BUAT DUNIA BERPUTAR DALAM PELUKAN AGAMA

0

Oleh: Madina Safira Rahmatullah, Ponpes Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur

Dunia tidak akan sama setiap harinya, zaman akan selalu berubah atau berganti. Dalam kehidupan, sudah pasti ada yang namanya evolusi, semua orang akan silih berganti, tren-tren yang mulai tidak masuk akal mendunia, kasus-kasus pembunuhan, kriminalisasi, penjarahan, dan korupsi mulai marak terjadi disekitar kita. Ditengah kekacauan dunia saat ini, akankah santri zaman sekarang masih bisa mempertahankan nilai-nilai agama tanpa terjerumus kepada apa yang sedang terjadi sekarang?

***

Burung terbang dan berkicau dalam sejuknya pagi. Seorang perempuan muda terbangun dari tidurnya karena…BRAK!!BRAK!!BRAK!!

NAAKK! AYO BANGUN!! NANTI JAM 10 SUDAH BERANGKAT LHOO!!”

“aduh bu, iya-iya ini Imelda sudah bangun kokk”

Ia akhirnya bangkit dari tempat tidurnya, menyeka rambut di dahinya sambil menghela nafas. Ini terakhir kalinya ia menginjakan kaki di rumahnyaataupun tidur dikamarnya. Pasti,untuk anak zaman sekarang masuk pondok adalah mimpi terburuk dalam hidupnya, sama seperti yang dipikirkan oleh Imelda. Sayangnya, keputusan orang tuanya tidak bisa diganggu gugat, tapi dia juga berpikir bahwa ketika di pondok ia tidak akan jatuh kepada hal-hal yang negatif.

Berjalan dengan langkah malas, ia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk persiapan. Terdengar suara air yang bergemericik. Disamping itu, Ibu Imelda sedang menyiapkan koper dan keperluan sang putri untuk di pondok.

Dalam perjalanan, sangat ramai akan santri yang berangkat ke pondok juga. Imelda melamun memikirkan masa yang akan datang dimana ia akan menjalani kehidupan sehari-hari dengan sendiri tanpa kedua orang tuanya.

“yang pintar ya, dipondok.”

“hm.”

“kenapa? Kok kayak murung begitu”

“Aku tidak sanggup tanpamu, Ibu”

“sanggup, percayalah Ibu selalu disampingmu dalam do’a”

“Aku juga tidak sanggup tanpa Ayah, siapa yang akan menghiburku dikala sedih?”

“Ayah akan menghiburmu lewat mimpi yang indah”

Setelah sekian kata perpisahan yang diucapkan,akhirnya Imelda masuk kedalam gerbang pondok. Disana,sudah berdiri berjejer para pengurus pondok yang menunggu datangnya santri baru untuk memperkenalkan lingkungan pondok dan kamar yang akan ditempatinya. Imelda menghampiri salah satu pengurus itu dan bertanya.

“permisi Kak, mau bertanya”

“oh iya, tanya tentang kamarnya ya?”

“eh, iya Kak”

“namanya siapa?”

“Imelda Aisyah Putri”

“oke, sebentar ya”

Setelah mencari namanya di buku keterangan, dia ternyata mendapat kamar Marwah dikelas tahfidz yang beranggotakan 15 orang. Seketika itu juga ia diantar mengelilingi pondok sebentar lalu berhenti pada kamarnya. Disana terlihat bukan hanya ada anak baru tapi juga para santri lama. 

“Assalamu’alaikum, guys, ini anak baru terakhir di kamarmu”

“oh, iya. Terima kasih Kak Za”

Imelda menarik kopernya lalu menerima kunci lemari dari sang pengurus. Dengan langkah pelan ia berjalan ke lemari yang sudah ditunjukkan oleh Kakak-kakak dikamarnya. Membuka lemari Imelda mulai membersihkannya dengan tisu lalu mulai menata bajunya. Dalam tengah keheningan tiba-tiba sebuah suara terdengar.

“ayo perkenalan, habis ini”

“lah, emangnya sudah semua santri barunya?”

“lihat sendiri lah, lemarinya sudah terisi semua, lagian katanya sudah terakhir kan?”

“iya, sih”

“kita tunggu mereka selesai berberes dulu deh, Sipa”

“iya”

Beberapa menit yang lalu, anak baru sedang menata bajunya sedangkan kakak kelasnya berbincang-bincang. Setelah semuanya selesai, mereka pun mulai melingkar dikamarnya.

