Riadi Ngasiran
Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur, Tim Kerja Monumen Resolusi Jihad NU, Surabaya.
Sejak awal berdirinya, fenomena kebangkitan ulama pesantren dalam berorganisasi tak menarik perhatian para peneliti.
Ben Anderson bahkan mengaku heran, kenapa organisasi dengan massa arus bawah (grassroot) yang jelas, tapi tak mengundang pesona para peneliti. Baru pada 1960 muncul penelitian yang, sayangnya telah dilupakan, memesona karya Mochtar Naim, The Nahdlatul-Ulama party (1952-1955): An inquiry into the origin of its electrical success, suatu penyelidikan tentang asal-usul kesuksesan NU dalam Pemilu 1955.
Dalam “Dunia Baru Islam” (The New World of Islam) buku klasik karya Lothrop Stoddard (1921), terdapat suplemen tentang Kebangkitan Islam di Indonesia 37,5 halaman, sedikit menyinggung soal NU (dan Sarekat Islam) dan sebanyak 25 halaman membahas khusus Muhammadiyah. Maklum, panitia penerbitan edisi Indonesia pada 1966 itu, diketuai Letjen HM Muljadi Djojomartono, seorang kader Muhammadiyah. Syukurlah, beberapa tahun berikutnya, sejak 1990an kita mengenal sejumlah nama yang mencermati perkembangan NU: Mitsuo Nakamura, Martin van Bruinnesen, Greg Barton, Greg Fealey, dll.
Perkembangan NU semakin hari semakin bertambah pesat sejak berdirinya, 31 Januari 1926. Dalam tahun awal berdirinya, NU menggelar congres (kini disebut muktamar) pertamanya. Ini bisa dilihat dalam congres kedua yang juga dipusatkan di Hotel Muslimin, Peneleh – Surabaya, pada tanggal 14-16 Rabiul Tsani 1346 H (9-11 Oktober 1927 M).
Bila muktamar pertama hanya dihadiri 93 orang kiai, maka muktamar kedua ini dihadiri 146 kiai Jawa dan Madura dan 242 orang terdiri dari kelompok pengusaha, petani dan buruh. Selain itu hadir juga Dr. Soetomo (pendiri Boedi Oetomo dan Indonesische Studie Club) dan beberapa pejabat pemerintah Surabaya serta tampak pula wakil darı Inlandshe Zaken, Van der Plas.
Congres kedua Nahdlatoel Oelama diadakan setahun setelah perhelatan pertama. Dua bulan sebelum congres kedua diadakan, ketua panitia KH Abdul Wahab Hasbullah, mengadakan pembicaraan dengan KH Ridlwan Abdullah di rumahnya di Kawatan Surabaya. Pembicaraan semula berkisar pada persiapan konsumsi Congres NO yang saat itu menjadi tanggung jawab KH Ridlwan Abdullah. Kemudian pembicaraan beralih kepada lambing yang perlu dimiliki Nahdlatoel Oelama.
Ketika itu, Kiai Ridlwan sudah dikenal sebagai ulama yang — selain keahlian kuliner — mempunyai bakat melukis. Makanya, Kiai Wahab Hasbullah meminta ‘’agar dibuatkan lambang NO yang bagus buat jam’iyyah kita ini, agar lebih mudah mengenalinya’’. (Aula No.1 Th.V, Januari 1983:9-10)
Menerima permintaan Kiai Wahab tersebut, agak sulit bagi Kiai Ridlwan mencari inspirasi. Bahkan, ada pesan khusus dari Kiai Hasyim Asy’ari bahwa ‘’Membuat simbol NU tidak boleh meniru simbol-simbol yang lain dan simbol tersebut harus haibah. Tidak membosankan sampai kapan pun. Selain itu, mengandung unsur glory atau kemegahan NU sebagai organisasi berpengaruh’’. Beberapa kali sketsa lambang dibuat. Karena dirasakan masih belum mengena di hati, maka gambar dasar tersebut diganti lagi. Sampai beberapa kali gambar dasar tersebut dibuat Kiai Ridlwan Abdullah.
Ada kesaksian KH. Mudjib Ridlwan, putra Kiai Ridlwan Abdullah, bahwa usaha membuat gambar dasar atau sketsa lambang NU tersebut sudah diulang beberapa kali, sampai makan waktu hampir satu setengah bulan. Padahal, congres sudah di ambang pintu. Kiai Wahab pun datang menagih pesanannya, ‘’Mana Kiai, lambang NO-nya?’’. Maka dijawablah oleh Kiai Ridlwan bahwa sudah beberapa sketsa lambang NO dibuat, tapi rasanya masih belum sesuai, untuk lambang NO. Maka Kiai Wahab pun berujar, ‘’Seminggu sebelum congres sebaiknya gambar sudah jadi, lho!’’. ‘’Ya, insyaAllah,’’ jawab Kiai Ridlwan Abdullah.
