KHUTBAH JUMAT: MEMPERKUAT KETAUHIDAN DAN MEMPERTEBAL KEIMANAN

0

 

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA (Mustasyar PBNU) 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. يَا أَيُهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّ‍ُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ. قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشِّركُ أخفى في أمَّتي من دَبيبِ النَّملِ علَى الصَّفا في اللَّيلةِ الظَّلماءِ وأدناهُ أن تُحبَّ علَى شيءٍ منَ الجَورِ ، أو تُبْغِضَ علَى شيءٍ منَ العَدلِ وَهَلِ الدِّينُ إلَّا الحبُّ في اللَّهِ والبُغضُ في اللَّهِ ؟ قالَ اللَّهُ تعالى : قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Allah s.w.t. berfirman:

وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّ‍ُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS. Yunus, 10:18).

Akidah yang diajarkan para nabi dan rasul dari masa ke masa adalah akidah tauhid, yaitu mengesakan Allah s.w.t. dan menghindari segala bentuk kemusyrikan. Sepeninggal para nabi, sebagian umatnya banyak terpengaruh oleh kepentingan duniawi dan kecenderungan hawa nafsu, sehingga kemudian mereka semakin jauh dari ajaran tauhid dan banyak yangn menjadi musyrik dan menyembah berhala dalam segala macam bentuknya. Ayat ini menjelaskan tentang macam-macam kemusyrikan yang terjadi dalam kehidupan umat manusia. Kemusyrikan itu diawali dengan menyekutukan Allah dengan berbagai bentuk kemusyrikan. Mereka menganggap Allah itu tetap eksis, tetapi memiliki perantara-perantara yang dapat mendekatkan manusia kepada-Nya.

Asal mulanya mereka menganggap bahwa setiap diri manusia itu kotor dan banyak dosa, sedangkan Allah s.w.t. adalah Dzat Yang Maha Suci. Karena itu, manusia yang kotor tidak mungkin bisa langsung berhubungan dengan Allah Yang Maha Suci. Karena itu harus melalui orang-orang suci yang menjadi perantara dengan-Nya. Pada perkembangan selanjutnya, perantara-perantra itu kemudian terlepas kaitannya dengan Allah s.w.t.. Maka, para perantara itu menjadi sembahan manusia dalam bentuk berbagai macam patung yang mereka buat sendiri. Mereka menyembah para perantara dan patung-patung itu sebagai Tuhan selain Allah yang tidak bisa mencelakakan mereka dan tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun. Mereka menganggap bahwa para perantara dan patung-patung itu sebagai wasilah yang mendekatkan diri mereka kepada Allah s.w.t..

Setelah keyakinan tauhid itu ternoda dan rusak sama sekali dalam kehidupan umat manusia, maka timbullah berbagai macam agama dan keyakinan yang dianut oleh berbagai ras, bangsa dan suku dalam jumlah yang sangat banyak. Di kalangan bangsa Arab Quraisy dijumpai berhala-berhala itu sebanyak 360 yang bergelantungan di Ka’bah. Masing-masing suku memiliki patung sendiri yang diyakini dapat menjadi perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagian dari berhala-berhala yang terkenal di kalangan mereka adalah Latta, Uzza, Manat, Hubal, Suwa’, Nashr, dan sebagainya.

Baca Juga :   KHUTBAH JUMAT: Mengutamakan Wahyu Sebagai Petunjuk Kebenaran

Nabi Muhammad s.a.w. mengajarkan kepada umat manusia agar kembali kepada tauhid yang murni, kepercayaan yang diajarkan oleh para nabi dan rasul, yaitu hanya menyembah kepada Allah Yang Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Kepada orang-orang yang telah terpeleset dari ajaran tauhid, dibimbing kembali agar mereka meninggalkan kepercayaan sesat itu dan kembali kepada kepercayaan yang diajarkan para nabi dan rasul. Kepada mereka yang menyembah patung dan berhala itu diajak berdiskusi, kenapa kalian menyembah sesuatu yang tidak memberikan manfaat atau madarat. Bahkan sesuatu yang kamu sembah itu dibuat oleh tanganmu sendiri. Dengan demikian, mereka akan menyadari kesalahan-kesalahannya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan kepada Tuhan, harus mengembali sumbernya dari wahyu yang disampaikan-Nya kepada para nabi dan rasul dari masa ke masa.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Manusia pada awalnya adalah umat yang satu dan berkeyakinan yang sama, yaitu pada keesaan Allah s.w.t. yang disebut akidah tauhid. Dalam perkembangan selanjutnya, umat yang satu itu terpecah belah menjadi berbagai kelompok dengan keyakinan yang berbeda-beda.

