Peran NU dalam Dinamika Geopolitik Global Menuju Abad Kedua: Systematic Literature Review

0

Oleh: Kholifatur Rohmah, Fauzan Adima, Prima Cristi Crismono (Mahasiswa Universitas Islam Jember)

Abstrak

Menyongsong usia abad keduanya pasca-Muktamar ke-35 di Tambakberas, orientasi pergerakan Nahdlatul Ulama (NU) mengalami transformasi mendasar dari entitas sosial-keagamaan lokal menjadi aktor non-negara (non-state actor) yang diperhitungkan dalam arsitektur hubungan internasional.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memetakan bagaimana NU memosisikan serta mengartikulasikan perannya dalam dinamika geopolitik global. Pendekatan kualitatif diterapkan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan bantuan perangkat lunak Publish or Perish pada pangkalan data Google Scholar dan Scopus untuk rentang publikasi 2015–2026. Melalui proses penyaringan kriteria inklusi dan eksklusi, diperoleh

4 artikel primer bereputasi yang dianalisis secara mendalam. Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa manuver geopolitik global NU terartikulasi ke dalam lima pilar tindakan strategis: (1) pelaksanaan diplomasi multi-jalur (multi-track diplomacy) dan kultural melalui jaringan diaspora Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU);

(2) pengarusutamaan konsep Islam Nusantara dan nilai moderasi (wasathiyyah) sebagai antitesis terhadap ekstremisme serta islamofobia; (3) fasilitasi resolusi konflik berbasis kemanusiaan universal (ukhuwwah insaniyyah), khususnya konsistensi advokasi kemerdekaan Palestina; (4) pembaruan hukum Islam melalui rekontekstualisasi fikih peradaban/geopolitik yang selaras dengan piagam PBB dan tatanan hukum internasional modern; serta (5) pelembagaan dialog agama global melalui forum multilateral seperti ICIS dan Religion Twenty (R20) guna mencegah politisasi agama. Di tengah capaian diplomasi global tersebut, riset ini menggarisbawahi urgensi penguatan konsolidasi struktural dan kaderisasi pada badan otonom (banom) tingkat akar rumput (grassroots) agar kemajuan global tetap selaras dengan basis massa nahdliyin di tingkat lokal.

Kata Kunci: Aktor Non-Negara, Diplomasi Multi-Jalur, Fikih Peradaban, Geopolitik Global, Nahdlatul Ulama.

Pendahuluan

Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu lembaga Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini berakar kuat dalam tradisi Islam Ahlussunnah Wal Jamaah dan memiliki karakteristik dakwah yang berbeda. Kelahiran Nahdlatul Ulama bukanlah sebuah awal gerakan organisasi Islam di Indonesia, melainkan puncak dari mata rantai pergerakan sebelumnya, seperti Nahdlatut Tujjar, Nahdlatul Wathan, dan Tashwirul Afkar.

Keterbatasan wadah-wadah rintisan tersebut dalam menjawab tantangan sosial dan keagamaan yang kian kompleks pada masanya mendorong para ulama untuk bersepakat mendirikan organisasi yang lebih komprehensif, yakni Nahdlatul Ulama (kebangkitan Ulama).

Bagi Nahdlatul Ulama, politik hanyalah instrumen demi kemaslahatan umat, bukan muara akhir dari perjuangan. Lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) berakar dari dinamika politik keagamaan internasional dan upaya para ulama tradisionalis melindungi tradisi keagamaan mereka. Dalam lanskap historisnya, keterlibatan internasional tersebut bermula dari respons protektif Komite Hijaz dalam menjaga tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah serta kebebasan bermazhab di kancah global.

 Memasuki usia abad keduanya orientasi pergerakan Nahdlatul Ulama telah bertransformasi secara signifikan dalam memengaruhi tatanan global. Sinergi antara negara pada jalur diplomasi utama dan Nahdlatul Ulama pada jalur diplomasi lapis kedua. Hal ini berhasil membangun relasi strategis yang membawa manfaat mutualisme yang saling memperkuat peran keduanya.

Urgensi dan kematangan peran global tersebut semakin terakselerasi melalui momentum Muktamar ke-35 NU yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang tahun ini. Acara permusyawaratan tertinggi di tanah kelahiran para muassis ini tidak hanya menjadi refleksi historis, melainkan titik tolak konsolidasi arah strategis NU dalam menyongsong abad keduanya Yang mana harus selaras dengan visi dakwah. Nahdlatul Ulama dituntut mempertahankan konsistensi pada tataran ideologis, sembari mengakomodasi transformasi metodologis demi menjaga relevansinya terhadap dinamika kebutuhan masyarakat kontemporer.

