Oleh: Gian Aditya Mahya, Santri, (Pondok Bina Yatim Darul Jundi Kota Malang)
Sore itu, jadwal pondok kembali dilaksanakan. Satu persatu santri di obrak-abrik oleh keamanan disana. Mereka dipaksa harus mengaji dengan belajar menggunakan kitab kuning. Semua harus ikut! Jika tidak, maka mereka tidak dapat bermain di luar pondok. Seluruh tempat di babat habis oleh keamanan untuk mencari di mana lagi santri bersembunyi.
“HEHH AYO SEMUA TURUN! SIAPA YANG SURUH DISINI?”
“O-o iya mass, ini siap siap turun kebawah kok.”
“AYO CEPET, LAYANGAN MULU YANG DIPEGANG, LEMOT AMAT SI JADI ANAK!”
Tak luput dari siapapun, satu anak yang suka duduk sendirian di loteng itu ternyata hampir ketahuan sedang bersembunyi dan membuka layar laptopnya. Dia
ketakutan, dia bergegas menutup laptopnya dan menyembunyikan nya di atas lemari.
“HEH, SIAPA SURUH KAMU DISINI? NGAPAIN SI HOBI BANGET KAMU DUDUK SENDIRI DISINI!?”
“E-engga kok mass, maafin aku ya aku cuman pengen sendirian dan ngelamun aja.”
“Hadehh, yaudah cepet turun sana!”
Mengaji pun berlangsung, anak anak di sana mengerjakan penuh semangat. Terkecuali Andi yang tidak mendengarkan apa kata guru yang sedang mengajar. Tatkala dia hanya memikirkan pegangannya sore hari itu, laptop.
“Hmm, ngaji ginian bosenin banget sih, masa tiap hari suruh nyalin ini kitab, di coret coret. Kudet banget sih ni pondok!” Hati Andi bergumam.
“Hehhh siapa itu yang di pojokan, ngapain kamu ngelamun? Dengerin ustadz gak?!”
“H-hah? Engga kok pak, ini saya lagi dengerin bapak daritadi.”
“Yauda ulangi aja 3 kalimat sebelum bapak ngomong gini.”
“E-ee-e, bapak nyuruh kami untuk ngerjain halaman 28 kan pak?”
“Tuhkan ketauan gak dengerin, orang bapak daritadi cuman cerita masa lalu bapak gak ada tuh bapak ngomong harus ngerjain.”
“WUUU, TUU DENGERIN ANDI KALO GURU LAGI NGOMONG!”
“Aku kalo jadi Andi ya malu banget pasti, lagian bodo banget sih dia? hahahahha.”
Andi hilang arah, dia sungguh dibuat malu oleh teman temannya. Tak ada yang bela, tak ada yang peduli, bahkan untuk melirik Andi pun tak sudi.
Namun, jiwa Andi terus menggoyahkan semangat. Semangat membawa menggetarkan hati dan membuka pikiran baru. Andi memang tak suka belajar dengan cara yang monoton, dia ingin mengembangkan segalanya!
Singkatnya, ngaji itu telah berakhir. Kegiatan mereka selanjutnya adalah istirahat. Disitulah taman nya Andi. Teman temannya ada yang bermain di dalam kamar, bahkan ada yang sudah tidur, ataupun belajar pelajaran yang sudah diajarkan tadi. Namun, tidak dengan Andi. Dia membuka laptopnya dan mencari informasi mengenai beasiswa IT.
“Males banget aku harus dengerin ceramah yang gak ada habisnya. Aku tadi cuman bengong dimarahin bahkan temen temenku gak ada yang peduli sama aku.” Gumam Andi.
“Aku harus bisa! Aku harus buktiin kalau aku bukan lah orang yang bodoh!”
Andi menutup laptopnya, dia mengambil secarik kertas, mengambil pensil, lalu menuliskannya dengan penuh semangat. Dia menuliskan serangkai kalimat, lalu dia meremas kertas tersebut dan dia buka kembali. Lalu dia tempel kertas tersebut di dalam tas laptopnya, dia berjanji bahwa kertas tersebut bukan hanya sebagai wasiat semata, tetapi dia yakin bahwa dia bisa mewujudkan kertas yang rusak tersebut menjadi kertas yang tetap bernilai bagi orang lain.
Suasana malam membeku menunjukkan waktu tidur semua santri. Tepat pukul 00.00, Andi tidak tidur sama sekali. Alunan suara angin menyenggol daun telinga, suara hewan perengat menjadi teman Andi malam itu. Langit langit cerah berwarna gelap kehitaman, disinari oleh debu debu kosmik bintang. Menjadikan malam tersebut bukan hanya sekedar “Malam” Tetapi juga sebagai pengingat Andi, bahwa gelap bukan berarti hampa, tetapi hanya sebagai simbol
bahwa gelap adalah cahaya yang padam, bukan berarti tidak ada cahaya sama sekali.
Andi seolah olah berbicara dengan bintang bintang itu, dia merasa hampa dan kosong. Dia bercerita kepada bintang menyala itu, seolah temannya adalah cahaya yang padam, bukan cahaya yang menerangi hingga menusuk pori pori kulit. Bintang bintang itu seolah memberitahu, bahwa semua orang ibaratkan sebagai anjing liar yang suka membenci anjing peliharaan.
