
Oleh: RINI NUR APTIANI, MAS IPHI PAMARICAN
“Kring….” Suara alarm terdengar nyaring di sebuah kamar asrama putri, jam menunjukkan pukul 4.30 yang menandakan sebentar lagi waktu subuh tiba, tapi Nayla dan ke-3 sahabatnya belum berniat untuk beranjak dari tumpukan selimutnya.
Hingga….
“YANG NGGAK KELUAR! AKAN MENDAPAT HUKUMAN MEMBERSIHKAN DUA TEMPAT DI PESANTREN!” Suara menggelegar terdengar dari luar kamar, seorang pengurus wanita membawa speaker dan gayung berisi air.
“SATU” Semua anak di kamar terburu-buru.
“DUA, TIGA, EMPAT!” Pintu-pintu terbuka dengan banyak santri berlarian. “LIMA…..SEMBILAN” Satu pintu kamar asrama belum terbuka.
“SEPULUH…BRAK” Pintu kamar asrama Nayla dibuka dengan keras, terlihat ke-4 santri itu masih tertidur lelap, dan……
“A…HUJAN-HUJAN” Ke-2 Santri itu terbangun dengan tiba-tiba setelah diguyur air sedangkan 2 santri lagi tetap tertidur, Nayla langsung mencari jas hujan di tasnya, Raya mengambil payung dekat pintu, sedangkan Nara dan Sahla masih mendengkur. “HAHAHAHA…….” Suara tawa meledak dari ustadzah Zainab (Pengurus), yang mulai menyadarkan Nayla dan Raya akan kelakuan mereka.
“IH…USTADZAH ZAINAB….” Ucap Raya dan Nayla berbarengan, mereka kesal karena dikerjain.
“Siapa suruh tidur kaya kebo mati” Ucap Zainab saat sudah meredakan tawanya. “Tapi Ustadzah tidur di pesantren kan ibadah” Ucap Nayla membela diri. “Iya betul, tapi tidak sampai mengganggu ibadah lain” Ucap Ustadzah Zainab menjawab pembelaan Nayla.
“Bi jajan” Suara Nara yang mengigau membuat Zainab, Nara dan Raya saling pandang hingga didetik berikutnya.
“HAHAHAHA….” Mereka ber-3 tertawa.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, dan terlihat ke-4 santri yang tadi telat bangun sedang menjalani hukuman mereka menyapu halaman yang luasnya lumayan membuat tangan pegal dan kamar mandi yang sudah benar-benar menjadi sarang kecoa karena jarang dipakai. “Plish deh gue udah capek” Ucap Nara sambal duduk di gazebo pinggir halaman.
“Capek apaan dari tadi aja lo diem, Cuma mungut sampah satu abis itu duduk” Ucap Raya kesal, pasalnya sahabatnya itu dari tadi hanya banyak mengeluh.
“Ya udah sih yang penting ikut bantu” Ucap Nara sambil mencebik kesal. “Mendingan sekarang lo bantuin Nayla nyapu, liat Nayla udah kaya orang mau mati” Ucap Sahla sambil menunjuk Nayla yang bersandar di bawah pohon mangga, keadaannya mengenaskan, kerudung sudah tak serapih tadi, sapu dan pengki tergeletak tak beraturan sedangkan Nayla sudah tertidur.
“ASTAGFIRULLAH, NAYLA KOK KAYA ORANG SEKARAT” Ucap Raya tak habis pikir pada sahabatnya itu.
“Udah Ra lo bantuin sana biar cepet kelar” Ucap Sahla yang dituruti Nara, dia mulai berjalan menghampiri Nayla.
“Nay bangun” Nara mencoba membangunkan Nayla, tapi Nayla sama sekali tidak bergerak. “Nay ada Gus Zayyan” Ucap Nara tepat di teliga Nayla.
“MANA RA” Ucap Naya yang tiba-tiba bangun dan langsung berdiri.
“Hahahhahah……nggak ada lagian lo ngapain tidur di bawah pohon?” Ucap Nara setelah meredakan tawanya.
“Capek Ra ….” Ucap Nayla sambil meregangkan otot-ototnya.
