
Oleh: Mukhammad Hafidz Alhafidzi, SMA DARUL ULUM 2 UNGGULAN BPPT, Jombang
“Allah menguji negri ini dengan cara mengambil orang- orang yang alim. Sehingga negri ini dipimpin oleh orang-orang bodoh yang hanya bisa merugikan negrinya sendiri. Hanya ada satu orang yang bisa menolong negri ini dari kecaman para manusia jahil. Yaitu santri…”
Angin dingin mulai menerpa kulitku secara perlahan. Membuatku terbangun dari tidurku. Sayup-sayup aku edarkan pandanganku ke seluruh ruang berwarna putih itu. Pagi ini sangat dingin. Tak sedingin pagi-pagi biasanya. Tak berselang lama, aku berjalan menuju kamar mandi dekat kamarku. Mengambil wudhu serta menganti bajuku dengan taqwa putih yang mulai berubah menjadi kelabu. Kududukan badanku di dekat pintu depan rumahku. Membaca ayat tiap ayat dengan lirih nan syahdu. Hingga, terdengar sudah adzan shubuh, Tak terasa, aku telah membaca 1 juz. kutaruhlah al-Qur’anku di atas almari serta Mengambil sajadah di lemariku. Kutunaikan sholat shubuh, Rukun tiap rukun sholat aku laksanakan. Hingga saat selesai sholat, aku jadi teringat. Pagi ini akan ada rapat mendadak dari kepala direktur di kantorku, Entah kabar baik atau kabar buruk yang akan aku dengar.
Selesai menunaikan sholat, Segeraku bersiap tuk berangkat bekerja. Saat aku berjalan menuju ruang depan, sebentarku tatap kitab yang telah lama tergeletak di rak buku dekat meja kerjaku. Ah… Kapan ya terakhir kali aku membuka kitab kuning itu. Kitab yang dulu seringku bawa untuk mengaji kepada ustadzku. Lembar tiap lembar kulukis dengan coretan berisi ilmu. Tapi, mau bagaimana lagi? Dewasalah yang memisahkanku pada masa-masa saat aku di pesantren. Berangkat menuju masjid, dengan berbekal kitab serta tidak beralas kaki Di karnakan hilang entah kemana. Dan Sekarang, inilah aku. Pegawai negri sipil yang selalu di hadapkan dengan masalah-masalah rumit yang di miliki negara. Ditambah dengan keadaan negara kita tercinta Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja.
Kulangkahkan kakiku menuju halaman rumah. Tak jauh dari sana, kulihat para pemuda yang bersiap tuk berangkat demonstrasi. Pada situasi saat ini, sudah menjadi hal yang wajar ketika para remaja hendak berdemonstrasi. Seperti itulah Pemandangan yang seringku lihat tiap-tiap harinya. Lagi, lagi dan lagi. Kunyalakan mesin motorku. Bersiap bergabung bersama para pengendara lainya. Jalanan terlihat ramai. Berlalu-lalang orang-orang pagi ini. Pagi yang cukup padat untuk hari senin. Mobil dan motor saling merebut antrean di tengah kemacetan. Hingga tak berselang lama, Sampailah aku di kantor. Banyak teman-teman yang aku sapa. Berjalan menuju bilik kerjaku. Menaruh tas kerja serta mengecek apakah dokumen yang telah di berikan padaku telah selesai kukerjakan.
Tak berselang lama ada pengumuman bahwa seluruh pegawai dimohon segera berkumpul menuju ruang pertemuan. Saat itulah akan di adakan pertemuan dengan direktur kantor kita. Dengan hati berdebar, kulangkahkan kakiku menuju ruang pertemuan. Bersiap-siap untuk berbagai kemungkinan. ”selamat pagi semuanya. Saya mengumpulkan kalian karna kami akan mengumumkan suatu hal yang sangat penting. Tanpa berbasa-basi, Kami selaku pimpinan direktur kantor akan mengeluarkan surat PHK untuk beberapa tim kerja. Bukan tanpa alasan kami membuat Keputusan ini. Akan tetapi, kami menimbang dan memperhatikan bahwa jumlah tenaga kerja yang ada di kantor ini, jika di bandingkan dengan pendapatan kantor sangat jungkir balik. Jadi, mohon di terima…’’. DEG! Aku bergeming di tempat. Kenapa
mendadak sekali? ’’Semoga bukan aku ya Allah…’’. Ucapku dalam hati. Berita yang terlalu mendadak ini membuatku terdiam di tempat. Bayangan bahwa aku terkena PHK mulai berlalu lalang di kepalaku. Sebentar aku berpikir. Apakah ini karena ada dalang di balik semua ini? yang ada di dalam pemerintahan itu? Waktu terus berjalan dengan cepat. Nama nama telah di sebutkan. Sekitar hampir setengah kantor telah di sebut. Hingga giliranku di panggil. ’’M.hafidzudin silahkan ke depan…’’. Tamat sudah riwayatku.