“okee! Ayo perkenalan, mulai dari… anak barunya dulu ya”

“iyaa”

Kata demi kata terucap pada perkenalan di siang hari itu. Setelah mengenal satu sama lain, 5 orang kakak kelas itu mulai menjelaskan beberapa aturan pondok yang harus diketahui sebelum sosialisasi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

“dimohon aturannya di patuhi dengan baik ya, teman-teman”

“emangnya kalo tidak di patuhi kenapa nih, Sipaaa?? mungkin ada yang bertanya-tanya”

“kalo emang udah aturannya, kenapa tidak di patuhi saja? Kan sudah ada hadistnya dari Tirmidzi, ‘Jika kamu menginginkan ilmu, maka kamu harus mengikuti jalan-jalan ilmu yang telah ditentukan, dan menundukkan hatimu kepada para ulama. Tidak ada yang lebih berhak untuk memberi petunjuk kepada umat daripada mereka.’”

“siap, Kakak!!!”

***

Suara bel terdengar kencang membahana dalam pondok As-Salam itu. Para kakak kelas saling membangunkan kamarnya masing-masing. Waktu tahajud telah tiba.

Ayo! Ayo! Bangun! Imelda, Adel, Valen, Sani, Nata, Janetta, Gendis, Savira, Amalia, Keisya!!

“wihh, absen dulu ini Kakak Sipaa’

“shutt, cepat wudhu sana!’

“aduh, Kak Sipa”

Para santri sedang berbondong-bondong menuju kamar mandi untuk wudhu, mereka berbaris rapi menuju giliran dan setelah menunggu lama akhirnya Imelda selesai juga, dengan melangkah mengantuk dan kedinginan, ia memakai mukena putih panjangnya lalu duduk di musholla sambil menunggu temannya yang lain. Setelah tahajud, mereka melaksanakan jamaah subuh dan rutinan setelah jamaah yakni membaca Al-Qur’an. 

“ayo bersama-sama, berdoa sebelum mengaji mari baca Al-Fatihah”

“Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Arrahmanirrahim. Maliki yaumiddin.Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Ihdinas siratal mustaqim.  Siratal lazina an’amta ‘alaihim ghairil maghdubi ‘alaihim walad dallin. Aamiin”

Rutinan pun selesai, maka sudah saatnya bagi Imelda dan kawan-kawan untuk bersiap menuju sekolah. Imelda akhirnya berangkat dengan salah satu teman kamarnya yaitu Keisya, mereka berbincang-bincang dan tertawa bersama melupakan sejenak kejenuhan. Di jalan, mereka juga berpapasan dengan para santri lain. Dan tidak diduga ada seorang santri yang berkata kasar.

sialan! Dasar teman tidak tahu diuntung!”

“eh, Kak jangan berkata kasar, tidak baik lho”

“Key, jangan ngomong begitu, nanti kita malah kena imbasnya”

“justru kita harus mengingatkan, Mel”

“tapi-“

“sudah aku saja” (Keisya pun maju ke kakak kelas itu)

“berkata kasar itu bisa buat sakit hati sang pendengar lho”

TAHU APA KAU! Tidak usah  sok tahu dasar anak baru!”

“jangan hanya remehkan aku karena aku seorang anak baru, ada hadistnya lho Kak”

“memang iya?”

“dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam (H.R. Imam Bukhari No.6018 dan Imam Muslim No.47), dan juga dalam al-qur’an disebutkan “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain… dan jangan saling mencela dirimu sendiri, serta jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…”(QS. Al-Hujurat: 11)

“ih, tidak usah sok alim!!”

“aku hanya berusaha untuk menebar kebaikan hari ini, Kakaknya udah ada pelajaran tentang dosanya berkata kasar, minimal dilakukan lah, Kak”

“bacot”

“astaghfirullah, ada hadistnya juga lho tentang mengamalkan pelajaran yang kita tau”

“ish!! pergi sana!!”

“semoga dikasih hidayah ya Kak” (Keysa kembali ke Imelda)

“ayo, mel”

“eh, iya”

Kembali berjalan, Imelda sempat menoleh kepada kakak kelas yang tadi diceramahi keysa, terlihat muka yang merah padam menunjukkan kemarahan. Meskipun begituImelda tetap kagum kepada Keysa, betapa beraninya dia membela kebenaran tanpa pandang bulu. Dia merasa senang mempunyai teman seperti Keysa karena dengan begitu dia bisa belajar dengan nyaman kaena mempunyai teman yang baik.

Masuk gerbang sekolah, terlihat orang yang ramai berkumpul. Penasaran,Imelda dan Keysa mendekat.Ternyata itu adalah papan informasi tentang pembagian kelas. Dalam papan informasi itu tertulis nama Imelda di kelas tujuh-U sedangkan Keysa berada di kelas tujuh-N.

“yah,kita berpisah,kes”

“nanti juga ketemu lagi,kan?”