وَمَا كَانَ ٱلنَّاسُ إِلَّآ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ فَٱخۡتَلَفُواْۚ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡ فِيمَا فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (QS. Yunus, 10:19).

Umat yang satu maksudnya adalah suatu bangsa dengan kepercayaan yang sama, yaitu berkeyakinan kepada Allah s.w.t. Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Setiap diri manusia pada saat dilahirkan telah membawa keyakinan tauhid sebagai fitrah kejadiannya. Nabi s.a.w. bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Tiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Majusi, dan Nasrani. (HR. Bukhari, 1385).

Dari hadits ini, dapat diketahui bahwa setiap diri manusia lahir dalam keadaan fitrah atau suci dan bertauhid, yaitu mengesakan Allah s.w.t.. Manusia pada mulanya hidup sederhana dalam satu kesatuan, seolah-olah mereka seperti satu keluarga yang besar. Setelah mereka berkembang biak, maka terjadilah berbagai macam ras, bangsa, dan suku yang berbeda-beda satu sama lain. Perbedaan itu timbul disebabkan karena perbedaan kepentingan, kecenderungan, dan keinginan hawa nafsu. Akhirnya mereka berselisih dan bahkan bermusuhan satu dengan yang lainnya. Karena itu Allah s.w.t. mengutus kepada mereka para nabi dan rasul yang membawa petunjuk kebenaran berdasarkan wahyu dari Allah. Petunjuk itu menghilangkan permusuhan di antara mereka dan membimbing mereka menuju kebahagiaan lahir batin dunia dan akhirat.

Sebagian dari manusia ada yang tidak mentaati bimbingan para nabi dan rasul itu, bahkan sebagian mereka menolak dengan keras. Kelompok ini menjadi golongan orang-orang yang kafir yang menentang kebenaran dan merusak dalam kehidupan masyarakat. Karena itu apabila mereka tidak kembali dan mengikuti jalan yang benar, akan tercampakkan dalam kehidupan yang hina, baik di dunia, maupun di akhirat.

Kaum Muslimin yang kami muliakan

Orang-orang kafir dan musyrik meminta didatangkan tanda-tanda kekuasaan Allah yang diwujudkan dalam mukjizat nabi.

Baca Juga :   KHUTBAH JUMAT: Bulan Rajab Dan Pembelajaran Dari Waliyullah

وَيَقُولُونَ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ ءَايَةٞ مِّن رَّبِّهِۦۖ فَقُلۡ إِنَّمَا ٱلۡغَيۡبُ لِلَّهِ فَٱنتَظِرُوٓاْ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِينَ

Dan mereka berkata: “Mepada tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Tuhannya?” Maka katakanlah: “Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang manunggu. (QS. Yunus, 10:20).

Setelah dijelaskan tentang penolakan orang-orang kafir terhadap wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w., sebagai manusia biasa dan bukan dari kalangan malaikat. Orang-orang kafir itu meminta agar Rasulullah s.a.w. mengganti ayat-ayat al-Qur’an dengan ayat-ayat yang sesuai dengan keinginan mereka. Mengikuti kepercayaan mereka yang sesat, mengikuti kemauan hawa nafsu mereka, dan tidak melarang perbuatan keji dan munkar. Bahkan pada permintaan selanjutnya, mereka meminta bukti mukjizat-mukjizat selain dari al-Qur’an. Mereka mengatakan, mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad tanda-tanda kerasulannya yang berhubungan dengan alam semesta ini. Mereka menuntut mukjizat yang pernah diberikan Allah kepada nabi terdahulu, seperti tsunami di zaman Nabi Nuh, tongkat Nabi Musa yang dapat membelah laut, mukjizat Nabi Isa yang mampu menyembuhkan penyakit supak, menyembuhkan penyakit buta, dan lain sebagainya.

