Awal Mula NU Masuk Jakarta

0

 

Koran Bataviaash Niewsblad dalam salah satu edisinya tahun 1932 menurunkan tulisan berjudul Nahdlatoel Oelama; Oprichtings vergadering te Batavia yang artinya rapat pendirian NU di Batavia 

 

Diberitakan dalam media Belanda dan Bahasa Belanda itu bahwa, “Ketua pengurus besar Persatuan Islam Nahdlatul Ulama yang paling terkenal di Jawa Timur Kiai Abdul Wahab saat ini berada di Batavia untuk mendirikan cabang-cabangnya di kota dan sekitarnya.

Di lahan kosong di Kramat tempat Partai Sarekat Islam bermarkas beberapa hari lalu konferensi diadakan yang minat masyarakat terhadap organisasi itu sangat besar terutama dari pihak Arab.

Pukul 09 pertemuan dibuka dengan doa. Kiai Abdul Wahab kemudian menjelaskan secara rinci tujuan Nahdlatul Ulama yang bermuara pada fakta bahwa dalam berapa tahun terakhir Islam telah memburuk di negeri ini karena beberapa pemimpin Islam gadungan yang dengan sengaja mengaburkan Islam yang sebenarnya dan mengatur pengikutnya tersesat demi kepentingan mereka sendiri.

NU adalah perkumpulan para ulama yang bijaksana dan yang ingin menegakkan Islam, sudah 800 ulama yang bersedia menjadi anggota serta beberapa ribu umat Islam sudah terbentuk luas dari Banyuwangi hingga Menes.

Sayyid Salim bin Jindan kemudian menjelaskan tentang musuh-musuh Islam dan amalan salah umat Islam saat ini. Pembicara menyampaikan rasa terimakasihnya kepada pemerintah Hindia Belanda yang telah memberikan kebebasan kepada semua orang untuk menganut agama apa pun.

Kemudian perwakilan Menes, Kiai Hazim asal Tasikmalaya serta ketua departemen yang akan dipimpin Kiai Haji Mansyur angkat bicara. Sayid Ali Al-Habsyi yang terkenal dari Kwitang memberikan sambutan yang sangat berkesan. Di akhir pidatonya ia menyatakan bahwa mulai hari itu ia akan menjadi anggota Nahdlatal Ulama yang diterima dengan tepuk tangan.

Baca Juga :   Gema Maulid Barzanji di Kongres Ormas Islam Indonesia Seabad Lalu

Suatu saat ketua rapat kemudian menutup rapat dengan mengemukakan bahwa kongres NU mendatang akan diadakan di Batavia yaitu di bulan Muharram atau bulan Mei.(1933)”

Berita tahun 1932 itu tentu tak serta merta langsung berdirinya NU di Batavia (Jakartra). Tentu ada proses. Di situ juga dijelaksn bahwa kehadiran NU di Batavia mendapat smbuan luas terutama dari kalangan warga keturunan Arab.

Penyebaran NU mendapat dukungan pertama dari kalangan habib. Di DKI Jakarta, peranan Habib Ali Al-Habsyi Kwitang yang langsung mendaftar NU berakibat pada penyebaran NU secara luas. Pengaruh Habib Ali Kwitang memang sngat besar karena ia adalah ulama yang pertama kali memperkenalkan Majelis Taklim.

Habib Ali setelah mendengar bahwa di Surabaya telah berdiri perkumpulan ulama, makai ia memerintahkan muridnya Guru Marzuki bin Mirshad untuk melihat dari dekat oganisasi itu. Kelak Guru Marzuki ditunjuk sebagai pengurus NU Jakarta hingga tahun 1932. Muktamar NU ke 8 di Jakarta tahun 1933 semakin menyemarakkan gerakan NU di Jakarta.

Sebenarnya, Guru Marzuqi bin Mirshad Muara sudah ditunjuk sbagai pengurus NU Jakarta sejak tahun 1928. Guru Marzuqi menjadi pimpinan Majelis Konsul NU Batavia hingga wafatnya pada jam 06.15 WIB, 25 Rajab 1352 H, bertepatan dengan tanggal Selasa, 14 November 1933 M, beberapa bulan setelah muktamar NU di Jakarta.

PBNU kemudian memilih dan menetapkan Guru Manshur Jembatan Lima, Habib Salim al-Haddad, dan M Sastrawinata sebagai Majelis Konsul NU di Batavia. Ketiganya sempat hadir pada Muktamar Ke-13 NU di Menes, Banten, pada Juni 1938.

Karena pada masa penjajahan Jepang organisai daerah berubah. Saiko Shikikan (panglima tertinggi) menetapkan Undang-Undang Nomor 27 tentang Aturan Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 28 tentang Aturan Pemerintahan Syu dan Tokubetsu Syi.

Baca Juga :   Varia Seabad Media NU: Tulisan Media Tahun 1953

Pemerintahan syu (setingkat karesidenan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda) dan Jawa dibagi menjadi 17 syu, terdiri atas Banten, Bogor, Priangan, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Banyumas, Pati, Kedu, Surabaya, Bojonegoro, Madiun, Kediri, Malang, Besuki, dan Madura.

Kemudian, Solo dan Yogyakarta menjadi kochi (daerah istimewa). Sedangkan, Batavia yang diubah namanya menjadi Jakarta menjadi tokubetsu syi (kota praja istimewa).

Pergantian tata pemerintahan ini membuat struktur organisasi NU juga harus menyesuaikan diri agar mempermudah jalinan komunikasi dan koordinasi dengan cabang-cabang di bawahnya. PBNU kemudian mengubah struktur majelis konsul, dari semula di atas tingkat karesidenan menjadi setingkat karesidenan (syu).

Terkait dengan hal tersebut, maka ditunjuklah beberapa orang untuk menduduki posisi konsul (pemimpin Majelis Konsul). KH Zainul Arifin Pohan ditunjuk sebagai pimpinan Majelis Konsul Daerah Jakarta Tokubetu Syi, Banten, dan Bogor Syu.

Setelah Jepang pergi dan Indonesia merdeka, struktur majelis konsul syu ini kemudian berganti kembali seperti pada model sebelumnya, yakni membawahkan beberapa cabang atau karesidenan.

Hal itu berlangsung sampai pada masa ketika NU bersama-sama organisasi Islam lainnya membentuk partai yang disebut Masyumi (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) yang diumumkan berdiri tanggal 7 November 1945.

Kiprah para tokoh NU di Batavia yang notabene ulama Betawi inilah yang sangat berjasa dalam meletakkan dasar-dasar kecintaan sebagian besar umat Islam di Jakarta, khususnya orang Betawi, terhadap NU. Seperti kiprah Guru Marzuqi bin Mirshod Muara, Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Mughni Kuningan, Guru Madjid Pekojan, dan Guru Amin. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.