Melalui keterlibatan aktif puluhan Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) lintas benua serta peneguhan mandat peradaban dunia, Muktamar Tambakberas mengukuhkan transformasi NU dari gerakan keagamaan lokal menjadi kekuatan diplomasi budaya yang terstruktur di dunia internasional. Oleh karena itu, penelitian secara sistematis terhadap literatur-literatur terkait peran NU dalam geopolitik internasional menjadi kian krusial. Hal ini untuk memetakan capaian, diskursus konseptual, serta arah kontribusi strategis organisasi ini dalam merespons ketegangan politik dan polarisasi peradaban global masa kini.

Meskipun keterlibatan NU di panggung dunia semakin intensif dan semakin terkristalisasi pasca-muktamar, pemetaan komprehensif mengenai struktur literatur ilmiah yang mengkaji fenomena ini masih terbatas. Riset-riset terdahulu kerap berfokus pada dinamika politik domestik atau interaksi lokal-nasional, sementara telaah sistematis mengenai posisi geopolitik global NU sering terfragmentasi dalam studi kasus individual tanpa kerangka evaluasi literatur yang terukur.

Menjawab kekosongan tersebut, kebaruan (novelty) dari penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang secara ketat dan terstruktur memetakan kajian diplomasi NU. Penelitian ini tidak hanya mengumpulkan literatur yang tersebar luas, tetapi juga menawarkan tipologi analitis baru mengenai pergeseran paradigma diplomasi NU, dari artikulasi diskursif yang mengarah pada dinamika kelembagaan multilateral (seperti R20), hingga konsolidasi strategi global menuju abad kedua pasca-Muktamar Tambakberas.

Dengan demikian, kajian ini memberikan kebaruan teoretis sekaligus praktis dalam memposisikan Nahdlatul Ulama bukan lagi sekadar entitas keagamaan lokal, melainkan perumus agenda (agenda-setter) aktif dalam arsitektur geopolitik global. Penelitian ini difokuskan pada sintesis literatur ilmiah mengenai kontribusi strategis Nahdlatul Ulama dalam lanskap hubungan internasional, dengan merumuskan permasalahan utama: Bagaimana Nahdlatul Ulama memposisikan dan mengartikulasikan perannya dalam dinamika geopolitik internasional menuju abad keduanya?

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Systematic Literature Review (SLR) untuk mengidentifikasi, dan menyintesis literatur ilmiah yang relevan dengan topik yang sedang diteliti. Metode SLR dipilih karena dinilai mampu memperoleh data secara komferensif mengenai peran nahdlatul ulama dalam kancah internasional.

Systematic Literature Review (SLR) berfungsi menghimpun serta menyintesis studi terdahulu, sekaligus memetakan celah riset yang perlu dijembatani oleh penelitian terkini. Proses tinjauan ini mengikuti kerangka kerja PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) yang terdiri dari lima tahap utama.

Tahap pertama, identifikasi, dilakukan pencarian literatur yang relevan melalui basis data ilmiah dari sumber data Scopus dan google scular, dengan menggunakan kata kunci spesifik seperti “nahdlatul ulama”, “geopolitik internasional”, dan “politik intersaional” dengan bantuan aplikasi Publish or Perish (PoP) dan scopus AI. Pencarian ini bertujuan untuk memperoleh data yang komferensif dan ilmiah. Tahap ketua merupakan penyaringan terhadap data yang diperoleh dengan dengn menganalisis isi data guna dengan memilah sumber yang hanya berupa artikel. Hal ini dilakukan untuk mempermudah analisis lebih lanjut.

Tahap ketiga, peneliti secara ketat membatasi terhadap pabliksi artikel dengan batas kurun waktu 10 tahun terahir antara thun 2015-2025. Tahap ke empat penyaringan penyaringan secara spesifik dengan mengamati judul, abstarc, dan kata kunci guna mendapatkan artikel yang secara spesifik mengkaji peran nahdlatul ulama dalam geopolitic internasional. Tahap terahir dilakukan dengan menganalisi isi atau pembahasan dari artikel guna mengidentifikasi temuan mengenai peran, pola, dan kontribusi nahdlatul ulama dalam kancah global. Diagram alur PRISMA yang menggambarkan proses penelitian literatur dan seleksi artikel disajikan dalam gambar 1 berikut ini.