Setelah pengumuman itu aku langsung pulang ke rumah dengan berberat hati. Surat PHK dari kantor ku tenteng dengan lemas. Linglung karena kepalaku di penuhi banyak sekali pertanyaan, berdebatan, dan kebingungan. Ada masalah apa sebenarnya? Hingga di lakukan pengurangan tenaga kerja? Maksudku apakah separah itu hingga tenaga kerja harus di berhenti kerjakan? Sampai di rumah kurebahkan badanku. Berpasrah dengan apa yang terjadi.
Merenungi segala celah yang bisa kulakukan tuk melanjutkan hidup. Hingga tak lama, kutatap nanar kitab-kitab lawas itu di rak. Aku jadi teringat dengan pesantren. Tak perlu susah payah memikirkan hal-hal seperti ini. Sebentar terfikir satu ide dalam kepalaku. Apakah aku harus sowan pada kyai? Sudah lama sekali jika kuingat terakhir kali aku mengunjungi beliau.
Beliau adalah penerang hati tatkala awan hitam menyelimuti. Masalah-masalah rumit dapat di atasi dengan kepala dingin. Wejangan-wejangan yang selalu aku ingat. ’’banyu sing ngalah rabakal kalah karo geni sing polah’’. Air yang mengalah tidak akan terkalahkan dengan api yang membara. Singkatnya begitulah wejanganya.
Kuputuskan dengan bulat. Aku akan sowan kepada kyai. Tidak ada penasehat yang lebih bijak selain beliau. Di zaman yang tak mungkin bisa terhindar dari konflik, Sangat sulit untuk berdiri sendiri tanpa nasehat dari kyai. Tak menunggu lama, kusiapkan semua perlengkapan yang sekiranya bisa kubawa ke pesantren. Mulai dari pakaian hingga kebutuhan sekunder lainya. Kubawa sekalian kitab-kitab lawasku. Siapa tau nanti kubutuhkan. Setelah selesai menyibukan diri dengan seluruh perlengkapan itu, kurebahkan badanku di atas kasur. Badan dan pikiran ini sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi. Tak butuh waktu lama hingga aku terlelap dalam tidur.
Bunyi ayam berkokok saling bersautan. Adzan mulai terdengar remang-remang. Rasa kantuk mulai hilang secara perlahan. Kuangkat badanku tuk berjalan menuju kamar mandi. Berwudhu serta melaksanakan sholat shubuh. Berdo’a sebentar untuk meminta kemudahan. Setelah sholat shubuh, kulihat tumpukan barang-barang yang telah kupojokan di sudut ruangan. Ah iya… bukankah aku akan ke pesantren pagi ini? Tak butuh waktu yang lama hingga aku selesai membersihkan badan. Dinginya air di pagi ini terkalahkan oleh semangat serta rasa rindu ku kepada kyai. Kulangkahkan kakiku menuju halaman depan. Mulai menata motorku beserta barang- barang yang akan kubawa. Tak banyak yang kubawa, hanya satu tas besar berisi baju ganti serta alat-alat lainya. Dan satu kardus kecil berisi beberapa kitab lawasku.
Waktu telah menunjukkan jam 07:25. Pagi ini tidak seramai pagi kemarin, ya…ini termasuk hari keberuntunganku. Tak perlu menunggu lama hingga kujalankan motorku menuju jalan raya. Bergabung Bersama pengendara lainya. Sesaat, kuedarkan pandanganku menuju kota. Orang-orang sudah sibuk dengan kegiatanya masing-masing. Di balik ramainya kegiatan perkotaan, ada hatiku yang masih bergelut dengan permasalahan-permasalahan yang masih mengganjal. Entah dimulai dari mana.