Andi meninggalkan kursinya di loteng, membiarkan kursi itu diduduki oleh angin yang lewat. Dia pergi ke dapur, lalu membuat kopi supaya dia tetap terjaga di malamnya. Dia kembali ke loteng, kembali menduduki kursinya yang membeku dingin, lalu menyeruput kopi panasnya itu. Seolah, kopi itu menjadi teman barunya di malam itu, panas kopi itu bukan berarti menyakitkan bagi lidah, tetapi menjadi obat agar otak tidak monoton dengan rasa dingin malam itu.
“Haha, enak banget emang. Kopi emang the best dah jadi temen ku malem ini. Gini paling bener buka laptop terus cari inovasi, yakali ngaji gini gini doang, gaptek banget. Tiap hari cuman disuruh nulis di buku, dengerin sampe ngantuk, cuih! Bosen banget.”
“BAAA!!!”
“HAAAA! Duh apasih Jo, sumpah ngagetin banget.”
“Hahaha, aku ngagetin soalnya daritadi aku liat kamu ngelamun doang, jadinya aku kagetin lah biar gak kemasukan. Apalagi malem malem gini, udah jam 00.37 loh.”
“Ck, haduhh napa sih, kan bisa negurnya pelan pelan doang, kenapa harus ngagetin juga? Liat tuh banyak yang kaget gara gara kamu doang.”
“Heheheh, iya sih. Tapi aku kepo deh akhir akhir ini. Kalo aku gak kebangun malem malem gini, aku gak
bakal ngeliat kamu bakal buka laptop disini. Padahal kan gak boleh? Ga takut ketauan?”
“Aku takut sebenernya, tapi kalo gak gini, aku gak bakal tau apa aja kurangnya pondok ini.”
“Hah gimana gimana?” Tanya penasaran dari si Jo.
“Maksudnya, kalo aku gak tau apa aja inovasi buat zaman sekarang, pondok bakal di cap gaptek dan banyak yang gak tertarik mondok.”
“Ohh aku paham alurmu mau kemana. Jadi langka selanjutnya?”
“Tunggu aja nanti, kamu mau ikut?”
“… GASS!!”
Mengejutkannya, Andi tidak sendirian! Bahkan dia bisa menemukan teman hanya dengan membuat
secangkir kopi. Bahkan hanya dengan bau kopi itu, dia bisa memiliki teman dengan sendirinya.
Waktu demi waktu terus berjalan, tanpa berhenti, mereka mencari inovasi terus menerus dan memikirkan bagaimana cara menerapkan nya. Sungguh malam itu menjadi sangat berbeda, anak anak lain menghabiskan malam itu dengan bermimpi indah, sedangkan mereka berdua, menghabiskan berjam jam hanya demi sebuah wawasan yang akan bernilai nantinya.
Jam 4 subuh, mereka berhenti dan melanjutkan sholat subuh. Dan hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Mereka tertidur saat berdzikir selesai sholat, menjadikannya mereka harus dihukum membersihkan seluruh area pondok dari pagi sampai siang.
Tepatnya pada pukul 07.30 mereka membersihkan seluruh area pondok dengan malas malasan.
“Sumpah ngantuk banget tadi Jo, kok bisa kita tadi ketiduran ya padahal udah biasa begadang.”
“Gatau, capek mikir kita mah. Lagian ngotot banget ya tadi malem, tapi seru sih.”
“Iyaa, asik banget. Sebenernya kita gak bisa gak sih ngelakuin itu semua? Bagaimana caranya coba, kita hanya remaja yang penuh penasaran kan?”
“Sekarang kita lihat filosofi dari gelas. Semula kita hanya terbentuk dari pasir, ya itu lah kita. Semakin lama kita dipanaskan, maka itu lah proses pedihnya kita berusaha. Lalu menjadi gelas, itulah masa depan kita, yang siap mewadahi air air bersih. Dalam artian kita sudah membentuk masa depan yang siap mewadahi wawasan dan bermanfaat bagi sesama. Ingat kita harus menancapkan slogan Bermanfaat di Segala Tempat, Bikin Hidup lebih Berarti.”
“Kamu ada benarnya, namun bagaimana kalau gelas itu gagal dibentuk?”
“Bahkan Allah sudah menjelaskan dalam Al Qurannya bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. Akankah kamu ingkar akan janji Allah yang mutlak itu? Bahkan jika kita gagal sekalipun, kita masih bisa berjuang dengan hal yang lain, maka jangan lah kita berprasangka buruk kepada Allah.”
“Betul juga ya, kamu ada benarnya. Ada kalanya aku semangat karena termotivasi, ada kalanya juga aku butuh motivasi dari seseorang yang aku ajak.”
“Hidup ini sama halnya dengan roda, dimana roda terus berputar. Ada kalanya kamu di atas ada juga kamu akan di bawah, semua tergantung takdir dari sang Pencipta.”
“Yaudah ayo lanjutin ini, biar kita cepet selesainya cepet istirahat.” Ajak Andi.