Keheranan mereka terhadap Nabi Muhammad yang dijadikan utusan Allah, yang terdiri dari manusia biasa yang makan dan minum, berkeluarga, berdagang ke pasar, dan sebagainya, dilukiskan dalam ayat berikut:

وَقَالُواْ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا

Dan mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang yang zalim itu berkata: “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir”. (QS. al-Furqan, 25:7-8).

Tidak hanya sampai di situ, orang-orang kafir juga meminta bukti mukjizat Nabi dengan kebun-kebun yang indah, yang mengalir sungai di dalamnya atau azab dengan meruntuhkan langit atau rumah yang terbuat dari emas.

وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا أَوۡ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٞ مِّن نَّخِيلٖ وَعِنَبٖ فَتُفَجِّرَ ٱلۡأَنۡهَٰرَ خِلَٰلَهَا تَفۡجِيرًا أَوۡ تُسۡقِطَ ٱلسَّمَآءَ كَمَا زَعَمۡتَ عَلَيۡنَا كِسَفًا أَوۡ تَأۡتِيَ بِٱللَّهِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ قَبِيلًا أَوۡ يَكُونَ لَكَ بَيۡتٞ مِّن زُخۡرُفٍ أَوۡ تَرۡقَىٰ فِي ٱلسَّمَآءِ وَلَن نُّؤۡمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّىٰ تُنَزِّلَ عَلَيۡنَا كِتَٰبٗا نَّقۡرَؤُهُۥۗ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولٗا

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini kecuali hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. al-Isra, 17:90-93).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Baca Juga :   KHUTBAH JUMAT: TANGGUNG JAWAB AMAL PERBUATAN DAN KONSEKUENSI LOGISNYA

Menghadapi tantangan dari orang kafir itu, Nabi Muhammad s.a.w. dibimbing oleh Allah s.w.t. agar menyampaikan jawaban sebagai berikut:

وَمَا مَنَعَنَآ أَن نُّرۡسِلَ بِٱلۡأٓيَٰتِ إِلَّآ أَن كَذَّبَ بِهَا ٱلۡأَوَّلُونَۚ وَءَاتَيۡنَا ثَمُودَ ٱلنَّاقَةَ مُبۡصِرَةٗ فَظَلَمُواْ بِهَاۚ وَمَا نُرۡسِلُ بِٱلۡأٓيَٰتِ إِلَّا تَخۡوِيفٗا

Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti. (QS. al-Isra, 17:59).

Sesunguhnya permintaan permintaan orang musyrik yang aneh dan tidak masuk akal itu hanya mengada-ada untuk menunjukkan kekafirannya. Sebab nabi-nabi terdahulu yang diberikan kepada mereka mukjizat sesuai dengan apa yang mereka minta, ternyata mereka juga tidak beriman. Seperti yang dialami oleh umat Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Musa, Nabi Isa, dan sebagainya. Sesungguhnya mukjizat itu diberikan Allah kepada nabi dan rasul-Nya sesuai dengan zaman mereka masing-masing dan sesuai dengan tantangan yang mereka hadapi. Khusus kepada Nabi Muhammad s.a.w., diberikan mukjizat berupa al-Qur’an, yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi kepada perkembangan dunia, yaitu pada zaman pertengahan, zaman modern, dan postmodern.

Al-Qur’an memberikan petunjuk-petunjuk yang lengkap kepada umat manusia dalam segala waktu dan tempat, serta selalu up to date. Nabi s.a.w. bersabda:

مَا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا قَدْ أُعْطِيَ مِنْ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tiada seorang nabi pun (yang diutus oleh Allah) kecuali Ia memberinya mukjizat-mukjizat yang telah beriman kepadanya manusia pada zamannya. Sesungguhnya yang diberikan kepadaku tidak lain adalah wahyu yang telah Allah wahyukan kepadaku. Maka aku berharap agar akulah di antara mereka yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat. (HR. Muslim, 217).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلَهُ, أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. اَللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمْسُلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ اَللّهُمَّ أَصْلِحِ الرُعَاةَ وَالرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فىِ السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.