Dengan mengikuti proses PRISMA secara sistematis dan didukung oleh literatur terkini yang terindeks bereputasi, penelitian ini diharapkan menghasilkan temuan yang valid, reliabel, dan berkontribusi terhadap nahdlatul ulama.

Hasil dan Pembahasan Hasil

Berdasarkan penerapan kriteria kelayakan dan eliminasi duplikasi, penelitian ini akhirnya menetapkan sebanyak 4 artikel primer terpilih yang dianalisis secara mendalam. Jumlah 4 artikel ini mencerminkan bahwa kajian ilmiah yang secara spesifik mengenai arah gerak NU dalam geopolitik global dan diplomasi internasional saat ini masih tergolong minim jika dibandingkan dengan melimpahnya literatur sosiopolitik domestik. Berikut kami sajikan rangkuman mengenai peran NU dalam dinamika geopolitik internasioal pada masing masing artikel.

  1. artikel berjudul “Global Religious Institutions’ Responses to the Gaza Crisis: Solidarity, Tensions, and Pathways to Interfaith Peace” karya Yuli Andriansyah terbit dalam jurnal Millah 2025

Disebutkan dalam artikel ini bahwa Nahdladul Ulama memgenag peran krusial dalam dinamika geopolitik internasional khususnya dalam merespon krisis kemanusiaan di palestina. Dalam konteks ini peran yang diambil NU dengan mengimplementasikan konsep Fiqh of Civilization (Fikih Peradaban). NU memberikan contoh yurisprodensi secara adaptif dengan mengadaptasi hukum islam klasik kedalam konteks kontemporer melalui konsep fiqih peradaban tersebut. Melalui kerangka fikih tersebut, NU secara aktif mendukung pembukaan koridor bantuan kemanusiaan serta mempromosikan dialog antar agama.

Selain itu nahdlatul ulama juga mempromosikan konsep islam moderat di kancah global. Langkah dan pendekatan NU ini memperoleh perhatian serta dampak sitasi yang tinggi di tingkat internasional. NU mampu menarik perhatian kancah global dengan mempromosikan citra Islam moderat di tengah kekhawatiran global terhadap ekstremisme. Tak berhenti di sini NU berkolebarosi dengan Muhammadiah mengorkestrasi fatwa-fatwa dan upaya integrasi pengungsi atau refugee integrations atas dasar kemanusiaan. NU juga menghubungkan penderitaan rakyat Palestina dengan etos antikolonial bangsa Indonesia, serta menjalin keterhubungan cross-citations dengan platform Organisasi Kerja Sama Islam (OKI/OIC).

  1. artikel berjudul “Multi-Track Diplomacy Fiqh of Nahdlatul Ulama in Countering Islamophobia in the Netherlands” karya Muhammad Taufiq, M. Noor Harisudin, and Maimun terbit dalam jurnal AHKAM 2022

Dalam artikel ini disebutkan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) dalam geopolitik internasional memiliki peran yang sanagt krusial. Nahdatul ulama berperan sebagai diplomasi publik keagamaan untuk meredam diskriminasi terhadap agama islam atau islamofobia, menyebarkan moderasi beragama, serta membangun perdamaian global.

Secara teoritis dan normatif, dalam artikel ini NU memposisikan diri sebagai kerangka fikih siyasah khususnya politik hubungan internasional (al-siyāsah al-dawliyyah al-shar’iyyah) dan maqāṣid al-sharī‘ah demi mewujudkan kemaslahatan publik (maṣlaḥah al-‘āmmah) serta menjaga perdamaian dunia (al-salām al-‘ālamī).

Implementasi peran geopolitik internasional Nahdlatul Ulama (NU) dijalankan secara strategis oleh jaringan diaspora Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda melalui pendekatan multi-track diplomacy. Sebagai aktor non-negara, PCINU Belanda bersinergi dengan Kementerian Luar Negeri RI dan KBRI Den Haag dalam mendukung diplomasi resmi (Track 1 dan Track 2) untuk mempromosikan wajah Islam yang damai di panggung internasional.

Di tingkat akar rumput (Track 4), komunitas NU yang terdiri dari mahasiswa, pekerja, dan profesional berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal Belanda guna mengikis stigma negatif serta mengampanyekan kehidupan yang harmonis.  Penguatan  di  bidang  akademik  (Track  5)  dilakukan  melalui penyelenggaraan konferensi internasional dua tahunan bekerja sama dengan universitas ternama, seperti Vrije Universiteit Amsterdam (2017) dan Radboud University (2019), untuk mendiskusikan gagasan Islam Nusantara dan moderasi beragama (al-wasathiyyah) di kalangan akademisi Barat.