Waktu untuk membuat gambar yang baru telah demikian sempit. Maka jalan yang ditempuh Kiai Ridlwan adalah Istikharah, meminta petunjuk kepada Allah s.w.t. Salat malam pun didirikan. Seusai salat Kiai Ridlwan Abdullah tidur lagi. Dalam tidurnya, Kia Ridlwan mendapat petunjuk (isyarah) dari Allah Ta’ala. Kiai Ridlwan bermimpi melihat suatu gambar di langit warna kebiruan. Bentuknya hampir sama dengan lambang NU sekarang. Pada waktu itu, jam dinding menunjukkan waktu pukul 2 malam. Setelah terbangun dari tidur, Kiai Ridlwan mengambil kertas dan pena. Sambil mencoba mengingat-ingat suatu tanda di langit biru, dalam mimpinya. Sketsa gambar pun jadi, mirip betul dnegan gambar dalam mimpinya.
Pada pagi harinya, sketsa kasar tersebut disempurnakan dan diberi tulisan NO dari huruf Arab dan NO huruf latin. Dalam sehari gambar tersebut dapat diselesaikan dengan sempurna. Maklum, Kiai Ridlwan Abdullah memang seorang pelukis berbakat.
Ketika Kiai Wahab datang lagi ke rumahnya, gambar sudah jadi. Kiai Wahab pun tercengang melihat keindahan dan keanggunan gambar tersebu. Karenanya, segera diajak bersama-sama menyampaikan hasil rancangan itu kepada Kiai Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang. Ketika melihat gambar itu, Kiai Hasyim segera mencermati dengan teliti. Sementara Kiai Ridlwan berdebar-debar menunggu keputusan apakah karyanya itu ditolak atau diterima. Bila dianggap tidak orisinal dan kurang haibah dalam memvisualisasikan mimpinya, bisa melakukan pekerjaan ulang.
Sontak Kiai Hasyim bertanya, seolah tak percaya hasil lukisan Ridlwan sebagus itu. ‘’Ridlwan, ini lukisan siapa, lukisanmu ya?’’. Dengan nada penuh kerendahan hati, Kiai Ridlwan menjawab, ‘’Bukan, Kiai. Ini bukan lukisan saya. Tapi, hasil istikharah saya, Kiai’’. Kiai Hasyim pun menimpali, ‘’Bagus, kalua lambang NU ini hasil istikharahmu, maka saya terima. Karena Allah Ta’ala telah meridhainya’’.
Maka legalah hati Kiai Ridlwan beserta Kiai Wahab dan Kiai Mas Alwi yang menyertainya. Namun, kegembiraan itu hanya sementara. Karena Kiai Hasyim buru-buru menyuruh mereka men-tashih lagi pada Kiai Nawawi Sidogiri, Pasuruan. Saat itu juga Kiai Wahab sebagai pemimpin rombongan langsung berangkat ke Pasuruan untuk menemui Kiai Nawawi. Rupanya, Kiai Nawawi telah mengetahui kedatangan mereka. Agar tak berkepanjangan saat menghadap Sang Kiai, maka Kiai Wahab mengatakan, ‘’Gambar ini hasil istikharah Kiai Ridlwan dan telah disetujui oleh Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Hanya tinggal memohon persetujuan Kiai Nawawi’’.
Karena tahu lambang itu sudah disetujui Kiai Hasyim, maka tidak ada saran perubahan dari Kiai Nawawi. Hanya saja, Kiai Nawawi meminta kepada mereka dari hasil istikharahnya, beliau mendapat pertanda bahwa NU akan lahir menjadi organisasi besar sebagai pemersatu umat sesuai dengan ayat Al-Quran, wa’tashimu bihab-lillahi jami’an walaa tafarraqu. “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. Ayat ini adalah bagian dari Al-Quran, Surat Ali Imran ayat 103 yang berisi perintah untuk bersatu dan tidak berpecah belah, serta mengingatkan akan nikmat persatuan setelah sebelumnya terjadi permusuhan.
Selanjutnya, Kiai Nawawi berkata pada mereka, ‘’Terserah bagaimana sampean mewujudkan ayat tersebut dalam gambar’’. Setelah mendapat saran dari Kiai Nawawi, meeka segera kembali pulang untuk menyempurnakan karyanya. Kisah ini disampaikan KH. Shalahuddin Azmi, putra Kiai Mudjib Ridlwan dari kakeknya, KH Ridlwan Abdullah. (Dok. Monumen Resolusi Jihad, 2011).
Sesampai di Surabaya, Kiai Ridlwan dan Kiai Wahab bersepakat ayat tersebut tidak ditulis secara harfiah. Tetapi, dilambangkan dalam bentuk tali sebagai hab-lillah (tali Allah) yang mengikat bola dunia, dengan ikatan yang kuat. (bersambung).