RISALAH NU ONLINE, Berlin – Program NU Worldwide Dakwah 2026 mengantarkan saya menjalankan misi dakwah ke Jerman, negara yang dikenal sebagai negeri para pemikir dan penyair. Penugasan itu saya terima secara tak terduga pada Rabu, 14 Januari 2026, saat dalam perjalanan menuju Wonosobo, Jawa Tengah, untuk mengisi pengajian.
Kabar tersebut masuk melalui grup WhatsApp NU Worldwide Dakwah 2026-Jerman. Perasaan kaget, bahagia, sekaligus ragu bercampur menjadi satu. Saya mengaku sempat memastikan kebenaran informasi tersebut sebelum benar-benar mempersiapkan keberangkatan. Dari sejumlah peserta program, saya menjadi satu-satunya dai yang ditugaskan ke Jerman.
Di balik rasa syukur itu, terselip kesedihan mendalam. Orang tua saya, terutama ibu, sempat keberatan melepas anak bungsunya ini berdakwah ke Eropa. Kekhawatiran atas jarak yang jauh dan kondisi asing membuat ibu tak kuasa menahan air mata. Namun, tekad untuk menjalankan amanah dakwah akhirnya menguatkan Langkah saya.
Perjalanan dimulai pada Jumat, 20 Februari 2026. Saya berangkat dari pesantren di Bandung, diantar para santri menuju kantor PBNU dan Pesantren Mardhatilah Jakarta untuk berpamitan. Dari sana, saya melanjutkan perjalanan seorang diri, untuk pertama kalinya terbang sendiri menuju Eropa.
Transit di Doha, Qatar, menjadi pengalaman tersendiri. Bandara yang luas dan modern membuat saya sempat kebingungan mencari pintu keberangkatan menuju Berlin. Hampir satu jam saya menyusuri terminal sebelum akhirnya menemukan gate yang dituju.
Setibanya di Berlin pukul 06.40 waktu setempat, saya disambut kabut tebal dan suhu tiga derajat Celsius. Suasana musim dingin terasa kian mencekam ketika harus melalui pemeriksaan imigrasi yang cukup ketat. Petugas mengajukan sejumlah pertanyaan terkait tujuan kedatangan, kondisi finansial, hingga memastikan saya memiliki kemampuan untuk kembali ke Indonesia. Di Jerman, otoritas sangat ketat dalam mencegah pendatang yang berpotensi menjadi pengangguran, mengingat sistem kesejahteraan negara yang memberikan tunjangan bagi warga yang tidak bekerja.
Di bandara, saya disambut dua pengurus PCI NU Jerman, Habib Husen dan Gus Amir. Perjalanan menuju tempat tinggal dilanjutkan dengan kereta. Sepanjang perjalanan, diskusi mengenai perkembangan Nahdlatul Ulama di Jerman mengemuka. Menurut Habib Husen, pada masa-masa awal, sebagian warga nahdliyin di Jerman merasa canggung mengidentifikasi diri sebagai bagian dari NU karena stigma dan perbedaan pandangan di kalangan komunitas Muslim setempat.
PCINU Jerman secara resmi diformalkan pada 16–17 April 2010. Pembentukannya dimaksudkan untuk memperkuat jaringan kepengurusan istimewa Nahdlatul Ulama di berbagai benua. Dinamika organisasi ini turut ditandai dengan perpindahan tempat kegiatan, dari Majelis Walisongo yang berdiri sejak 2019 hingga lahirnya Nahdlatul Ulama Hause (NUH) pada 25 Juni 2025 di Berlin.
NUH kini menjadi pusat aktivitas warga nahdliyin di Jerman. Selain pengajian dan silaturahmi, tempat tersebut juga menjadi ruang dialog lintas iman. Tidak sedikit warga non-Muslim yang kemudian memeluk Islam melalui interaksi dan pembinaan di sana. Nama “Hause” dimaknai sebagai rumah bersama, sebuah bahtera yang diharapkan membawa kebaikan bagi siapa pun yang berlabuh.
Tahun 2026 tercatat sebagai salah satu musim dingin paling ekstrem dalam satu dekade terakhir di Jerman. Suhu sempat mencapai minus 15 derajat Celsius. Kondisi ini mempengaruhi pola ibadah umat Muslim, termasuk waktu puasa yang relatif lebih singkat dibandingkan di musim panas.
Menurut Habib Adenie Alaydrus, puasa di musim dingin terasa lebih ringan karena durasinya pendek. Sebaliknya, saat musim panas, waktu berpuasa dapat berlangsung sejak pukul 02.30 hingga 21.30. Meski demikian, bagi komunitas nahdliyin di Jerman, perbedaan musim bukanlah penghalang dalam menjalankan kewajiban.
Puasa dipahami sebagai kewajiban spiritual yang berakar pada iman. Merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 183, kewajiban tersebut ditujukan kepada orang-orang beriman agar mencapai derajat takwa. Iman menjadi “tiket” menuju ibadah, sementara takwa adalah capaian yang diharapkan. Keyakinan itu pula yang menguatkan komunitas Muslim Indonesia di Jerman menjalani Ramadhan dalam kondisi cuaca ekstrem.
Bagi saya, pengalaman berdakwah di Jerman bukan hanya perjalanan geografis, melainkan juga perjalanan batin. Dari pergulatan emosi keluarga, tantangan imigrasi, hingga menjalani puasa di tengah suhu minus belasan derajat, semua menjadi bagian dari proses memaknai iman dalam konteks global.
Di negeri empat musim itu, dakwah tidak hanya berbicara tentang ceramah dan pengajian, tetapi juga tentang ketahanan mental, adaptasi budaya, serta komitmen spiritual. Musim dingin boleh ekstrem, namun semangat beriman dan bertakwa tetap menjadi penggerak utama langkah dakwah di tanah Eropa. (Dede Dendi).