MERAWAT JAGAT MEMBANGUN PERADABAN

KH. Yahya Cholil Staquf (Ketua Umum PBNU) 

Nahdlatul Ulama (NU) didirikan di Surabaya pada hari Ahad tanggal 16 Rajab 1344 H yang bertepatan dengan 31 Januari 1926. Muktamar NU ke-32 tahun 2010 di Makassar, Sulawesi Selatan menetapkan bahwa peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama dilaksanakan berdasarkan kalender hijriyah.

Maka dalam waktu tidak lama lagi kita akan memperingati genap 1 abad usia Nahdlatul Ulama yaitu pada tanggal 16 Rajab 1444 H yang bertepatan dengan tanggal 7 Februari 2023. Ini adalah momentum yang istimewa.

PBNU menyiapkan suatu ihtifal akbar, resepsi besar untuk memperingati satu abad Nahdlatul Ulama itu. Insyaallah akan diselenggarakan di Gedung Olaharga Delta di Sidoarjo, Jawa Timur pada tanggal 7 Februari 2023 hari Selasa.

Saya bersama dengan Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar dan para ulama kyai dari berbagai penjuru nusantara dan negara seluruh dunia menunggu para nahdliyin, nahdliyat dan pecinta Nahdlatul Ulama untuk bergabung bersama dengan berbagi barokah raksasa.

Saya mengingatkan bahwa per hari ini, sudah masuk ke bulan Rajab. Dengan begitu, tersisa beberapa hari lagi, NU akan genap mencapai usia 1 abad yakni, tepat pada 16 Rajab 1444 atau bertepatan dengan 7 Februari 2023. Saya mengajak seluruh warga NU dan juga kita mengajak warga masyarakat bangsa Indonesia untuk ikut merasakan kegembiraan, kebahagiaan di dalam menyongsong 1 abad NU.

Saya berharap agar para pengurus dan warga NU mendapatkan masa depan yang lebih mulia melalui perantara barokah dari para pendiri NU. Insyaallah dengan barokah dari para pendiri NU, dari riyadhah para ulama selama 100 tahun, insyaallah kita akan menjemput masa depan yang lebih mulia.

Insyallah para pemimpin-pemimpin kita hadir untuk membersamai kita, maka kita tidak akan pernah jauh dan akan terus membersamai pemimpin-pemimpin kita. Rekatnya rakyat dengan pemimpin merupakan cara terbaik untuk merawat dan menjaga Indonesia, menjaga keselamatan bangsa dan negara, serta memperjuangkan kemaslahatan bangsa.

Tema menyongsong 100 Tahun NU “Merawat Jagat Membangun Peradaban” diusung karena keyakinan para pendiri mendirikan NU ini dengan keprihatinan, kepedulian dan cita-cita yang terkait dengan peradaban. Untuk membangun peradaban itu tidak bisa tidak, kita harus merawat jagat.

Merawat jagat sesuai dengan lambang NU yakni adanya bola dunia. Meskipun Kiai Ridwan Abdullah sebagai pencipta lambang NU tidak akan spesifik menjelaskan makna lambang tersebut. Beliau akan dengan sederhana menjawab bahwa itu hasil istikharah dan tidak membuat penjelasan apapun.

Kini kami berupaya memaknai gambar jagat itu sebagai tanggung jawab untuk merawat jagat ini. Merawat jagat diartikan dalam dua dimensinya. Pertama, dimensi bumi sebagai tempat hidup. Kedua adalah dimensi tatanan kehidupan di atas bumi. Merawat berarti berupaya berjuang untuk terus meningkatkan mengembangkan kualitas dari apa yang kita miliki di bumi ini.

Baik sebagai alam maupun tatanan hidup tanpa membuat kerusakan-kerusakan, apa lagi melakukan penghancuran. Hanya dengan cara itu upaya kita membangun peradaban insyaallah akan membawa hasil masa depan peradaban yang lebih baik dan lebih mulia. Bukan hanya untuk NU saja, bukan hanya untuk bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia saja, tapi untuk peradaban dunia bagi seluruh umat manusia.

Diprediksi satu juta warga NU akan menghadiri puncak satu abad NU tersebut. NU akan terus mencurahkan semua kekuatan yang dimilikinya dalam mengabdi dan memberi layanan kepada masyarakat. Agar masyarakat bangsa dan negara kita ini bisa melalui berbagai macam keadaan yang mungkin tidak mudah ke depan secara selamat dan lebih baik.

9 Agenda Besar

Ada 9 agenda besar yang digelar NU dalam menyongsong 1 abad berdirinya Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Kegiatan tersebut adalah: Religion Summit for Religious Leaders Forum atau Forum R20. Kemudian Halaqah Fiqih Peradaban, Festival Tradisi Islam Nusantara, Gerakan Kemandirian Nahdlatul Ulama, NU Hackathon, Pekan Olahraga NU, Anugerah Tokoh An-Nahdlah, NU Women, dan Resepsi Puncak Peringatan 1 Abad NU.