Selain itu, PCINU Belanda aktif dalam advokasi dan dialog antaragama (Track 6) melalui keterlibatan di Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) guna menjembatani kesepahaman antarumat beriman. Pada ranah lembaga keagamaan global (Track 7), PCINU Belanda berkolaborasi dengan European Council for Fatwa and Research dalam perumusan pandangan keagamaan yang relevan bagi masyarakat Muslim di Eropa.

Upaya ini ditopang oleh pembentukan opini publik dan media global (Track 9) melalui penggalangan platform digital untuk menangkal pembingkaian negatif media Barat terhadap Islam. Narasi diplomasi tersebut disempurnakan melalui pendekatan seni dan budaya, seperti pameran foto masjid Nusantara serta pertunjukan seni bersama kelompok Ki Ageng Ganjur oleh Lesbumi, yang secara efektif memperkenalkan tradisi Islam yang toleran.

  1. Artikel berjudul “The Role of Nahdlatul Ulama’ (NU) Diplomacy in Promoting Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Exegesis to Strengthen Indonesian State-Religion Concepts: A Study of Gus Dur’s Thought” karya Abdul Basid DKK terbit dalam jurnal JITC 2024

Dalam artikel ini disebutkan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) memainkan peran strategis dalam dinamika geopolitik internasional melalui (track two diplomacy) dan konsistensi narasi Islam moderat. NU secara aktif mempromosikan eksegesis Islam Rahmatan lil ‘Alamin sebagai basis tatanan dunia yang damai, dengan menekankan nilai-nilai universal seperti keadilan, kemanusiaan, dan welas asih lintas agama maupun bangsa. Peran ini diperkuat oleh keterlibatan aktif NU dalam dialog antar agama dan kerja sama internasional, baik dengan organisasi non-pemerintah maupun lembaga dunia, guna meredam polarisasi global dan memperkuat kesepahaman antarbangsa.

Di samping itu, landasan geopolitik NU ditopang oleh penolakan tegas terhadap gagasan negara Islam teokratis dan kekhalifahan transnasional. Memanfaatkan warisan pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), NU secara konsisten mengadvokasi konsep nation-state (negara-bangsa) serta mendudukkan moderasi beragama (wasathiyyah) dan humanisme sebagai alternatif solutif dalam menghadapi gelombang radikalisasi serta ekstremisme global. Pada akhirnya, sintesis antara nilai-nilai Islam, demokrasi, dan pluralisme yang diusung NU tidak hanya memperkokoh posisi Indonesia di tingkat internasional, tetapi juga menjadikan diplomasi kultural organisasi ini sebagai rujukan penting dalam pembentukan kebijakan dan diplomasi global.

  1. Artikel berjudul ” Analisis Konsistensi Nahdlatul Ulama (NU) Mendorong Kemerdekaan Palestina” karya Ervi Siti Zahroh Zidni terbit dalam jurnal Islam Nusantara 2023

peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam geopolitik internasional secara konsisten diposisikan sebagai aktor non-negara (non-state actor) yang mengoptimalkan diplomasi jalur kedua (second-track diplomacy), diplomasi kultural, serta pendekatan resolusi konflik berbasis nilai kemanusiaan universal (ukhuwah insaniyah).

Arah diplomasi global NU memiliki akar sejarah yang kuat sejak awal pendiriannya. Pada tahun 1926, NU mengirimkan Komite Hijaz ke Arab Saudi untuk berdialog langsung dengan Raja Ibnu Saud. Misi diplomasi ini bertujuan memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan pelestarian tradisi Islam ortodoks serta situs-situs bersejarah. Selain itu, solidaritas geopolitik NU terhadap kemerdekaan Palestina telah terbangun sejak masa pra-kemerdekaan Republik Indonesia.

Di bawah kepemimpinan KH. Mahfudz Shiddiq pada tahun 1938, NU memelopori penggalangan Palestina Fons (Dana Palestina), menyerukan pembacaan Qunut Nazilah, dan menyelenggarakan Pekan Rajabiyah sebagai respons atas agresi zionis. Komitmen ini diperkuat oleh KH. Hasyim Asy’ari melalui korespondensi intensif dengan Mufti Besar Yerusalem, Syekh Muhammad Amin al-Husaini.