“iyasih…okee deh,dadah Keysa”

“dadah”

  Dan disitulah mereka berpisah lalu pergi mencari kelas masing-masing. Kelas Imelda berada di lantai dua gedung utama, dibawah kelas Keysa yang berada di lantai tiga. Imelda masuk ke kelasnya dan memilih tempat duduk disamping jendela. Selang beberapa menit kemudian datanglah teman-teman Imelda yang lain. Lalu salah satu anak bertanya padanya

“eh,sebelahmu kosong tidak?”

“iya”

“boleh aku duduk disini?”

“tentu”  (diapun duduk disamping Imelda)

“namamu siapa?”

“Imelda Aisyah Putri”

“salken Imel, namaku Iklima Nur Aini”

“kamu asalnya dari mana?”

“dari mojokerto, kalau kamu?”

“dari kediri”

Kring!!Kring!!Kring!!

Bel berbunyi saat mereka sedang berbincang-bincang tanda bahwa kelas akan dimulai. Seorang Guru masuk ke dalam kelas dengan salam dan langsung memperkenalkan diri. Namanya, bu Rahna, wali kelasyang juga mengajar Bahasa Jawa. Untuk periode yang akan datang kelas tujuh-U akan didampingi oleh Bu Rahna sebagai wali kelas yang juga mengajar Bahasa Jawa. Untuk hari ini hanya akan diadakan perkenalan kelas dan pembagian pengurus kelas, Imelda ingin menjadi bendahara. Pada saat pemilihan, ia mengacungkan tangannya, menawarkan diri sebagai bendahara. Bu Rahna menulis namanya bersama dua anak lain. Lalu bertanya siapa yang cocokmenjadi seorang bendahara. Imelda terpilih menjadi bendaharajuga satu anak lain sebagai pendamping. Dia sangat senang, karena dia berpikir jika uang jajannya habis dia bisa mengambil uang kas kelas.

Pertemuan hari ini hanya untuk itu. Saat pulang Imelda menunggu Keysa di gerbang sekolah. Dengan bosan ia menunggu dan akhirnya batang hidung Keysa terlihat juga. Imelda meneriakinya agar mendekatinya.

“sini, kess!!”
”oh,iya”

(sambil berjalan mereka saling berbincang-bincang pengalaman di kelas)

“tau tidak, Kes?”

“kenapa?”

“aku jadi bendahara!!”

“wih, selamat ya!”

“iya, makasih. Habis ini aku tidak bakal kehabisan uang sama sekali!!”

“kok bisa?”

“kan bisa ambil uang dari kas”

“jangan lupa dikembalikan, lho”

“ngapain dikembalikin coba?”

“astaghfirullah, itu termasuk perbuatan mencuri, tau!! Korupsi!!”

“emangnya kenapa?”

“kamu tau tidak? Itu termasuk perbuatan dosa loh, ada hadistnya dan juga sudah disebutkan dalam al-qur’an!! Rasulullah SAW bersabda: ‘barang siapa berkhianat dengan mengambil harta ghanimah (korupsi), maka pada hari kiamat ia akan datang dengan membawa apa yang ia korupsi itu (HR.Muslim no.1833). kalau di al-qur’an disebutkan dalam surat al-baqarah ayat 188 : Wa lā takulū amwālakum bainakum bil-bāṭili wa tudlū bihā ilal-ḥukkāmi litakulụ farīqam min amwālin-nāsi bil-iṡmi wa antum ta`lamụn. Yang artinya “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.””

“aku merasa tertampar. Aku tidak  tau perbuatan itu sangat dosa…makasih ya, Kes. Kamu udah mengingatkanku sebelum aku terjerumus dalam lubang penuh dosa”

“iya, sama-sama mel”

“Kes, kamu punya ilmu yang sangat bermanfaat, kenapa tidak buat komunitas hijrah? Agar kita bisa sama-sama pergi ke jalan yang benar dan masuk ke surga”

“ide yang bagus, tapi aku tidak tau caranya gimana?”

“santai, urusan itu bisa dipikir nanti-nanti yang penting ajarin aku dulu caranya”

“cara apa?”

“hafal hadist dan al-qur’an”

“ya itu berawal dari kamu sendiri, mau tidak kamu berusaha untuk menghafal hadist dan al-qur’an”

“o-ok”

Hari berubah menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan. Imelda sekarang sudah berubah menjadi lebih baikkarena ditemani oleh Keysa. Dihari jum’at yang tenang, hari libur yang bersamaan dengan hari sambang, hampir seluruh santri sambang, termasuk kamarnya Imelda kecuali dirinya. Ketika semuanya sibuk memegang Handphone sedangkan ia tidak, tiba-tiba salah satu kakak kelas Imelda mengajaknya membuat vidio.

“hah? Vidio apa?”

“trend tantangan WAP”

“astaghfirullah!! maksudnya!? itu tidak etis lho, Kak”

“emang peduli apa? Ayolah, Mel. Biar populer!”