Saya ingin beritahukan bahwa kegiatan-kegiatan PBNU menyangkut masalah-masalah internasional seperti salah satunya halaqoh peradaban yang digelar di 250 titik di seluruh Indonesia sampai akhir Januari. Tema yang diusung yaitu tentang fikih peradaban terkait dengan wawasan-wawasan politik yang fundamental dalam kacamata fikih.

Nanti acara kita puncakkan dengan satu konferensi internasional yang akan kita sebut sebagai muktamar internasional fikih peradaban yang pertama, insyaallah kita gelar pada tanggal 15 Rajab 1444 atau 6 Februari 2023. Kita akan mengundang para ulama dari seluruh dunia sampai dengan mudah-mudahan bisa mencapai 300 ulama dari berbagai negara.

Sejumlah narasumber sudah menyatakan bersedia dan berkomitmen untuk hadir termasuk di antaranya adalah Imam akbar Al Azhar, Syekh Dr. Ahmed Al-Tayeb, saya bertemu beliau di Kazakstan pada pertengahan September lalu,dan juga pembicara internasional lainnya.

Beberapa hari yang lalu, kita juga menggelar pertemuan tokoh-tokoh semua agama dari seluruh dunia, hadir sekitar 200 orang pemimpin agama-agama, kita gelar di Bali sebagai bagian dari G20 yaitu R20. Panjenengan semua kita ajak untuk ikut serta di dalam pergulatan ini karena kita ingin bahwa pergulatan pemikiran terkait dengan dinamika global tidak hanya diikuti dirasakan dan dipikirkan oleh mereka yang ada pada kelompok elit di Indonesia, tapi kita ingin bahwa pergulatan pemikiran tentang masalah ini diikuti secara intelektual dan mental oleh sebanyak mungkin ulama di lingkungan nahdlatul ulama.

Karena saya dan PBNU yakin bahwa sebetulnya di lingkungan NU ini tak terhitung jumlahnya orang orang alim yang sebetulnya punya kapasitas untuk ikut serta dalam pergulatan pemikiran ini. Hanya karena stigma yang sebetulnya tidak perlu kita pertahankan tentang wilayah aktivisme tentang kelas-kelas sosial dan sebagainya sehingga selama ini akses keikutsertaan sebagian besar dari para ulama kita agak terbatas.

Saya tahu benar bahwa yang namanya kyai-kyai alim itu yang bukan hanya jadi pengurus NU saja, ada berbagai tingkatan sekian banyak para alim, nyai alim yang belum masuk pengurus. Saya ingin semuanya ikut serta karena saya ingin agar sumber daya yang luar biasa raksasa, sumber daya ilmiah yang raksasa di lingkungan NU ini tersebar di seantero Indonesia tidak ada yang disia-siakan. Itulah sebabnya kita gelar serial halaqoh ini yang diikuti sampai ke para ulama dari akar rumput.

Saya membayangkan seratus tahun Indonesia ke depan, akan banyak ditemui perubahan yang tidak disangka-sangka. Saat ini saja, ada banyak fenomena baru yang dulu waktu saya remaja tidak mengira akan ada bahwa untuk membentengi diri serta menerima segala potensi baik dan buruk sebab perubahan zaman.

Saya melihat bahwa penting bagi masyarakat untuk berpegang teguh pada falsafah negara sebagai titik tolak. Supaya kemana pun kita menuju, kita selalu ingat dari mana kita mulai. Apa yang harus dipertahankan dan dikembangkan. Bahwa proklamasi sejatinya tak hanya memberikan mandat kepada bangsa Indonesia untuk mendirikan satu negara semata. Lebih dari itu, mandat yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia 1945 itu turut memperjuangkan peradaban yang lebih mulia untuk seluruh umat manusia.

Itu sebabnya dalam satu cita-cita kemerdekaan dinyatakan bahwa kita ingin ikut serta dalam ketertiban dunia yang berdasarkan atas kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Visi bangsa tersebut, memiliki makna serupa dengan visi universal yang menjadi landasan dari tata dunia pasca Perang Dunia ke-2. Ini sesuatu yang harus diperjuangkan karena belum menjadi kenyataan.

Bahwa perubahan yang bakal dihadapi Indonesia tak lekang dari segala potensi ancaman yang berpengaruh terhadap keutuhan bangsa. Sedikitnya terdapat dua potensi ancaman keutuhan bangsa.  Pertama jelas bahwa kita tidak ingin Indonesia lalu dibelokan menjadi entitas yang bukan negara bangsa yang berbhineka. Karena ini adalah proklamasi. Itu sebabnya kita tidak setuju Indonesia menjadi negara Islam atau khilafah.

Kedua, kemajuan teknologi tanpa pengendalian. Hal itu, memiliki potensi terhadap potensi konflik. Kita tidak tahu bagaimana teknologi akan membawa dampak pada kehidupan. Seperti di media sosial orang cenderung kurang bertanggung jawab daripada dunia nyata. Dalam konteks potensi konflik itu, masyarakat harus mengantongi cara untuk mengkanalisasi agar konfliknya bisa dikelola. Sehingga tidak sampai meruntuhkan sendi-sendi kemasyarakatan kita.

(Pidato Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf pada beberapa kegiatan PBNU)

Leave A Reply

Your email address will not be published.