RISALAH NU ONLINE, SUMENEP — Aktivis sosial sekaligus putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wahid, menegaskan bahwa kecintaan terhadap tanah air (hubbul wathon) bagi kalangan santri harus dibuktikan secara nyata melalui keberpihakan kepada rakyat. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberikan klarifikasi mengenai batas perannya dalam aksi lingkungan bersama Greenpeace.
Pernyataan tersebut disampaikan Inayah dalam Dialog Kebangsaan bertema “Jejak Kebangsaan Ulama Nusantara” di Pondok Pesantren Annuqoyah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube PP. Annuqayah Lubangsa.
Menanggapi narasi yang beredar, melalui akun media sosial X pribadinya yang turut disorot publik, Inayah meluruskan bahwa dirinya bukanlah orang yang berperan langsung dalam pemasangan spanduk aksi di lapangan. Sebagai anggota dewan Greenpeace Indonesia (GPI), ia berperan membantu melakukan lobi dari jarak jauh untuk membebaskan rekan-rekan aktivis saat ditahan.
“Perlu dijelaskan bhw saya bkn org yg berperan dlm pemasangan spanduk, itu murni kerja keras teman2 @GreenpeaceID itu bkn credit saya. Sbg anggota dewan GPI saya cm membantu melobby agar2 teman2 dibebaskan pd saat ditahan, itupun dr jauh krn saya sdg diluar kota,” tulis Inayah dalam akun X miliknya yang dikutip pada Senin, (26/10/26).
Meski demikian, dalam forum dialog kebangsaan tersebut Inayah tetap menekankan pentingnya refleksi posisi santri dan Nahdlatul Ulama (NU) di tengah dinamika zaman agar tidak kehilangan perannya sebagai pembela rakyat kecil. Menurutnya, pembelaan terbesar saat ini adalah berdiri bersama masyarakat yang tengah menghadapi tekanan, bukan merapat pada pihak-pihak yang menjadi sumber masalah bagi publik.
“Maka penting juga untuk kita berefleksi, ada di mana posisi NU hari ini. Ketika kita dulu selalu dibilang ‘Wah, NU itu tulang punggungnya Indonesia, demokrasi Indonesia’, hari ini kita di mana? Kita tulang apa hari ini?” ujar Inayah.
“Maka saya rasa, memaknai (hari santri dan kebangsaan) itu, pembelaan yang paling besar adalah membela rakyatnya. Ketika hari ini publik itu betul-betul stres menjadi WNI, ya penting untuk kita berada bersama publik,” tegasnya.
Terkait keterlibatannya dengan gerakan lingkungan, Inayah menceritakan bahwa keputusannya bergabung didasari oleh rekam jejak sang ayah. Ia mengenang bagaimana Gus Dur di masa lalu konsisten mendampingi masyarakat dan memprotes kebijakan yang merusak lingkungan.
“Alasan saya dulu waktu diminta untuk bergabung dengan Greenpeace saya mau bergabung itu adalah karena ayah saya. Dulu beliau banyak bekerja bareng dengan Greenpeace. Salah satunya dulu ketika Gus Dur itu protes PLTN Paiton apa, Muria? Nah, itu Gus Dur ikut protes di situ. Konteksnya Gus Dur di situ protes sebagai apa? Ya sebagai ketua PBNU. Dan itu yang menurut saya penting hari ini. Jangan-jangan kita kehilangan hal tersebut,” ungkap Inayah.
Meski menyadari adanya risiko dan rasa takut dalam menyuarakan kebenaran di ruang publik, Inayah mengajak para santri dan generasi muda untuk terus berani melangkah demi memperjuangkan keadilan sosial, meneladani keteguhan para pendahulu bangsa.
“Kamu itu apa enggak takut loh, ditangkap atau apa?’ Terus saya bilang gini, ‘Mah, aku itu anaknya Gus Dur. Kalau aku aja sampai harus ditangkap… bayangkan rakyat kayak apa.’… Kita bukan tokoh dongeng dan mitos yang gagah berani dan penuh sifat kepahlawanan… mengenal rasa takut. Tapi meskipun takut, kita jalan terus dan berani melompati pagar batas ketakutan tadi, mungkin di situ harga kita sebagai manusia ditetapkan,” pungkasnya.
(Anisa)