Waktu terus berputar. Jalan demi jalan telah ku telusuri. Tak terasa, aku telah sampai di gerbang pesantrenku. Sedikit rasa kagum muncul setelah kulihat keadaan pesantren saat ini. Sekitar 6 tahun yang lalu terakhir kali aku kemari. Daun-daun pohon randu yang elok masih berdiri tegak dengan gagah. Bangunan-bangunan bernuansa tua yang terlihat memiliki sejarah yang sangat banyak. Bahkan, bangunan yang ada di sini tak ada yang bergeser seinci pun.
Kulangkahkan kakiku menuju area pesantren. Kuedarkan pandanganku keseluruh area.tiap detailnya ku amati. Tanpa sadar kenangan-kenangan manis muncul di benakku. Jalan setapak yang kini sudah di rapikan. Gubuk-gubuk kayu tempat aku mengaji dulu. Hingga kini pun masih berdiri kokoh di depan masjid. Tiap-tiap kamar berjejer rapi dengan berbagai nama di atas pintunya. Diam-diam rasa hangat menyelinap kedalam hatiku.
Tak lama berselang para santri telah bubar dari kegiatanya. Berlarian saling berebut antrean untuk mengambil jatah sarapan. Di sisi lain, ada juga yang masih menggendong kitabnya untuk di pelajari Kembali. Ada yang masih ketiduran di dalam masjid karena saking lamanya mengaji. Hingga tak kusadari, senyum merekah di bibirku.
Tak menunggu lama, kulangkahkan kakiku menuju ndalem kyai. Sudah lama aku tidak berkunjung kemari. Dan wujudnya, ndalem beliau masih sama. Warna ndalem yang di dominasi warna putih, membuat rumah itu terkesan seperti rumah surga.
“Assalamualaikum!” kuucapkan salam di dekat pintu. Hingga tak berselang lama, datanglah seorang lansia berimamah warna putih. Beliau berjalan sedikit membungkuk. Hingga salamku terjawab oleh beliau. ”Wa’alaikumsalam…loh! Izzudin?!” seru beliau sedikit terkejut. Kucium tangan beliau, kupeluk beliau erat-erat. Sebentar kulepaskan rasa rinduku. ”kapan sampai? Sudah lama sekali tak berkunjung.bagaimana kabar kamu sekarang? baik- baik saja?” tanya beliau bertubi-tubi. Bukanya linglung karna diserang beberapa pertanyaan. Akan tetapi, melelehlah hati ini karna begitu perhatian beliau kepadaku. Ada rasa bersalah muncul di hatiku. Kapan terakhir kali aku memikirkan keadaan beliau? Terbesit pun tidak. Apakah sedalam ini dunia menggelamkankukedalam gelapnya hati. Hingga saking gelapnya, sampai membatu hati ini.
“zuddin! Kok malah ngelamun…” seru beliau bersamaan dengan sadarnya aku dari lamunanku. ”Eh…ngapunten kyai, enggih. Soalnya saya habis kena masalah yai…” kataku dengan suara lemas. Beliaupun terkejut. “Ada masalah apa zuddin?” tanya beliau prihatin. “Ini kyai, saya habis kena PHK” jelasku. “Loh, kok bisa kena PHK?” tanya beliau penasaran. Hingga tak lama kujelaskan secara Panjang lebar bagaimana semua problematika ini bisa terjadi. Hingga tak lama beliau berkata. “Sebenarnya, kamu adalah orang ketiga yang datang kemari dan mengejutkanya kalian datang dengan permasalahan yang sama.”
Bagai di sambar petir di angin timur, terkejut hatiku mendengar fakta yang di ungkapkan oleh beliau. Hingga tak berselang lama beliau berkata Kembali. “Saranku cobalah kalian rundingkan masalah ini Bersama-sama. Siapa tau ada jalan keluarnya…” saran beliau yang dengan langsung kusetujui. Tak berselang lama, kudatangi mereka bertiga. Hingga aku terkejut yang kedua kalinya. “loh Rahman!? Kena PHK juga?” seruku, orang yang kupanggil langsung menoleh hingga terbit tawa darinya. “loh loh loh… zuddin jangan bilang kamu juga kena?” ejeknya sembari merangkulku. Sejenak bercanda, datanglah orang ketiga. “Loh, Zuddin?!” teriaknya. “loh! Ealah Ali! Kena juga?” tanyaku sembari tertawa. “kayaknya kita gak bakal berpisah deh” katanya sembari tertawa.
