RISALAH NU ONLINE, JAKARTA —Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta seluruh stasiun televisi untuk menjaga kekhusukan bulan Ramadhan. Setiap konten yang akan ditayangkan haruslah mempertimbangkan momentum bulan suci itu.
Hal itu disampaikan berhubungan dengan adanya program Pemantauan TV Ramadhan yang dilaksanakan oleh MUI bekerjasama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang sudah berlangsung puluhan tahun.
“Saya sangat berharap ya, terutama kepada televisi-televisi swasta yang selama ini menjadi objek pantauan kami supaya menjaga kehusukan orang-orang beribadah Ramadhan. Oleh karena itu, tayangan-tayangan yang ada di televisi itu hendaknya mempertimbangkan hal-hal yang berhubungan dengan suasana kehusukan Ramadhan itu,” kata Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi, KH Masduki Baidlowi di Gedung MUI, Selasa (24/2/2026).
Kiai Masduki pun menyampaikan, pimpinan televisi dulu sangat protektif dalam menyangkan program di bulan Ramadhan. Menurutnya, para pimpinan aktif berdiskusi untuk mendahulukan program tayangan yang awalnya sudah selesai direkam dibandingkan dengan program tayangan live.
Hal itu, kata dia, penting untuk memproteksi dan menghindari adanya resiko-resiko yang berujung pada kehobohan dan kontroversi yang tidak diinginkan. Terlebih, hal itu akan terjadi secara meluas di tengah kekhusukan bulan Ramadhan.
“Sejak dulu, setiap tahun kita selalu berkumpul dengan mereka para pimpinan televisi itu Untuk selalu mengutamakan program-program yang sudah direkam terlebih dahulu Bukan program program yang langsung live kenapa? Karena kalau live itu mempunyai risiko-risiko yang terkadang menimbulkan kehebohan atau kontroversi,” ujarnya.
Untuk itu, Kiai Masduki mendorong tayangan televisi agar menyajikan konten-konten kreatif yang berhubungan dengan edukasi keagamaan. Ia berharap program yang akan ditayangkan saat ini tidak hanya berbentuk narasi-narasi konvensional seperti umumnya, tetapi juga berfokus pada penggalian konten-konten keagamaan yang kreatif.
Ia membeberkan, pemirsa tayangan televisi saat ini membutuhkan kedalaman konten. Menurutnya, pemirsa sudah sangat cerdas dengan belajar langsung lewat AI atau lewat media sosial sehingga tayangan televisi yang relatif datar dan kurang menarik akan banyak ditinggalkan oleh pemirsa.
“Kami dari Majelis Ulama Indonesia juga mengharapkan ada konten-konten yang lebih kreatif dari televisi. Konten kreatif itu berhubungan dengan misalnya jangan sampai bentuk-bentuknya itu hanya merupakan bentuk-bentuk konvensional, narasi-narasi yang sifatnya konvensional tapi hendaknya adalah narasi-narasi yang kreatif. Penggalian terhadap konten-konten keagamaan itu bagus, makin mendalam,” jelas Kiai Masduki.
(hud/rozi)