Evolusi peran geopolitik NU semakin terlihat melalui karakteristik kepemimpinan empat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU):

  1. Pada Era KH. Abdurrahman Wahid atau yang kerap di sapa Gus Dur Menampilkan pendekatan diplomasi yang rasional dengan fokus pada pemajuan hak asasi manusia dan peran sebagai juru damai (peace broker). Gus Dur membuka ruang dialog dengan berbagai tokoh intelektual, rabi Yahudi, hingga petinggi Israel untuk membangun kepercayaan (trust building). Langkah kontroversial ini diambil agar Indonesia memiliki posisi tawar netral dalam memediasi konflik secara adil (win-win solution), tanpa mengorbankan dukungan terhadap hak-hak kemanusiaan rakyat Palestina.
  2. Era Hasyim Muzadi Menandai era pelembagaan dialog global melalui inisiasi International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang diakui oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Muslim Dunia. Kiai Hasyim secara konsisten mengkritik standar ganda kebijakan luar negeri Amerika Serikat, mendorong rekonsiliasi internal faksi-faksi di Palestina (Fatah dan Hamas), serta melakukan dialog langsung dengan Khaled Meshaal yang bersinergi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
  3. Era KH. Said Aqil Siroj Mengedepankan sikap tegas terhadap diplomasi jalur negara Arab dan boikot simbolik. NU menolak kunjungan resmi ke Israel sebelum negara tersebut mengakui kemerdekaan Palestina, serta memelopori perlawanan terhadap klaim sepihak atas Yerusalem. Pada periode ini, jejaring Islam moderat global diperkuat melalui penyelenggaraan forum internasional seperti International Summit of

Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) dan Konferensi Sufi Internasional (al-Multaqa al-Sufy al-Alamy).

  1. Era KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) Mengusung diplomasi agama global melalui pembentukan forum Religion 20 (R-20) yang diselenggarakan sejalan dengan momentum KTT G-20. Gus Yahya mengembalikan pendekatan lintas iman dan komunikasi keagamaan langsung dengan otoritas Palestina maupun tokoh Yahudi. Forum ini bertujuan menjadikan moralitas serta etika agama sebagai instrumen resolusi konflik geopolitik, sekaligus mencegah politisasi identitas agama dalam perselisihan global.

Secara konseptual, tindakan geopolitik NU berakar pada nilai al-kulliyyat al-khamsah (maqāṣid al-sharī‘ah) yang diterjemahkan sebagai prinsip-prinsip kemanusiaan universal (humanitarian principles), serta pilar tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil). Secara institusional, wawasan global ini diwujudkan melalui ekspansi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di berbagai kawasan Timur Tengah, Asia, Amerika, dan Eropa. PCINU berfungsi strategis sebagai duta Islam Nusantara sekaligus peredam narasi radikalisme transnasional di tingkat global.

Berdasarkan pemaparan sebelumnya pneliti memetakan temuannya dalam table berikut untuk lebih mepermudah pemahaman

Judul artikel Penulis jurnal tahun Peran NU
Global Religious

Institutions’ Responses to the Gaza Crisis:

Solidarity,

Yuli Andriansyah Millah 2025 1.          Penerapan Gagasan “Fikih Peradaban” (Fiqh of Civilization)

2.   Promosi Islam Moderat (Wasathiyah) di Tingkat Global

Tensions, and Pathways to Interfaith

Peace

3. NU merumuskan fatwa/keputusan hukum agama yang mendukung pembukaan             koridor bantuan kemanusiaan (aid corridors) bagi korban konflik di Palestina, serta menggalang bantuan dan integrasi penanganan

pengungsi

 

 

 

 

 

 

 

 

Multi-Track Diplomacy Fiqh of

Nahdlatul Ulama in Countering Islamophobia in the Netherlands

Muhammad Taufiq, M. Noor

Harisudin, and Maimun

AHKAM 2022 1.     NU bertindak sebagai aktor non-negara yang bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri RI dan Kedutaan Besar Republik             Indonesia (KBRI) untuk mendukung kebijakan luar negeri Indonesia                  dalam

menyebarkan            narasi moderasi beragama.

2.         melalui PCINU di berbagai dunia muslim indonesi    berintegrasi

langsung                 dengan Masyarakat barat guna mengikis stigma negative tentang NU

3.           Mengusung “Islam Nusantara” sebagai Anti-

Thesis Islamofobia dengan

menaarkan konsep islam Nusantara kepada kancah glonal sebagai bukti bahwa islam bisa tumbuh secara

harmonis

 

 

 

 

 

 

 

 

The Role of Nahdlatul Ulama’ (NU) Diplomacy in Promoting

Islam Rahmatan Lil

‘Alamin Exegesis to Strengthen Indonesian

State-Religion Concepts: A Study of Gus

Dur’s Thought

Abdul Basid DKK JITC 2024 1.        NU mempromosikan penafsiran Islam yang berorientasi pada nilai-nilai universal seperti keadilan, perdamaian, kemanusiaan,                dan toleransi.                Melalui

diplomasi             ingklusif sehingga NU bisa aktif terlibat dalam dialog dan kerja sama internasional maupun lintas agama untuk               mendukung keharmonisan            sosial global.