“Yaudahh ayoo.”
Singkat cerita mereka telah selesai membersihkan lingkungan pondok sekitar jam 09.00. Meskipun malas malasan, mereka bisa menunjukkan ketekunan mereka sebagai santri yang sesungguhnya. Lingkungan menjadi bersih, asri, bahkan seekor lalat pun enggan melihatnya. Kupu kupu beterbangan mencari pasangannya, bahkan sebutir serbuk bunga. Haha, sungguh mereka adalah sahabat dekat yang tak pernah terpisahkan, bahkan bersih bersih lingkungan saja mereka kompak.
Awan awan membentuk kupu kupu, menandakan bahwa betapa indahnya kebersamaan mereka. Awan berwarna biru laut, sungguh warna ini adalah warna kesukaan mereka. Betapa indahnya kebersamaan mereka di pondok hari itu.
“Lanjutt yuk, mumpung istirahat.”
“Lanjut apaan dah?”
“Lah kamu yang ngajak kenapa kamu yang lupa, lanjut belajar lahh.”
“Tapii aku males banget ya.”
“Gimana mau berhasil kalo suruh fokus satu hal aja gak mau?”
“Tapi males itu wajar gak sih?”
“Wajar kok, yang gak wajar itu males yang menghambat masa depanmu.”
“Iyaa juga sih, yaudah ayo.”
Mereka lanjut belajar di kamar mereka. Mereka membuka laptopnya dan tiba tiba.
“Siapa suruh buka laptop? Buat main game kan pasti?”
“E-engga mas, kita ini cuman buat belajar aja kok engga aneh aneh.”
“Mana sini laptopnya.”
“Mas, jangan mas, kita belajarnya gimana kalo ini di sita mas.”
“Urusan kalian sih, akh cuman menjalani tugas doang.”
Dia laptop itu terpaksa harus di sita oleh keamanan nya. Dengan berat hati mereka harus memberikan laptop tersebut ke genggamannya. Mau bagaimana pun mereka
harus berusaha untuk menjelaskan semua ke pengasuh pondok tersebut agar tidak terjadi salah paham.
“Assalamu’alaikum ustadz, kami izin meminta waktu nya untuk berbicara kepada ustadz di dalam apakah boleh?”
“Waalaikumsalam, boleh boleh silakan masuk aja.”
“Ustadz, jadi gini, kami berdua datang kesini untuk menjelaskan kepada ustadz tentang laptop yang disita.”
“Owalah iyaa ustadz tau kok, untung kalian kesini jadi saya ga usah repot repot buat ngembalikan ke depan. Saya tahu kok kalian pakai buat belajar kan? Niat kalian
baik, kalian mau belajar teknologi untuk pondok ini, semoga kalian berhasil ya.”
“Aamiin ustadz, tapi kok ustadz bisa tau kalau itu kami pakai buat belajar bukannya di tutup tadi?”
“Hahahaha, tadi Mas Toni kesini sambil jelasin ke saya. Dia sebelum nutup laptop kalian, dia sempet liat kalian belajar buat apa saja. Jadi dia nyita laptop kalian buat menguji aja seberapa tekun kalian. Dan ternyata saya dengan Mas Toni begitu bangga kepada kalian. Walaupun hasilnya belum terlihat, kalian udah menunjukkan proses yang luar biasa kepada kami. Padahal kalian masih kelas 12, tapi pikiran kalian bukan
untuk diri sendiri tapi untuk masa depan orang bahkan tempat yang sudah memberikan kalian ilmu.”
“Haha, iya ustadz. Kami jujur saja, sebenernya kami suka belajar disini, namun kalau diliat metode belajar dengan keadaan zaman sekarang sepertinya kurang cocok ustadz. Teknologi sudah dimana dimana, jadi kami tidak mau pondok dipandang oleh masyarakat awam bahwa pondok ini adalah tempat yang membosankan dan tak berfaedah.”
“MasyaAllah, niat kalian sungguh luar biasa. Semoga Allah memberikan kalian kemudahan dan kelancaran menimba ilmu kedepannya, aamiin.”
“Aamiin Yaa Rabbal Alamin.”
Dan tak terasa, bahwa ternyata mereka sudah kuliah. Begitu banyak hal hal yang mereka lalui cara mereka berproses. Dan tanpa sadar, sedikit lagi, sedikit lagi, dan sedikit lagi, mereka akan berhasil mencapai puncak kejayaannya. Mereka akan lulus dengan jurusan
yang sama. Mereka juga sudah bisa membuka bisnis kewirausahaan mereka sendiri. Omset mereka ratusan juta, bahkan mereka sudah booking peralatan peralatan seperti LCD, Proyektor, SmartBoard, dan lain sebagainya. Mereka booking itu semua karena satu, untuk pondok nya yang menjadi pendidikan mereka utama.
Dan pada akhirnya, cerita mereka tidak berakhir di situ saja, mereka terus berproses bersama hingga mereka menjadi sahabat yang tak kan terpisahkan kecuali maut memisahkan. Bahkan mereka juga berhasil menjadi guru di pondok tersebut.