“Sini gue bantuin” Ucap Nara sambil mengambil sapu yang tergeletak.
“Makasih Ra” Ucap Nayla terharu.
“Sudah tugas saya sebagai sahabat untuk membantu” Ucap Nara berbicara dengan gaya seperti Pramugari, mereka pun melanjutkan acara bersih-bersih mereka.
“Gue harap nggak ada yang pisahin kita” Ucap Nayla dalam hati.
“Allahu akbar, Allahu akbar” Suara adzan ashar berkumandang, menandakan waktu shalat ashar telah tiba. Raya sedang berjalan-jalan di lorong asrama, tiba-tiba.…. “RAY….” Panggil seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Ustadzah Zainab. “Iya Ustadzah ada apa cari saya” Kata Raya sambil menatap kakak kelas sekaligus pengurus pondok di hadapannya.
“Bisa minta tolong kembalikan emas dan uang ini ke kamar asrama Nafisa? Ini punya Pesantren, ini aku ambil karena Bu Nyai pengen koreksi uang kas sama tabungan emasnya, tapi sekarang aku harus pulang, ibuku sakit” Ucap Ustadzah Zainab wajahnya sudah kelihatan panik.
“Udah Ustadzah pulang aja, biar ini Raya yang simpen” Ucap Raya tulus.
“Terima kasih Ray aku pulang dulu” Ucap Ustadzah Zainab sambil berlalu pergi setelah memberikan barang titipannya.
“Ya udah aku kembali sekarang aja, takut lupa” Ucap Raya sambil berjalan menuju kamar asrama Nafisa.
Saat sampai dia langsung bergegas menuju laci keuangan Pesantren yang kuncinya tergantung, lalu dia memasukkan uang dan emas itu kedalamnya, dan kembali menutupnya tanpa menguncinya.
KEESOKAN HARINYA
“SEMUA SANTRI DIHARAPKAN UNTUK BERKUMPUL DI AULA” Suara toa menggelegar di seluruh penjuru asrama putri.
“Ray bangun, yuk ke Aula kayaknya ada pengumuman” Kata Nayla sambil membangunkan Nayla yang tidur telungkup di teras.
“Hm, iya….” Ucap Raya, dia mulai bangun dari tidurnya.
“Sahla sana Nara udah berangkat” Ucap Nayla.
“Ya udah ayo” Kata Raya dia mulai merapikan penampilannya dan berjalan menuju Aula bersama Nayla.
Saat sampai.
“NAH INI DIA PENCURINYA” Kata Marisa salah satu santri yang dipercaya di Pesantren. “LO JANGAN NUDUH SEMBARANGAN” Ucap Sahla didesak sahabatnya dituduh, sedangkan di sisi lain Raya yang baru datang terkejut.
“PENCURI APA, GUE GAK NYURI” Ucap Raya membela diri.
“MANA ADA MALING NGAKU, GUE LIHAT SENDIRI LU BERDIRI DEKAT LEMARI KEUANGAN DAN BUKA LACI ITU” Ucap Marisa, dia sampai berdiri untuk menguatkan argumennya.
“NGGAK” Ucap Raya keras dia mulai berjongkok matanya sendu, dia menatap lantai, kakinya lemas mendengar tuduhan itu.
“Ray” Nayla dan Sahla ikut berjongkok.
“Gue nggak salah Nay, gue nggak salah” Ucap Raya dia menitikan air mata. “Iya gue percaya kok” Ucap Nayla, Sahla mulai mengusap punggung Raya yang bergetar. “Tenang jangan takut kalau nggak salah” Ucap Sahla menguatkan, sedangkan di sisi lain Santri-santri di Aula mulai bingung, hingga sebuah suara mengejutkan mereka. “IYA RAYA PELAKUNYA GUE LIHAT SENDIRI DIA BERDIRI DI LACI KEUANGAN PESANTREN” Ucap Nayla yang mengejutkan seluruh isi Aula.
“Nara kok kamu gitu sih kita…… kan sahabat” Ucap Raya memberanikan diri berbicara, dia bahkan sudah terduduk di lantai saking lemasnya, wajahnya menggeleng tak percaya atas tuduhan dari Nara sahabatnya sendiri, matanya kembali berkaca-kaca.
