Undang di Forum R 20 ISORA, Gus Yahya Jelaskan Visi Besar NU kepada Dubes Belanda

RISALAH NU ONLINE – JAKARTA– Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Lambert Grijns dan Duta Besar Utusan Khusus untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, Kementerian Luar Negeri Kerajaan Belanda Bea Ten Tusscher mengunjungi Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (15/11/2023) pagi.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menerima mereka secara langsung didampingi Ketua PBNU H Ulil Abshar Abdalla dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU M Najib Azca.

Dilansir dari laman NU Online, pertemuan itu berlangsung selama kurang lebih satu jam.  Dalam kesempatan itu, Duta Besar Utusan Khusus untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, Kementerian Luar Negeri Kerajaan Belanda Bea Ten Tusscher mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan oleh PBNU.

“Terima kasih atas sambutan hangat yang luar biasa,” ujarnya.

Ketua PBNU H Ulil Abshar Abdalla mengungkapkan isi bahasan dalam pertemuan itu. Ia mengatakan, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) pada pertemuan tersebut membahas soal peran dan upaya NU dalam menciptakan perdamaian dunia.

Banner dalam Post 300 x 416

Gus Yahya juga menjelaskan tentang visi besar yang sedang dikerjakan PBNU saat ini, yakni mempromosikan perdamaian di dunia dan mengatasi konflik, termasuk konflik yang didorong oleh alasan-alasan agama.

“Gus Yahya menjelaskan mengenai forum internasional yang diselenggarakan oleh PBNU seperti R20 yang berlangsung tahun lalu. Dan rencana untuk mengadakan R20 International Summit of Religious Authorities (R20 ISORA) tanggal 27 November di Jakarta. Jadi diskusinya sangat konstruktif sekali,” ujarnya.

Menurut Gus Ulil, Lambert Grijns dan Bea Ten Tusscher ingin mengetahui lebih banyak tentang NU. Ia mengungkapkan, salah satu hal menarik dalam diskusi pada pertemuan itu adalah saat Gus Yahya membahas soal peta jalan PBNU yang berkontribusi menciptakan perdamaian dengan keterlibatan para tokoh agama dunia.

“Tadi juga ada diskusi yang menarik sekali, mengenai visi dan roadmap atau peta jalan yang dirancang oleh Gus Yahya melalui PBNU untuk berkontribusi secara global dalam menciptakan perdamaian melalui keterlibatan tokoh-tokoh antaragama.

Karena salah satu tantangan kita ke depan adalah mengatasi konflik, tidak ada perdamaian kalau kita terus merawat konflik dan sumber-sumber konflik,” terangnya.

Dalam diskusi itu, mereka sepakat bahwa salah satu sumber konflik selain masalah-masalah ekonomi dan masalah politik, juga pemahaman keagamaan yang mungkin kurang pas atau kurang sesuai dengan realitas peradaban.

Pada pertemuan tersebut Gus Yahya mengundang Bea Ten Tusscher untuk hadir di R20 ISORA pada 27 November 2023. Akan tetapi karena ada agenda lain, ia tidak bisa hadir langsung, sehingga kehadirannya akan dilakukan secara daring.

Sebelumnya ketika R20 di Bali, Bea Ten Tusscher juga diundang dan hadir secara langsung. “Ia (Bea Ten Tusscher) sangat terkesan dengan roadmap yang dijelaskan Gus Yahya mengenai cara Islam memainkan peran yang lebih besar lagi di dalam panggung global untuk mengatasi perdamaian dan konflik-konflik. Terutama Ibu Thea berharap Indonesia berperan lebih banyak lagi. Dia senang sekali dengan inisiatif Gus Yahya ini, supaya Indonesia lebih bersuara,” pungkasnya. (yud/NU Online)

Leave A Reply

Your email address will not be published.