“jadi, kamu udah ada cara buat beresin masalah ini?” tanyaku. “sebenernya udah din. Tapi, kita mesti cari jalan buat bisa kasi gertakan sama pemerintah sana.” Jelasnya. “gimana kalo kita buat forum aja?” usulku.”betul tuh kata zuddin. Nantinya, dari forum itu akan ada banyak kalangan-kalangan yang bakal ikut itu forum. Nah, Ketika banyak yang ngikut forumnya, pemerintah bakal mendengar suara kita. Mungkin…”jelas Rahman seakan paham akan isi kepalaku.”nah, ide bagus tuh. Jadi besok pagi-pagi kalian siap-siap ya. Besok habis shubuh kita kumpul lagi untuk bahas ini.”ucap ali. Akhirnya kita Kembali bersama menuju kamar untuk menaruh barang-barang kami serta mengistirahatkan tubuh kami yang mulai penat. Saking lelahnya aku, saat tiba di kamar aku langsung menidurkan diriku. Hingga tak sadar aku tenggelam dalam bunga mimpi.
Suara adzan terdengar dari arah surau. Sayup-sayup kulihat cahaya terang menyinari ruangan itu. Sedikit demi sedikit kubuka mataku. Sembari menetralkan pandanganku. “din, ayok bangun. Udah adzan subuh lho.” Ucap Rahman. Tak berselang lama, kududukkan badanku di pinggiran Kasur. Menatap jam dinding yang telah menunjukan pukul 04:15. “mana si Ali? Udah bangun kah?” tanyaku pada Rahman. “iya, itu dia lagi baca Qur’an di depan.” Jelas Rahman.
Tak menunggu lama hingga aku berjalan menuju kamar mandi dan berwudhu tak lupa kubawa sajadah serta tasbihku. Setelah aku bersiap-siap, berangkat lah kami menuju surau bersama. Cahaya matahari masih enggan menampakkan sinarnya. Angin bertiup kencang, menambah suasana shubuh di pagi ini menjadi syahdu. Hingga saat sampai di masjid, kulaksanakan sholat shubuh berjama’ah. Setelah sholat jama’ah, kami bertiga berkumpul di gubuk kantor. Dan tentunya membahas masalah strategi kita untuk beraspirasi kepada pemerintah.
Hingga cahaya keemasan mulai menyinari daerah pondok, kami masih baru selesai menata strategi kami. “gimana din, udah siap?” tanya Rahman. “bismillah. Semoga aja rencana kali ini berhasil.” Kataku.”jadi gitu ya li. Kamu yang bagian pengumpulan data-data valid. Nah, yang beraspirasi nanti kamu din. Terus yang bagian pengumpulan masa-masa buat bisa jadi saksi forum kali ini.” Jelas Rahman dengan antusias. Baik, rencana sudah terencanakan. Saatnya kami berangkat menuju kantor pusat pemerintahan. Inilah saatnya para santri menyuarakan suara mereka. Negri ini juga harus di dukung oleh para santri. Karna sejatinya, negri ini juga milik santri.
Jalanan mulai ramai oleh beberapa kendaraan umum. Sinar sang surya mulai tak malu-malu menampakan sinarnya. Siap menuju KPP (Kantor Pusat Pemerintahan). Pemandangan kota yang sangat ramai membuat hati ini sedikit gelisah. Apakah forum kali ini berhasil? Semoga saja dengan bantuan mereka aku bisa mengaspirasikan suara kami.
Saat sampai di KPP, kami di sambut dengan cukup baik. Memarkirkan mobil kami di tempat parkir. Masuk menuju kantor dengan berkas dan tas yang siap memberikan data valid perihal tenaga kerja santri yang kebanyakan di PHK. Saat memasuki kantor kami berpapasan dengan mentri kekinerjaan kependudukan. “selamat datang para tamu negara. Bagaimana kabar kalian? Apakah kalian mau menyuarakan suara para santri tak berguna itu?” ucapnya anarkis.
