Antisipasi Dampak Perang Global, PBNU Ajak POROZ Perkuat Ketahanan Sosial di Indonesia
RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ) untuk menyelaraskan penyaluran dana zakat guna memperkuat ketahanan sosial (societal resilience) di tingkat akar rumput. PBNU juga menyampaikan inisiasi yang telah dilakukan, Gerakan Peningkatan Ketahanan Masyarakat sebagai langkah mitigasi menghadapi dampak perang di Timur Tengah.
Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, mengungkapkan bahwa konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Selat Hormuz telah memicu disrupsi pasokan energi global dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Jika tidak dimitigasi, kondisi ini dikhawatirkan akan memperparah angka kemiskinan di Indonesia.
“Ketua Umum (KH.Yahya Cholil Staquf) berpesan agar mengajak POROZ merenungi mitigasi dampak perang ini. PBNU sendiri tengah menginisiasi Gerakan Peningkatan Ketahanan Masyarakat. Dampak perang ini nyata, mulai dari kenaikan harga BBM hingga melambungnya biaya logistik yang langsung dirasakan rakyat kecil,” ujarnya di sela agenda Halal Bihalal POROZ yang berlangsung di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (16/4/26).
Amin menekankan bahwa instrumen zakat, infak, dan sedekah memiliki peran strategis dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah krisis. Ia mencontohkan bagaimana pelaku usaha kecil mulai kesulitan akibat kenaikan harga bahan baku berbasis plastik, yang memaksa mereka beralih ke kemasan alternatif demi bertahan hidup.
“Zakat memang dirancang untuk mengatasi masalah kemasyarakatan seperti ini. Kami mengajak para pengelola zakat, baik BAZNAS maupun LAZ, untuk mengarahkan pemanfaatan dana pada upaya peningkatan ketahanan masyarakat, baik untuk jangka pendek maupun menengah,” tambahnya.
PBNU sendiri telah mengonsolidasikan jaringan internalnya, mulai dari LAZISNU, Lakpesdam, hingga struktur organisasi di tingkat desa (Ranting) dan dusun (Anak Ranting), untuk memetakan dampak krisis dan melakukan intervensi langsung.
Gayung bersambut, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur, menyatakan dukungannya terhadap perluasan konsep resiliensi dari level keluarga ke level sosial. Menurutnya, program penguatan keluarga yang sudah ada dapat menjadi fondasi kuat bagi ketahanan masyarakat secara luas.
“Kita perlu memperbesar basis resiliensi dari keluarga ke sosial. Jika basis keluarganya kuat, maka ketahanan sosialnya pun akan kokoh,” kata Waryono.
Sementara itu, Ketua Umum POROZ, Moch. Bukhori Muslim, menyambut baik dorongan konkret dari PBNU. Ia menegaskan bahwa selama ini LAZ yang tergabung dalam POROZ telah aktif memberikan bantuan bagi korban perang di mancanegara, namun kini fokus akan mulai diperluas pada dampak ekonomi di dalam negeri.
“Ini adalah dorongan besar bagi kami. Dampak perang ini memang dahsyat dan sudah meluas. Kami telah mengirimkan bantuan miliaran rupiah ke Gaza, dan kini dengan dorongan PBNU, kami akan berdiskusi kembali untuk merumuskan langkah yang lebih konkret guna memitigasi dampak krisis di tanah air,” pungkas Bukhori.
(Anisa)