Menapaktilasi Misi Tarbiyah dan Ta’lim Rasulullah (2)

Kecerdasan Sang Tarjumânul Qur’ân

Selain Sahabat Umar bin Khatthâb dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallâhu ‘anhuma, sebagaimana diuraikan pada edisi sebelumnya, marilah kita lihat pula hasil didikan Rasulullah shallallâhu alayhi wa sallam pada diri Sahabat Ibnu Abbas RA, putra pamanda Nabi yang bergelar “Imamnya Tafsir dan Tarjumanul Qur’ân”. Ibnu Abbas mampu meng-implementasi-konklusif-kan ajaran dan didikan al-Kitab dan al-Hikmah dari Rasulullah shallallâhu alayhi wa sallam sebagai metode diskusi yang cemerlang dengan kelompok-kelompok radikal di zaman Khalifah Ali bin Abi Tholib RA.

Abu Zumail Sammak bin Walid al-Hanafi berkata: telah bercerita hadits padaku Sahabat Ibnu Abbas RA, dia berkata, “Ketika kaum Khawarij berkumpul di markas mereka dengan jumlah sekitar enam ribu orang, aku berkata kepada Ali bin Abi Thalib RA, ‘Wahai Amirul Mukminin, akhirkan waktu shalat agar aku dapat menemui mereka (kaum Khawarij).’” Sahabat Ali menjawab, “Aku khawatir mereka akan mencelakaimu.” Aku menjawab, “Tidak akan terjadi.”

Lantas Ibnu Abbas pergi menemui kaum Khawarij dengan mengenakan jubah terbaik produk Yaman. Abu Zumail menyebutkan bahwa Ibnu Abbas adalah seorang yang berwajah tampan dan berpenampilan rapi.

Ibnu Abbas berkata, “Lantas aku menemui orang-orang Khawarij, dan tatkala mereka melihatku, mereka berkata: ‘Selamat datang, selamat datang wahai Ibnu Abbas, kenapa Anda memakai jubah seperti ini?’ Aku menjawab, ‘Mengapa kalian ingkar? Sungguh aku pernah melihat Rasulullah mengenakan jubah terbaiknya.’”

Kemudian aku membacakan ayat al-Qur’ân kepada mereka:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللهِ اَلَّتِى أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ

“Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-Nya.” (QS. Al-A’râf 32)

Mereka berkata, “Apa gerangan yang membuat Anda datang ke sini?” Aku menjawab, “Aku datang mewakili Amirul Mukminin serta para Sahabat Rasulullah shallallâhu alayhi wa sallam, dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Dan, aku tidak melihat seorang pun dari kalian dari kalangan mereka. Kepada merekalah turun al-Qur’ân, sehingga mereka lebih faham tentang penafsiran al-Qur’ân daripada kalian. Dan tidak ada seorang pun dari kalian yang berasal dari golongan mereka. Aku datang untuk menyampaikan pendapat mereka kepada kalian, dan menyampaikan pendapat kalian pada mereka”.

Aku bertanya, “Mengapa kalian mendendam permusuhan pada Khalifah Ali, putra paman Nabi shallallâhu alayhi wa sallam dan menantu beliau?”

Lantas sebagian mereka saling memandang ke sebagian yang lain dan berkata, “Sudahlah, jangan kalian ajak bicara dia! Karena Allah Subhânahû wa Ta’âla sudah berfirman: ‘Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar (QS. Az-Zukhrûf 58)’”. Sebagian yang lain menjawab, “Mengapa kita tidak mendengar perkataannya, mengingat  dia adalah putra paman Rasulullah shallallâhu alayhi wa sallam dan menyerukan kepada Kitab Allah.”

Mereka berkata, “Kami memusuhinya karena tiga hal.”  Aku bertanya, “Apa saja itu?” Mereka menjawab, “Pertama, sesungguhnya Ali telah menjadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah. Kedua, sesungguhnya Ali telah berperang, tetapi dia tidak mau menawan (lawan yang kalah) dan tidak mau merampas ghanîmah (rampasan perang). Jika mereka boleh diperangi, maka mereka juga boleh ditawan. Jika mereka tidak boleh ditawan, maka mereka juga tidak boleh diperangi. Ketiga, dia menghapus sebutan ‘Amirul Mukminin’, berarti dia ‘Amirul Musyrikin’.”

