Iran Tegaskan Belum Ada Rencana Negosiasi Lanjutan dengan AS

0

RISALAH NU ONLINE, TEHERAN – Pemerintah Iran menyatakan hingga saat ini belum memiliki agenda atau keputusan untuk melakukan putaran negosiasi baru dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul di tengah masa gencatan senjata dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan, menyusul konflik bersenjata yang pecah pada akhir Februari lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa sikap Washington saat ini sama sekali tidak menunjukkan keseriusan dalam menempuh proses diplomatik yang tulus.

Baqaei menekankan bahwa bagi Iran, kewaspadaan dalam bernegosiasi jauh lebih krusial daripada kewaspadaan di medan perang. Hal ini didasari oleh rekam jejak Amerika Serikat yang dinilai sering mengkhianati komitmen diplomatik.

“Sampai saat ini, saat saya berbicara kepada Anda, kami tidak memiliki rencana untuk putaran negosiasi berikutnya. Belum ada keputusan yang diambil terkait hal tersebut,” ujar Baqaei dalam konferensi pers di Teheran sebagaimana dikutip Islam Republic News Agency (IRNA), Senin (20/4/26).

Pihak Teheran menepis anggapan adanya optimisme terhadap keterlibatan AS. Sebaliknya, Iran memilih sikap “realistis yang cenderung pesimis” berdasarkan pengalaman sejarah selama puluhan tahun, termasuk peristiwa agresi militer pada 28 Februari 2024 yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka.

Iran menyoroti beberapa poin krusial yang menghambat proses negosiasi; yakni AS dianggap telah melanggar hukum internasional secara parah dan menyerang integritas teritorial Iran dalam kurun waktu kurang dari sembilan bulan. Selain itu, Washington dinilai terus memaksakan tuntutan yang tidak masuk akal meski cara-cara tersebut telah gagal di masa lalu. Dan juga Iran secara tegas menyatakan tidak akan pernah membawa kemampuan pertahanan, termasuk program rudalnya, ke meja perundingan.

Terkait normalisasi jalur perdagangan di Selat Hormuz, Iran menyatakan bahwa kondisi saat ini masih sangat rumit. Teheran sedang menyusun “protokol khusus” untuk menjamin keamanan jalur tersebut di masa depan, mengingat pengalaman pahit agresi militer yang merusak stabilitas maritim kawasan.

Iran juga menyampaikan apresiasi kepada Rusia dan China yang telah menggunakan hak veto mereka terhadap resolusi di Dewan Keamanan PBB yang dianggap Iran sebagai langkah “anti-perdamaian”. Bagi Teheran, solusi atas ketidakstabilan regional harus dicari melalui kerangka kerja internasional yang lebih adil seperti BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).

(Anisa)

Leave A Reply

Your email address will not be published.