2.     mempromosikan konsep Rahmatan Lil ‘Alamin sebagai landasan untuk menunjukkan bahwa Islam tidak hanya membawa hukum dan syariat, tetapi juga perdamayan dan kebaikan universal yang mana nantinya Konsep ini dijadikan                rujukan

internasional             dalam

menciptakan tatanan dunia yang damai di mana bangsa-bangsa           dapat bekerja sama atas dasar keadilan dan kemanusiaan

3. melalui Warisan Pemikiran Diplomatik Gus Dur yaitu (Pluralisme & Demokrasi) NU membuktikan kepada dunia internasional bahwa Islam, demokrasi, dan pluralisme dapat berjalan beriringan secara harmonis.

 

 

 

 

 

 

 

Analisis Konsistensi Nahdlatul Ulama (NU) Mendorong Kemerdekaan

Palestina

E. Ervi Siti Zahroh Zidni Islam Nusantara 2023 1.       menjadi juru damai dalam komflik palestina dan israel dengan membangun pendekatan kepada ke dua belah pihak.

2.   pelembagaan deplomasi melalui ICIS sebagai wadah untuk ulama internasional              untuk mengkampanyekan

karakter Islam yang moderat

3.                 NU melakukan diplomasi kultural dengan mempererat hubungan dengan negara arab dan

palestin  serta  nenolak

pertemuan dengan israel sebelum              mengakui kemerdekaan palestin

4. Memanfaatkan momen KTT    G-20 untuk

membentuk               forum pemimpin agama dunia (R-20) guna mencegah penggunaan identitas agama sebagai senjata, menghentikan kebencian, serta menjadikan agama sebagai  solusi  tatanan

dunia yang adil.

Pembahasan

Membicarakan nahdlatul ulama sangat mustahil jika dipisahkan dari kajian politik, bak pepatah setali tiga uang, dimana ada politik disitu ada Nahdlatul Ulama. Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas sosial dan harmoni antarumat beragama di tengah arus disrupsi digital.

Dalam 1 abad pertama NU memegang peran yang setrategis dalam dinamika geopolitik internasional. Organisasi ini tak hanya merupakan organisasi keagamaan kemasrakatan biasa namun bertranformasi menjadi suatu wadah yang memperjuangkan kemaslahatan umat secara universal. Berdasarkan  pemaparan  sebelumnya  peneliti  kemudian  mengkasifikasikan temuannya kedalam empat bagian. Berikut kami sajikan temuan utama dalam penelitian ini.

 

Berdasarkan infografik yang dilampirkan, Nahdlatul Ulama memosisikan diri sebagai aktor non-negara yang strategis dan proaktif dalam mengupayakan tatanan dunia yang damai, moderat, serta inklusif. Peran geopolitik ini dijalankan melalui lima pilar tindakan utama di kancah internasional. Pertama, NU bertindak sebagai agen diplomasi multi-jalur dan diplomasi kultural dengan mengedepankan pendekatan hubungan antar-masyarakat dan pertukaran nilai kebudayaan. Kedua, organisasi ini aktif menjadi promotor konsep Islam Nusantara sekaligus kekuatan penyeimbang untuk membendung arus ekstremisme global lewat narasi keberagamaan yang ramah dan toleran. Ketiga, NU berperan sebagai fasilitator resolusi konflik berbasis kemanusiaan, terutama dalam mendorong perdamaian dan kepedulian terhadap isu Palestina-Israel. Keempat, NU menjadi penggerak fikih geopolitik guna mengontekstualisasikan hukum Islam agar selaras dengan tatanan hukum  internasional  modern.  Kelima,  peran  tersebut  diperkuat  dengan pelembagaan dialog agama dan forum geopolitik global, yang menempatkan dialog lintas iman sebagai sarana kolaboratif antartokoh dunia dalam merespons krisis kemanusiaan serta dinamika politik dunia.