“astaghfirullah, Kak Fitri…padahal sudah dewasa, masa’ masih ikut gituan?”

“masalah buat kamu emangnya?”

“dosa, Kak Fit”

“tidak peduli!”

“ingat, Kak Fit, dalam al-qur’an surat al-ahzab ayat 59 sudah ditegaskan bahwa Yā ayyuhan-nabiyyu qul li-azwājika wa banātika wa nisā’il-mu’minīna yudnīna ‘alaihinna min jalābībihinna, żālika adnā an yu‘rafna fa-lā yu’żain, wakānallāhu gafūrar-raḥīmā. Yang artinya, Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

“kalo itu sih, aku udah tau”

“kenapa tidak di terapkan?”

“udah, aku cuma mau tes kamu aja”

“lah, tidak jelas ih!”

“yaudah”

Dengan langkah arogan, Kak Fitri meninggalkan Imelda lalu melanjutkan aktivitasnya bermain HandPhone. Sudah satu semester yang sudah dijalani oleh Imelda, dan sudah tidak terasa perpulangan sudah esok hari. Dalam perasaan senang, ia membereskan lemari dan mulai packing. Sebelum itu, Imelda dan Keysa sudah berjanji untuk menebarkan kebaikan di daerah masing-masing untuk menjadikan dunia yang berputar dalam pelukan agama.

***

 

 

Hari yang paling dinanti akhirnya tiba, setelah rindu yang sudah terpendam berbulan-bulan, akhirnya Imelda bertemu lagi dengan orang tuanya. Sesaat setelah Keysa dijemout, orang tua Imelda datang. Setelah mengurus keperluan yang akan dibawa pulang, Imelda pamit kepada teman-temannya dan para kakak kelasnya.

“aku pasti nanti kangen sama Kakak Sipa!”

“shut, tidak usah drama. Pulangnya cuma bentar aja kok”

“hehe”

Seteah berpamitan, Imelda masuk kedalam mobilnya dan sudah disambut hangat oleh sang orang tua, dengan menangis, Imelda memeluk kedua orang tuanya dan berkata

“Ayah, Ibu, Imelda oulang membawa ilmu yang akan membuat derajat kalian di surga nanti tinggi”

“Alhamdulillah,  kami bangga ounya anak kayak kamu, Mel”

“makasih ya, Bu”

“dirumah nanti ayo keluar-keluar”

“tidak perlu, Yah. Perempuan itu lebih baik berdiam diri di rumah”

“oiyakah? Padahal ayah sudah menyiapkan 10 pilihan wisata”

“banyak banget”

“kamu ‘kan anak tersayangnya Ayah”

“aku cuman mau kebersamaan kita bersama”

“sayang deh, sama Imelda”

Perjalanan yang penuh kehangatan dan kebahagiaannketika menuju ke rumah. Tawa, bahagia saling terlontarkan. Dalam kebersamaan itu, Imelda berpikir bahwa betapa beruntungnya dia. Ketika sampai dirumah, Imelda merebahkan badan di kasurnya. Membuka HandPhone, dia mulai mengirim pesan kepada Keysa. Mengingat dia punya janji dengannya untuk membuat akun bersama untuk memposting vidio pembelajaran bagi orang-orang di dunia luar yang tidak mondok agar tetap tau batasan-batasan agama yang harus diketahui.

Selang beberapa menit, Keysa menjawab pesannya dan mereka mulai membuat akun youtube bersama. Dengan modal apa adanya, mereka memasang foto bersama untuk profil dan memberi nama akun “MeldaKekey” dengan itu, mereka mulai memikirkan vidio apa yang ingin mereka unggah pertama kali. Setelah berpikir, akhirnya mereka ingin membuat vidio berjudul “Warnai dunia dengan kebaikan dengan menghapus kejelekan” dalam vidio tersebut terdapat kegiatan yang biasa dilakukan para remaja tapi bertolak belakang dengan syari’at islam.

Atas izin Allah tuhan semesta alam, dalam beberapa hari saja vidio tersebut mampu memiliki penonton berjuta-juta. Menjadikan pelajaran dan juga kesadaran akan apa yang kita perbuat. Dan setelah itu, Imeda dan Keysa terus melanjutkan membuat vidio untuk dunia belajar, dengan dukungan dan do’a dari orang tua masing-masing membuatnya lebih berkah.

Karena itu, Imelda dan Keysa semakin dikenal oleh masyarakat dn mendapat penghargaan ketika mereka kembali ke pondok. Denga itu mereka memiliki semangat yang membara untuk melanjutkan vidionya setiap ada sambangan ataupun perpulangan. Lambat laun akhirnya dunia di sekitar berubah sedikit demi sedikit. Dan mereka berjanji untuk selalu bersama setiap saat, tak terpisahkan.

TAMAT

Leave A Reply

Your email address will not be published.