Etika Bergaul dalam Perspektif Tasawuf

0

Pada edisi yang lalu, kita telah mengkaji tema yang secara lugas membahas sikap istiqamah yang harus dimiliki oleh para pelaku lampah tasawuf. Dalam tasawuf sendiri, istiqamah mempunyai kedudukan yang cukup tinggi, yang bahkan melampaui derajat karamah. Untuk itu, para ulama tasawuf menempatkan posisi istiqamah di atas karamah bukan tanpa alasan yang jelas. Salah satu alasan yang paling mudah diterima oleh kita adalah bahwa perjalanan spiritual dalam ruang lingkup tasawuf bukanlah untuk memperoleh karomah yang luar bisa seperti berjalan di atas air misalnya, atau shalat di atas ranting pohon. Lebih dari itu, tujuan utama perjalanan tasawuf seseorang adalah bagaimana ia menyempurnakan penghambaannya terhadap Allah s.w.t. dengan dzikir dan ibadah lainnya secara istiqamah.

Pada edisi ini kita akan membahas tema lain yang tidak kalah menarik, yaitu bagaimana mencari teman yang membuat kita termotivasi untuk berbuat baik dan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah s.w.t.. Kajian ini kita mulai dengan sebuah maqalah yang berbunyi:

لَا تُصْحِبْ مَنْ لَا يَنْهَضُكَ حَالُهُ. وَمِنْ ذَلِكَ أَيْضًا مُعَاشَرَتُهُ لِلأَْحْدَاثِ وَالشُّبَّانِ وَقَبُولُ إِرْفَاقِ النِّسْوَانِ، فَإِنْ تَعَرَّضَ لِاسْتِجْلَابِ ذَلِكَ مِنْهُنَّ فَهُوَ أَشَدُّ.

“Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membuatmu bangkit (dalam kebaikan). Termasuk dalam hal itu adalah bergaul secara dekat dengan para pemuda atau orang-orang yang masih belia, serta menerima pelayanan atau perhatian dari kaum perempuan. Apabila seseorang bahkan berusaha mencari-cari atau mengupayakan perhatian dan pelayanan semacam itu dari mereka, maka hal tersebut lebih berbahaya lagi”. (Syarah Hikam li Ibni Abbâd al-Nafazî, Juz: 01, hal: 61).

Di sini Syaikh Ibnu Athaillah al-Sakandari menegaskan bahwa seseorang yang sedang melakukan laku lampah tasawuf harus memiliki etika dalam pergaulan. Namun yang perlu digari-bawahi di sini adalah bahwa tasawuf tidak melarang para pelakunya untuk berinteraksi sosial dalam arti yang sempit. Karena, secara kodrati, manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin alpha dari interakasi sosial. Hanya saja, di sini tasawuf memberikan koridor dan pengawasan agar para salik tidak terjerumus ke dalam hubungan sosial yang berpotensi mengganggu perjalanan spiritualnya. Pergaulan atau yang dalam bahasa Arab sering disebut “Suhbah”  tidak semata-mata dipahami sebagai sebagai hubungan sosial. Dalam kaca mata tasawuf, suhbah merupakan proses pertukaran pengaruh spiritual antara satu individu dengan individu yang lain.

Contoh sederhana mengenai suhbah yang dipahami sebagai proses pertukaran pengaruh spiritual bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang baik dan shaleh, sedikit banyak akan berpengaruh pada dirinya. Ia akan menjadi orang shaleh karena termotivasi oleh lingkungan yang membentuknya menjadi shaleh. Sebaliknya, seseorang yang berada di tengah lingkungan yang buruk, maka ia kan termotivasi untuk melakukan keburukan juga. Karena itu, tabiat atau watak seseorang dibentuk dari lingkungan tempat ia melakukan pergaulan. Rasulullah s.a.w. bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya sebagai sahabat dekat. (HR. Abu Daud, 4833, dan Ahmad, 8398).

Dalam hadits yang lain Rasulullah s.a.w. memberikan perumpamaan mengenai seseorang yang bergaul dengan orang-orang shaleh dan seseorang yang bergaul dengan orang-orang yang buruk seperti orang yang bersahabat dengan penjual parfum dan tukang las. Diumpamakan demikian, karena apabila seseorang yang dalam kesehariannya bergaul dengan penjual parfum, maka sedikit banyak ia akan memperoleh bau harum, entah karena membeli atau diberi hadiah berupa parfum tersebut. Sebaliknya, orang yang yang bergaul dengan tukang las, maka sedikit banyak ia akan terkena cipratan api atau bau akibat asap pembakaran bahannya. Namun yang perlu dipahami di sini adalah bahwa bukan berarti pekerjaan tukang las itu buruk. Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari tukang las.

Pada satu sisi, kita tetap membutuhkan tukang las untuk memperbaiki perkakas rumah tangga seperti pagar besi, pintu gerbang, dan lain sebagainya. Ini hanya perumpamaan saja, bahwa dengan siapapun kita bergaul, maka kita akan mendapatkan konsekuensi logisnya.

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِكَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ. فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً.

Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak kasturi dan pandai besi yang meniup tungku (tukang las). Pembawa minyak kasturi, boleh jadi ia memberimu minyak kasturi, atau engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi yang meniup tungku, boleh jadi ia membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya. (HR. Bukhari, 2101, Muslim, 2628).

