, meskipun keduanya mempunyai kapasitas dan jalan yang berbeda, namun bermuara di tempat yang sama, yaitu Allah s.w.t.. Bagi kelompok al-Muqarrabîn, Allah s.w.t. merupakan Dzat yang menganugerahkan energi berupa mahabbah dan rahmat agar seorang hamba mampu malakukan ibadah dengan ikhlas. Sedangkan bagi kelompok al-Abrâr, Allah s.w.t. merupakan Dzat yang menyuplai energi berupa keistiqamahan dalam beribadah, sehingga mereka punya motivasi untuk masuk surga dan atau terhindar dari belenggu api neraka.

Dengan demikian, apabila dalam realitas sosial kita melihat seseorang yang selalu istiqamah dalam melakukan ibadah dan wiridan, maka pada hakikatnya, Allah s.w.t. telah menempatkannya ke dalam derajat itu. Ia telah dipilih oleh-Nya untuk melakukan kebaikan-kebaikan secara istiqamah dengan mudah. Karena itu, tidak patut bagi kita untuk meremehkannya, lantaran kita tidak melihat pada dirnya tanda-tanda ahli makrifat. Walau bagaimanapun, hanya Allah s.w.t. yang Maha Mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertakwa dan ikhlas dalam beribadah demi mengharap ridha-Nya.

 

ٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. Al-Najm, 53:32).

 

(Transkip Pengajian Syarah Hikam oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar pertemuan ke – 113 live dari Channel Youtube multimedia kiaimiftach).

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.