Temuan ini menegaskan bahwa pada rentang abad pertamanya, Nahdlatul Ulama telah menorehkan capaian gemilang di ranah internasional. Penelusuran lebih mendalam memperlihatkan bahwa arah pergerakan organisasi tersebut merupakan manifestasi nyata dari visi NU, yakni mewujudkan masyarakat yang sejahtera, berkeadilan, dan demokratis berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Capaian historis ini sekaligus menjadi mandat moral bagi elite serta jajaran kepengurusan NU untuk merawat dan mengeskalasi keberhasilan yang telah diraih. Menapaki era kontemporer, organisasi-organisasi Islam di Indonesia, tak terkecuali NU, kini berada pada persimpangan strategis yang sarat akan tantangan sekaligus potensi akselerasi, khususnya dalam mengarungi gelombang transformasi digital.

Capaian Nahdlatul Ulama di panggung internasional sejatinya berakar kuat pada sokongan basis massa akar rumput (grassroots). Oleh sebab itu, menyongsong abad keduanya, orientasi pergerakan NU semestinya tidak semata-mata terpaku pada diplomasi global, melainkan juga harus memprioritaskan konsolidasi persaudaraan (ukhuwwah) serta penguatan kelembagaan badan otonom (banom) di tingkat bawah. Kesenjangan ini menjadi krusial mengingat kendati mayoritas umat Islam di Indonesia secara kultural berafiliasi dengan tradisi ke-NU-an, secara struktural masih banyak banom di level akar rumput yang belum beroperasi secara optimal. Apabila stagnasi struktural ini dibiarkan tanpa revitalisasi, terdapat risiko melemahnya minat dan keterikatan generasi muda sebagai tumpuan kaderisasi dalam berorganisasi di lingkungan NU.

Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa menyongsong abad keduanya, Nahdlatul Ulama (NU) telah bertransformasi secara signifikan dari organisasi kemasyarakatan keagamaan berbasis lokal-nasional menjadi aktor non-negara (non-state actor) yang strategis, proaktif, dan diperhitungkan dalam arsitektur geopolitik global. Posisi ini diartikulasikan melalui lima pilar tindakan utama: (1) penerapan diplomasi multi-jalur (multi-track diplomacy) dan diplomasi kultural melalui jaringan internasional seperti PCINU; (2) pengarusutamaan konsep Islam Nusantara dan nilai wasathiyyah sebagai antitesis terhadap ekstremisme serta islamofobia; (3) fasilitasi resolusi konflik berbasis nilai kemanusiaan universal (ukhuwwah insaniyyah), khususnya pembelaan terhadap kemerdekaan Palestina;

(4) pembaruan hukum Islam kontemporer melalui gagasan fikih peradaban/geopolitik yang selaras dengan tatanan hukum internasional modern; serta (5) pelembagaan dialog agama global melalui forum internasional seperti ICIS dan R20 guna mencegah politisasi identitas agama. Seluruh manuver diplomasi ini merupakan perwujudan konkret dari visi Ahlussunnah wal Jama’ah dalam menciptakan tatanan dunia yang damai, adil, dan inklusif.

Kendati mencatatkan rekam jejak impresif di panggung dunia, kajian ini menggarisbawahi urgensi keseimbangan strategis bagi kepengurusan NU ke depan. Menghadapi era disrupsi dan transformasi digital, NU dituntut tidak hanya berfokus pada diplomasi tingkat elit global, melainkan juga harus memperkuat konsolidasi kelembagaan di tingkat akar rumput (grassroots), merevitalisasi badan otonom (banom), serta mengintensifkan kaderisasi generasi muda agar tidak terjadi diskoneksi struktural antara kemajuan di kancah internasional dan basis massanya di tingkat lokal. Keterbatasan penelitian ini terletak pada minimnya jumlah literatur ilmiah primer yang secara khusus mengeksplorasi peran geopolitik global NU dalam pangkalan data Scopus dan Google Scholar. Oleh sebab itu, penelitian lanjutan disarankan untuk memperluas cakupan basis data serta melakukan studi empiris mendalam mengenai efektivitas diplomatik PCINU di berbagai belahan dunia.

Daftar Pustaka

Abdul Chalik. Nahdlatul Ulama Dan Geopolitik Perubahan Dan Kesinambungan.

Yogyakarta: IMPULSE, 2011.

Abdurahman Febby islami, Angga Nurdin Rachma, Tholhah. “Diplomasi Nahdlatul Ulama (NU) Sebagainonstate Actors Dalam Upaya Perdamaian Koflikafghanistan 2018.” Global Insight Journal 01 (2024).