Setiap pergaulan yang kita lakukan mempunyai konsekuensi logis yang dampaknya cepat atau lambat akan kita rasakan. Dalam hal ini, Syaikh Yusuf Husain al-Razi menegaskan bahwa ada tiga penyakit yang seringkali menggerogoti para pelaku lampah tasawuf, yaitu (1) bergaul dengan para remaja, (2) berinteraksi dengan orang-orang yang berlawanan secara tabiat dan karakter, dan (3) menerima pelayanan dari perempuan.

قَالَ يُوسُفُ بْنُ الْحُسَيْنِ الرَّازِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: رَأَيْتُ آفَاتِ الصُّوفِيَّةِ فِي صُحْبَةِ الْأَحْدَاثِ، وَمُعَاشَرَةِ الْأَضْدَادِ، وَرِفْقِ النِّسْوَانِ.

Yusuf bin al-Husain al-Razi r.a. berkata: Aku melihat berbagai macam penyakit dan bahaya yang dapat menimpa kaum sufi terdapat dalam tiga hal: bergaul dengan para pemuda, berinteraksi dengan orang-orang yang berlawanan, serta menerima pelayanan dari kaum perempuan. (Syarah Hikam li Ibni Abbâd al-Nafazî, Juz: 01, hal: 61).

Bila dipahami secara mendalam, pernyataan Yusuf al-Razi di atas mengandung beberapa pelajaran yang apabila diselami maka akan ditemukan mutiara hikmah yang luar biasa. Bagi Yusuf al-Razi, seorang yang melakukan lampah tasawuf agar menghindari diri untuk bergaul dengan para remaja yang tidak punya daya kontrol yang kuat. Karena dalam realitas kehidupan, remaja meskipun tidak semuanya identik dengan sosok yang selalu mengedepankan ego daripada nalar. Hal itu terjadi karena remaja adalah peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini, kaum remaja mulai memiliki kebebasan, kemampuan fisik, dan ego yang tinggi dalam mengambil keputusan dengan pengalaman yang minim. Karena itu, banyak dijumpai para remaja sering kali terjebak ke dalam pengambilan keputusan yang absurd bahkan tidak masuk akal sama sekali.

Yusuf al-Razi juga memberikan warning bahwa pelaku lampah tasawuf jangan sampai terjerumus ke dalam pergaulan dengan orang-orang yang berlawanan secara tabiat dan karakter. Pernyataan di atas jangan sampai dipahami sebagai legitimasi untuk menjauhkan diri dari orang-orang yang tidak sependapat, bukan itu maksudnya. Pernyataan al-Razi di atas lebih kepada dorongan untuk tidak bergaul dengan orang yang toxic yang berpengaruh buruk terhadap mental. Misalnya, seseorang yang sedang berusaha membangun sifat zuhud dalam dirinya karena ia melakukan laku lampah tasawuf, namun lingkungan di sekitaranya justru mendorongnya untuk bersikap materialistik. Tentu saja ini akan mengganggu perjalanan laku tasawuf orang yang bersangkutan. Karena, menjadikan lingkungan yang bertentangan dengan nilai tasawuf yang sedang dijalani sebagai lingkungan intim, lambat laut akan membentuk kepribadiannya.

Selanjutnya yang terakhir, Yusuf al-Razi juga memberikan notice kepada para pelaku lampah tasawuf untuk tidak menerima pelayanan perempuan. Hal ini bukan berarti interaksi laki-laki dan perempuan dalam pandangan Islam merupakan sesuatu yang tercela. Justru, yang menjadi perhatian dari al-Razi di sini adalah ketergantungan atas nikmat yang lahir dari pelayanan tersebut. Apalagi, jika sampai menjadikan pelayanan yang diberikan perempuan yang dalam hal ini istri menjadi sumber kenyamanan spiritual. Jika hal itu dijadikan sebagai sumber kenyamanan, maka ia telah menaruh ketergantungan kepada selain Allah s.w.t.. Dengan demikian, maka usaha yang dilakukan seseorang dalam mengarungi jalan tasawuf menjadi sia-sia.

Walhasil, suhbah atau interaksi baik antara individu maupun sosial dalam kacamata tasawuf merupakan proses pertukaran pengaruh spiritual yang menentukan kualitas laku lampah seorang salik. Dalam hal ini, Syaikh Ibnu Athaillah al-Sakandari dan Yusuf al-Razi, menegaskan bahwa ada tiga potensi bahaya dalam pergaulan yang perlu diwaspadai, yaitu kedekatan dengan kaum muda yang minim kendali diri, interaksi dengan individu yang berlawanan tabiat, serta ketergantungan pada pelayanan perempuan. Ketiga hal tersebut bukan hendak menjauhkan seorang salik dari interaksi sosial, melainkan sebagai koridor agar hubungan yang dijalin senantiasa mendukung, bukan mengganggu, kesempurnaan penghambaannya kepada Allah s.w.t.. Wallahu A’lam.

 

(Transkip Pengajian Syarah Hikam oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar pertemuan ke – 112 live dari Channel Youtube multimedia kiaimiftach).

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.