“Maaf Ray….. tapi gue nggak mau ada kebohongan, gue pengen mencoba membela kebenaran” Ucap Nara ada raut wajah bingung dan ragu disana.
“Gue kecewa sama lo Ra” Ucap Nayla, dia ikut sesak mendengar sahabatnya juga menuduh Raya, matanya ikut berkaca-kaca.
“Maaf Nay, Ra, Sahla” Ucap Nara hanya itu yang bisa dia katakan.
“Gue juga kecewa sama lo” Ucap Sahla yang sudah menangis dari awal. “Gue kira kita sahabat ternyata lo musuh dalam selimut, dan ternyata selama ini lo yang paling banyak menorehkan luka, gue sabar, kita sabar, lo nggak pernah ngerti kita, kita maklumin tapi kali ini lo KELEWATAN” Ucap Nayla.
“Oh jadi gitu pandangan kalian ke gue, gue kira kalian memang menerima gue apa adanya, tadinya gue merasa bersalah, tapi kayaknya emang bener yah kalian itu sama-sama munafik, si pencuri, si tukang caper, sama si sok berkuasa” Ucap Nara, dia mulai meledakan emosinya, jujur hatinya sakit mendengar pengakuan sahabatnya, dan matanya sudah mulai berkaca-kaca
“Jaga bicara lo yah” Ucap Nayla dia sudah sangat emosi.
“UDAH, MALAH DRAMA, NGGAK PAPA NARA ADA KITA! LO UDAH BENER JUJUR” Ucap Marisa.
“IYA, LEMPAR AJA SI PENCURI SIALAN ITU” Ucap Latifah semua diam, semua santri menuruti mereka bawa dan melemparnya kearah Raya.
“HOO….” Teriak mereka, Nayla dan Sahla tetap melindungi Raya membawanya pergi. “HOO….” Dasar maling teriak para santri.
Di sisi lain, Nayla dan Sahla membawa Raya ke asramanya.
“Nay, gue nggak salah, hiks…hiks…hiks” Raya menangis tersedu-sedu, matanya mulai membengkak.
“Udah Ray, kita percaya kok, kita percaya sama lo, lo nggak mungkin nyuri, kita udah sama sama enam tahun, masa putus cuma gara-gara hal kecil” Kata Nayla dan dia memeluk Raya yang badannya terus bergetar.
“Apa gue harus keluar pondok aja yah, gue malu buat keluar” Ucap Raya dia sudah putus asa “Enggak, lo nggak boleh keluar, kalau lo keluar berarti kebukti lo salah dong, lo harus kuat Ray, kita buktiin bareng-bareng yah” Ucap Sahla mana mau dia, persahabatan yang selama ini mereka bangun hancur begitu saja.
“Terus gimana caraya cara buat buktiin nya” kata Raya sudah pasrah.
“Gimana kalau ….” Nayla tidak melanjutkan ucapannya tetapi mendekatkan diri ke Sahla dan Raya untuk membisikkan sesuatu lalu setelah itu mereka mengangguk mengerti.
Sudah tiga hari sejak kejadian pencuri uang pesantren, Nara dan ketiga sahabatnya tidak bertegur sapa, Nara masih memendam rasa kesal, sedangkan ketiga sahabatnya sedang sibuk mencari bukti.
“KEPADA SELURUH SANTRI DIHARAPKAN KELUAR DARI KAMAR ASRAMANYA DAN BERKUMPUL DI AULA” Suara dari speaker kembali terdengar, semua santri mulai berkumpul di Aula tak terkecuali, Pengurus mulai menggeledah setiap kamar.
20 MENIT KEMUDIAN
Pengurus yang menggeledah membawa uang dan emas, semua santri tercekat, bahkan ada yang menahan nafas.
“Perhatian semuanya” Ucap Ustadzah Karina sang keamanan Pesantren, dia didampingi Ustadzah Nisa dan Ustadzah Halimah.
“Barang udah saya temukan, dan ditemukan di ….” Seluruh santri kembali menahan nafas. “Kamar Raya, lemari Raya sebelah kanan di bawah baju” Ucap Ustadzah, Raya langsung lemas, sungguh dia tidak mencuri, banyak yang ingin memfitnahnya.