“apa maksud anda berkata seperti demikian?” kataku dengan sedikit emosi. “oh iya! Jadi begini. Kami memang sengaja mengurangi para tenaga kerja dari kalangan santri. Karena, pada
dasarnya santri hanya tau perihal ngaji kitab saja. Jadi, apa gunanya bekerja di bidang yang tak seharusnya? Ini adalah rencana besar untuk mengefektifitaskan tenaga kerja di Indonesia. Yaitu dengan cara memberikan mereka surat PHK secara paksa. Termasuk kalian…” ucapnya di barengi dengan senyuman sarkatis.
“baik, lakukan selagi anda masih bisa melakukanya. Karena, para massa akan tau siapa yang benar dan siapa yang salah. Ingat pak, negri kit aini negri demokrasi. Suara rakyat adalah pemenangnya.” Ucapku mengancam balik dia.” Heh, liat saja. Suara rakyat atau suara emas 24 karat yang menjadi pemenangnya.” Ucap dia semakin menjadi.
Hingga tak berselang lama, seluruh peserta forum segera berkumpul di ruang pertemuan. Kali ini forum ini di pimpin oleh para delegasi bukan dari pemerintahan. Jadi, mereka adalah neutron di antara electron dan proton. Forum berjalan lancar hingga tak lama kita sampai pada pembahasan intinya. Rahman mulai memberikan data-data valid tentang kurang efektifnya persebaran ketenaga kerjaan. Hingga data akhir, semua sudah di jabarkan.
Para delegasi mulai menimbang dan menganalisis. Atmosfer di dalam sana sangat panas. Hingga tak lama kemudian. Mentri itu mulai memberikan data-data palsu mengenai sifat, bakat serta cara kerja santri di lingkungan perkantoran yang kurang baik. Mulai meruntuhkan harga diri santri satu persatu. Dengan sebegitu licinya fitnah yang di tata olehnya. Tapi, kami dari pihak santri hanya bisa menunggu argument darinya karna kami telah selesai menjabarkan data-data kami.
Hingga sidang kami selesai dengan lancar dan kondusif. Tidak ada bentrok sama sekali di sekitaran daerah forum. Kami pulang menuju pesanteren dengan hati gelisah karena menunggu hasil musyawarah para delegasi. Saat sampai di pesantren, kami langsung sowan menuju kyai untuk mengabari beliau tentang apa saja yang kami bahas hingga presentasi keberhasilan kami.
“baik baik, semoga ikhtiar kalian bisa membuahkan hasil yang memuaskan ya.” Ucap beliau dengan penuh harapan. Saat adzan maghrib terdengar, kami pun langsung menuju ke masjid untuk berjama’ah. Hingga selesai semua kegiatan- kegiatan kami. Saat sampai di kamar, Rahman mendapat notifikasi dari KPP.
“Din…” panggil Rahman. “kenapa man? Notif dari KPP kah?” tanyaku penasaran. “iya nih. Coba liatin deh.” Ajak Rahman. Disitu tertulis, Kami akan membenahi Kembali persebaran ketenaga kerjaan untuk membuka lowongan juga untuk para santri. Seakan mendapat hadiah besar, aku melompat-lompat Bahagia. Akhirnya suara santri kali ini di dengar. Semua santri akan mendapat lowongan pekerjaan. Tidak di beda-bedakan oleh khalayak lainya.
Ingatanku kembali pada hari-hari penuh perdebatan di ruang rapat, di mana aku berdiri untuk menyuarakan hak para santri. “Kami bukan hanya penghafal kitab,” kataku dengan tegas. “Kami siap berkontribusi dalam pembangunan negeri.” Kini, suaraku tidak sia-sia. Sambil mengangkat tanganku ke langit, aku mengucapkan rasa syukur yang mendalam. Ini bukan hanya kemenangan untuk diriku, tetapi untuk seluruh santri Indonesia. Sebuah awal baru bagi mereka untuk berkarya dan memberi manfaat bagi bangsa. Karna pada sejatinya, negri ini juga milik santri.