Aku bertanya, “Apa masih ada alasan lain?” Mereka menjawab, “Cukup tiga hal ini saja.”

Aku bertanya, “Apakah jika pandangan kalian ini tidak sesuai dengan al-Qur’ân dan as-Sunnah, kalian akan berubah sikap untuk kembali?” Mereka menjawab. “Tentu!”

“Ucapan kalian (kata Ibnu Abbas) bahwa Ali RA telah menjadikan manusia untuk memutuskan perkara Allah (agama, mendamaikan perselisihan antara kaum muslimin), maka aku pernah mendengar firman Allah, ‘Menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu (QS. al-Mâ’idah 95).’” Dan Allah juga berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوْا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إنْ يُرِيْدَا إصْلاَحًا يُوَفِّقِ اللهُ بَيْنَهُمَا.

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu.” (QS. an-Nisâ’ 35)

“Apakah kalian memahami hal ini?”, tanya Ibnu Abbas. Mereka menjawab, “Iya!”

Aku menjawab lagi, “Adapun ucapan kalian bahwa Ali RA berperang namun tidak menawan dan mengambil harta ghanîmah, karena dia memerangi ‘Ibu’ kalian semua (Sayyidah Aisyah RA)”. Allah Ta’âla berfirman, ‘Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.’ (QS. al-Ahzâb 6). Jika kalian mengira bahwa dia bukan Ibu kalian, maka kalian telah kafir. Jika kalian mengatakan bahwa dia adalah Ibu kalian, maka tidak boleh ditawan. Kalian berada di antara dua kesesatan. Apakah kalian memahaminya?” Mereka menjawab. “Iya, kami faham!”

Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwasanya Ali RA telah menghapus sebutan ‘Amirul Mukminin’ dari dirinya, dan, jika dia bukan Amirul Mukminin berarti Amirul Musyrikin, maka, sebagai jawabannya, aku akan menceritakan pada kalian tentang seseorang yang kalian cintai, karena aku melihat kalian tidak menyukai Ali RA. Perlu kalian ketahui bahwa Rasulullah shallallâhu alayhi wa sallam, pada peristiwa Hudaibiyyah, beliau melakukan sulh (perjanjian damai) dengan Suhail bin Amr (pemimpin kaum musyrikin). Kemudian beliau bersabda, “Wahai Ali, tulislah! Ini perjanjian antara Muhammad utusan Allah dan Suhail bin Amr.” Orang-orang musyrikin protes, “Seandainya kami tahu kamu adalah utusan Allah, maka kami tidak akan memerangimu. Tulis saja namamu dan nama ayahmu!”

 Rasulullah shallallâhu alayhi wa sallam bersabda, “Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku adalah utusan-Mu.” Kemudian beliau menghapus sendiri kata “Utusan Allah” dalam perjanjian tersebut dan bersabda, “Wahai Ali, tulislah; ini adalah perjanjian antara Muhammad bin Abdillah dan Suhail bin Amr.” Demi Allah hal itu tidak membuat Allah mengeluarkan beliau dari statusnya sebagai seorang Nabi dan Rasulullah. Apakah kalian memahami hal ini?” Mereka menjawab, “Iya, kami memahami.”

Dari riwayat di atas, kita dapat menyimpulkan betapa luas dan kuatnya metodologi hujjah Sahabat Ibnu Abbas RA, yang melahirkan mutiara-mutiara hikmah tak terbantahkan hasil tarbiyah dan ta’lim Mahaguru nan Agung, sang pendidik teragung, Rasulullah shallallâhu alayhi wa sallam.

Jika kita mempelajari profil manusia sebelum dan sesudah ber-interaksi dengan Rasulullah shallallâhu alayhi wa sallam, akan kita temukan perubahan pada segenap sisi kehidupan mereka. Semua kekuatan dan kemampuan mereka telah melesat pada jalan yang benar. Baik kekuatan jasmani, akal, psikis, ruh, nurani, maknawi maupun kekuatan akhlaq. Kekuatan-kekuatan tersebut semuanya bergerak maju pada arah yang benar dan jalan yang lurus, hingga tak ada seorang pun yang mengatakan bahwa ada satu kekuatan tertentu yang rusak atau bekerja tidak benar.

Semoga kita sebagai (calon) pewaris terus committed dan konsisten menjaga wirôtsah Rasulullah shallallâhu alayhi wa sallam.

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.