“Ternyata benar dia biang keroknya” Ucap salah satu santri.
“Wah parah, Ustadzah, dia harus diadili, nggak boleh dibiarin” Ucap Nara entah kenapa dia merasa punya dendam.
“Karena bukti sudah ada, dan saksi ada, maka hukumannya adalah dikeluarkan dari pesantren, untuk Saudari Raya silahkan .…”
“Tunggu” Suara dari luar ruangan, terlihat di pintu ada Ustadzah Zainab yang seperti habis lari jauh.
“Tunggu dia tidak bersalah” Ucap Ustadzah Zainab sambil berjalan menuju ke depan Aula. “Ustadzah Zainab” Kata Ustadzah Karina.
“Dia tidak bersalah sebenernya dia cuma saya suruh mengambilkan uang, waktu itu saya lagi buru-buru mau pulang, setelah bantuin Bu Nyai, ngecek keuangan pondok, ibu saya sakit” Ucap Ustadzah Zainab menjelaskan, di sisi lain Raya dan kedua sahabatnya lega sedangkan Nara terdiam.
“Tapi Ustadzah bisa jadi kan uang itu malah di bawa kabur” ucap Ustadzah Nisa. “Tapi saya punya bukti video seseorang yang memang mencurinya” Ucap Ustadzah Zainab, Para Santri terdiam sedangkan seseorang sudah pucat pasi.
“Bisa kalian lihat di CCTV” Ucap Ustadzah Zainab, ternyata memang sudah dia rencanakan. Di layar terlihat seseorang sedang berbicara.
“Hah gue puas banget liat dia dibully biar aja dia diusir dari pesantren yang penting gue bisa ambil sedikit uang ini” Ucap seseorang yang memunggung kamera dan saat berbalik. “USTADZAH HALIMAH” Teriak Para Santri di Aula.
Ustadzah Halimah menunduk malu.
“Kita nggak habis pikir Ustadzah yang pendiam itu munafik” Ucap Para Santri bahkan Ustadzah Karina pun tak habis pikir.
“Ustadzah Halimah kamu akan dikeluarkan dari pesantren, sesuai aturan yang ada” Ucap Ustadzah Nisa.
“Ustadzah saya mohon jangan, saya terpaksa, ibu saya sakit” Ucap Ustadzah Halimah sambil berlutut di bawah kaki Ustadzah Nisa.
“Terserah, kau sudah melakukan dua perkara yang sangat besar, sekarang kita ke rumah Bu Nyai” Kata Ustadzah Nisa.
“Maaf Ustadzah jangan” Ucap Ustadzah Halimah yang diseret langsung oleh Ustadzah Nisa dan Karina.
Setelah kepergian para pengurus, para santri pun bubar, setelah meminta maaf. Mereka bertiga berpelukan.
“Raya…..” Suara lirih diiringi getaran akan menangis. Itu Nara.
“Iya?” Tanya Raya, dia sudah berdiri.
“Maaf…….hiks” Ucap Nara, dia mulai berlutut di bawah kaki Raya.
“Maaf gue salah, gue terlalu cepat menyimpulkan, maaf banget gue udah jahat, gue salah, gue yang harus dikeluarkan, gue terima kalau kalian mau gue jauhin kalian, gue bakal terima kalau gue nggak bakal jadi sahabat kalian lagi… tapi ma..af” Ucap Nara, dia sudah lemas. “Nara” Ucap Raya sambil membantu Nara berdiri.
“Kita udah maafin lo kok, semoga ini jadi pelajaran buat kita buat selalu saling percaya, gue paham lo khilap, kita akan tetap jadi sahabat selamanya” Ucap Raya membuat Nayla, Sahla dan Nara terharu.
“Raya…MAAF” Ucap Nara.
“Sini kita pelukan kayak teletabis” Ucap Raya yang disambut Nara, Sahla dan Nayla. Mereka pernah saling salah paham, tapi itu tidak akan membuat persahabatan mereka rusak, itu justru jadi penguat untuk mereka kedepannya, dan bisa jadi pelajaran supaya mereka selalu saling percaya.
TAMAT