KETABAHAN DAN KESABARAN

0

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

Ada seorang pria yang melakukan perjalanan jauh dan melelahkan. Tujuannya tidak ada lain kecuali untuk menjumpai orang yang paling dicintainya, yaitu Rasulullah Muhammad s.a.w.. Setelah berjumpa dengan Nabi dalam suasana haru dan bahagia, sebagai wujud dari perasaan rindunya yang sangat mendalam. Pria itu memohon kepada Nabi: “Berikan kepadaku wasiat atau nasehat yang mengantarkanku pada kehidupan yang sukses, baik di dunia maupun di akhirat”.

Permohonan pria yang sangat mencintai Nabi itu, di luar dugaan, dijawab oleh beliau dengan kalimat yang sangat singkat: “Laa Taghdab (kamu jangan marah, jangan bersikap emosional)”. Pria itu tampak kurang puas. Ia datang dari tempat yang sangat jauh, hanya mendapat nasehat yang amat singkat.

Pria itu selanjutnya memohon kembali kepada Nabi, agar diberikan nasehat atau fatwa yang cukup banyak. Fatwa itu, akan dijadikan sebagai bekal untuk mengarungi masa depan, agar memperoleh kebahagiaan yang abadi. Nabi Muhammad s.a.w. selanjutnya tetap hanya menyampaikan fatwa berupa kalimat yang sangat singkat itu. Hal itu terus belangsung sampai tiga kali (HR. Bukhari, 5651).

Setelah ia memperoleh jawaban yang sama dan disampaikan berkali-kali, barulah pria itu menyadari bahwa kalimat singkat yang disampaikan Nabi tadi, sesungguhnya mengandung pelajaran yang sanga berharga. Hal itu merupakan nasehat yang agung bagi setiap orang yang ingin meraih kesuksesan dalam segala kehidupannya.

Bila kita memperhatikan dialog di atas dan mencermatinya secara teliti, maka akan dijumpai bahwa sabda Nabi yang sangat singkat itu cukup menjadi bekal bagi setiap orang yang ingin meraih kesuksesan lahir dan batin. Kalimat yang simpel itu memiliki jangkauan makna yang luas dan mendalam. Kalimat seperti itu diistilah para ahli dengan “jawaami’ul kalim”. Salah satu kelebihan yang dimiliki Nabi Muhammad s.a.w. dan tidak dimiliki oleh nabi-nabi lain atau manusia lainnya.

Beliau berbicara amat singkat, namun demikian, jangkauan maknanya sangat luas dan mendalam, serta kalimatnya sangat menarik. Kita bisa memperhatikan lebih jauh dari nasehat Nabi di atas bahwa segala sesuatu tidak mungkin dapat diselesaikan dengan amarah atau bersikap emosional. Bayangkan, pekerjaan apa yang bisa dilakukan dengan amarah? Pasti, tidak akan dijumpai. Segala aktivitas dan kegiatan seperti ibadah, muamalah, pekerjaan kantor, kegiatan bisnis, kegiatan ilmiah, semuanya akan gagal total, apabila dikerjakan dengan kemarahan. Hal itu bisa menyebabkan seseorang terjerambab dalam kesusahan yang sangat parah.

Sukses atau gagalnya usaha seseorang tergantung dari kemampuan orang itu untuk mengendalikan emosi atau nafsunya. Bila ia mampu mengendalikan emosinya, maka kesuksesan telah berada di tangannya. Sebaliknya apabila ia tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka kegagalan telah membelenggu dirinya.

Setiap orang yang dapat mengendalikan emosinya, pasti menjadi manusia yang memiliki ketabahan, kesabaran, dan ketenangan. Dengan sikap yang terpuji itu, ia akan meraih kesuksesan yang maksimal dan menggapai kebahagiaan dalam segala aspek kehidupannya. Kesuksesan demi kesuksesan yang kita raih semuanya tanpa kecuali, harus ditempuh dengan ketabahan dan kesabaran.

Hanya untuk memperoleh ijazah SD saja, kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh selama enam tahun. Kita harus pulang pergi ke sekolah setiap hari, mengikuti ulangan dan ujian. Ijazah SD pun tidak mungkin kita raih bila tidak ditempuh dengan kesabaran dan ketabahan. Apalagi ijazah SMP, SMA, dan seterusnya.

Sikap tabah, sabar, dan ketenangan jiwa merupakan sikap yang sangat terpuji. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan suatu hadits bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda kepada salah seorang sahabatnya yang bernama al-Asajji r.a.: “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang terpuji yang keduanya dicintai oleh Allah s.w.t., yaitu (1) sikap penyantun, dan (2) kesabaran dan ketenangan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dua sikap tersebut merupakan perhiasan yang sangat indah, apabila seseorang memilikinya, ia telah meniti jalan kesuksesan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.