Muktamar NU ke 25 di Gedung Muallimat NU Wonokromo, Surabaya, paling banyak menarik perhatian masyarakat. Muktamar ini semacam muktamar percepatan dan membahas hasil Pemilu yang sangat mengejutkan NU. Partai ulama itu hanya mendadapatkan kursi terbanyak kedua dibanding Golkar yang melanggeng kencang.
NU yang hampir dibilang menguasai perpolitikan di tanah air di akhir pemerintahan Orde Lama itu hampir tak percaya jika mengalami kegagalan. NU sebelumnya memperoleh kursi hampir imbang dengan PNI (partai penguasa) di zaman Soekarno setelah dibubarkannya Masyumi. NU ternyata hanya dipilih 10,23 juta dengan perolehan 58 kursi. Sementara Golkar dengan 34,348 juta suara dengan 236 kursi. PNI yang selama ini memimpin parlemen hancur menjadi pemenang keempat dengan 6,93% atau hanya 20 kursi. Parmusi yang dianggap wajah baru Masyumi dipilih 5,36% suara dengan 24 kursi.
Gulana itu juga dibarengi dengan semakin sepuhnya Rais Am PBNU KHA Wahab Hasbullah yang kala itu juga dalam kondisi sakit parah. Ulama yang dilahirkan di lingkungan pesantren Tambakberas Jombang pada 13 Maret 1888 dari pasangan KH Hasbullah Said dan Nyai Latifah, tercatat telah berusia 88 tahun. Menjelang Muktamar NU ke-25 di Surabaya yang diselenggarakan 20-25 Desember 1971 itu kondisi KH. Abdul Wahab Hasbullah sudah sangat uzur dan tengah sakit keras. Jika KHM Hasyim Asy’ari dianggap pemimpin NU, Kiai Wahab Hasbullah adalah pemilik NU.
Berita sakit Mbah Wahab telah menyebar. Beberapa peserta muktamar yang datang melalui jalan darat menyempatkan sowan ke Mbah Wahab di Jombang sebelum ke Surabaya. KH Bisri Sansuri sendiri (iparnya) berbisik kepada Kiai Wahab. “Panjenengan harus sembuh karena masih punya hutang pertanggungjawaban ke muktamar,” selorohnya. Mbah Wahab berusaha tersenyum sambil mengangguk.
Beberapa riwayat mencatat bahwa dalam keadaan naza’ itu Kiai Wahab meminta kemenakannya Kiai Sholeh Abdul Hamid mengumpulkan semua santri untuk membacakan surah Yasin. “Jangan berhenti baca Yasin sampai aku mengucapkan dua kalimat Syahadat,” kata Mbah Wahab.
Setelah bacaan Yasin berhenti dan beliau bersyahadat. Gemuruh tangis. Tapi, tiba-tiba ia tersenyum dan berkata: “Nggak jadi! aku sudah ngomong-ngomong sama Malaikat Izra’il untuk nanti saja setelah Muktamar! Kalian semua bubar!” Semua gembira dan putera puteriKiai Wahab yang tengah berkumpul di dalem kasepuhan itu sontak memeluk sang ayah. Terutama si bungsu Abdur Raqib yang berusia 17 tahun.
Muktamar benar-benar terlaksana dengan sukses. Banyak peserta menangis melihat Kiai Wahab berpidato tetap dengan semangat tinggi untuk NU. Dalam khutbah iftitahnya Rais Am KH. Abdul Wahab Hasbullah mengajak muktamirin untuk kembali ke Khittah NU 1926 sebagai gerakan sosial-keagamaan. Usul itu kalah, karena mayoritas muktamirin tetap mempertahankan NU sebagai partai politik. Peserta muktamar masih menganggap politik sebagai wadah perjuangan untuk menyampaikan aspirasi umat.
Karena kharisma dan kepemimpinannya yang belum tergantikan, pada muktamar 20-25 Desember 1971 di Surabaya, Kiai Wahab terpilih lagi sebagai Rais Am, meski telah udzur. Selama Muktamar itu Kiai Wahab tidak meninggalkan Surabaya untuk memberi semangat bagi peserta muktamar. Baru setelah muktamar ditutup, Kiai Wahab kembaki ke Jombang dengan ambulan, karena kondisi. Sejak itu Kiai Wahab jarang sekali bicara.
Persis empat hari setelah muktamar, mendung di atas Jombang dan Nusantara. Allah memanggil Kiai Wahab, tepatnya Rabu 12 Dzul Qa’dah 1391 H atau 29 Desember 1971 tepat pukul 10.00 WIB, empat hari setelah muktamar yang ke 25 yang diikutinya. NU berduka. Beberapa tokoh NU memang sengaja mendampingi Kiai Wahab ke Jombang, seperti KHA Syaichu, yang juga anak angkatnya. Beberapa peserta muktamar yang masih menunggu kapal laut atau pesawat menuju daerah asalnya, membatalkan dan langsung menuju Jombang.
Muktamar ke 25 tahun 2026 yang baru lalu di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, seolah kembali menghidupkan semangat KHA Wahab Hasbullah dalam memperjuangkan kejayaan dan kebesaran NU.
KH Hasyim Asy’ari, KHA Wahab Hasbullah dan KH Bisri Sansuri mengawasi jalannya muktamar melalui foto raksasa yang menghiasi muktamar. (MH)