Andriansyah, Yuli. “Global Religious Institutions ’ Responses to the Gaza Crisis : Solidarity , Tensions , and Pathways to Interfaith Peace.” Millah: Jurnal Studi Agama 24, no. 1 (2025). https://doi.org/10.20885/millah.vol24.iss1.editorial.

Basid, Abdul, Moh Fauzan, Amrulloh Amrulloh, Mujianto Solichin, Ahmad Munjin Nasih, and Bakri Mohamed Bkheet Ahmed. “The Role of Nahdlatul Ulama’ (NU) Diplomacy in Promoting Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Exegesis to Strengthen Indonesian State-Religion Concepts: A Study of Gus Dur’s Thought.” Journal of Islamic Thought and Civilization 14, no. 2 (2024).

Dia, Arissona, Indah Sari, Tatang Herman, Wahyu Sopandi, Al Jupri, and Universitas Pendidikan Indonesia. “A Systematic Literature Review ( SLR ): Implementasi Audiobook Pada Pembelajaran Di Sekolah Dasar” 6, no. 2 (2023): 661–77. https://doi.org/10.31949/jee.v6i2.5238.

  1. Ervi Siti Zahroh. Analisis Konsistensi Nahdlatul Ulama (NU) Mendorong Kemerdekaan Palestina. Edited by Ahmad Suaedy. Vol. 4. Jakarta, 2023.

Emila, Azza, and Cory Vidiati. “TRANSFORMASI DIGITAL NAHDLATUL ULAMA : DARI MEDIA TRADISIONAL.” Jurnal EKBIS ( Ekonomi &

Bisnis ) Politeknik Piksi Ganesha 14, no. 1 (2026): 23–33.

Katili, Akmalul M, and Suparto. “Komparasi Gerakan Dakwah Organisasi Tradisional Dan Modern ( Nahdlatul Ulama Dan Muhammadiyah ).” Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu 2, no. 12 (2024): 815–22. https://doi.org/https://doi.org/10.59435/gjmi.v2i12.1221.

Maghfiroh, Alvi. “Menakar Peran Dan Posisi Nahdlatul Ulama Dalam Penguatan Geopolitik Indonesia.” Khabar 5, no. 2 (2023): 97–111.

Marahalim, Katimin, and Elly Warnisyah Harahap. “The Manifesto of Nahdhatul Ulama : Understanding Its Meaning , Political Integration , and Identity.” Al-Ulum        23,       no.       2                         (2023):         462–81.

https://doi.org/https://doi.org/10.30603/au.v23i2.4124 The.

Muham, Muflihah, and Prima Cristi Crismono. “Tinjauan Literatur Sistematis Tentang Penerapan Pemrograman Linear Untuk Optimalisasi Dalam Konteks Pendidikan.” Media Pendidikan Matematika 13, no. 2 (2025): 601–15.

Nurul, Badruttamam. “No Title,” 2026.

Partai, Politik, Keadilan Sejahtera, Agus Cahyono, and Akhmad Rizqon Khamami. “Telaah Nilai-Nilai Ke-Nu-An Dalam Menyikapi Praktik” 10, no. 2 (2025): 473–84.

Rofi’i, Muhammad Arwani, and Siti Fatimatuz Zahroh. “Peran Nahdlatul Ulama ( NU ) Dalam Menjaga Keharmonisan Umat Beragama Di Era Disrupsi Digital Siti Fatimatuz Zahroh.” NAHNU 2, no. 2 (2024): 339–68.

Rois, Choirur, and Farhan Masrury. “Fiqih Al- Ḥ a ḍ Arah Perspektif Geopolitik : Gagasan Diplomasi Perdamaian NU Melalui Rekontekstualisasi Fiqih Siyasah.” ANNIDA’ 47, no. 1 (2023): 60–77. https://doi.org/10.24014/an-nida.v47i1.25330.

Sari Pita , Efan, Riduan Syahri. “Algoritma K-Means Clustering : Sebuah Studi Literatur Study.” Jurnal Informatika (JURI) x, no. x (2023): 1–7. https://doi.org/10.12345/juri.

Taufiq, Muhammad, M Noor Harisudin, and Maimun. “Multi-Track Diplomacy Fiqh of Nahdlatul Ulama in Countering Islamophobia in the Netherlands.” AHKAM 22, no. 2 (2022): 287–310.

 

(Naskah Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tinkgat Nasional yang digelar Majalah Risalah PBNU dalam rangka peringatan Hari Santri 2026)

Leave A Reply

Your email address will not be published.