Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Ayat al-Qur’an yang pertama kali diturunakan adalah surat al-Alaq ayat satu sampai lima. Dalam wahyu pertama itu diperintahkan agar umat manusia rajin membaca terhadap ayat-ayat yang menjelaskan tentang keagungan Allah s.w.t..
Dari lima ayat yang pertama kali turun itu, mengarahkan umat manusia agar membaca, meneliti, mengobservasi, mengeksplore dengan menyebut asma Allah yang telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya.
Hasil dari membaca seperti yang disebutkan di atas melahirkan ilmu pengetahuan sebagai hasil dari penelitian dan riset yang kemudian diobservasi. Kemudian ditulis, dengan kegiatan itu maka manusia menerima petunjuk dari Allah s.w.t. dengan mengetahui segala sesuatu yang tadinya tidak diketahui.
Membaca atau meneliti terhadap ayat-ayat Allah ada dua macam, yaitu ayat yang tertulis yang terdapat dalam al-Qur’an, dan ayat-ayat yang tidak tertulis yang terdapat dalam alam semesta atau ayat kauniyah. Kajian terhadap al-Qur’an melahirkan ilmu-ilmu agama dalam berbagai jenis dan bentuknya. Ilmu itu terdiri dari tiga bagian, yaitu akidah, syariah, dan akhlak.
Kajian tentang akidah dikembangkan para ahli, melahirkan ilmu yang sangat luas yang disebut dengan ilmu tauhid atau ilmu kalam. Dari sini kemudian lahirlah berbagai macam aliran, seperti Ahlussunah wal jamaah, Mu’tazilah, Jabariyah, Qadariyah, Syiah dan sebagainya. Kajian terhadap syariah melahirkan ilmu fiqih yang terdiri dari berbagai macam madzhab, seperti madzhab Hanafi, Maliki, Syafii, Hambali, dan sebagainya. Dari ajaran tentang akhlak, berkembang menjadi ilmu tasawuf yang terdiri dari berbagai aliran seperti al-Ma’rifah, Hubbul Ilah, al-Hulul, Ittihad, Wihdatul Wujud, dan sebagainya.
Dari ayat-ayat al-Qur’an diperintahkan juga kepada umat manusia untuk mempelajari dan mendalami ayat kauniyah, yaitu segala kejadian dan peristiwa yang ada dalam alam semesta. Dari kajian ini melahirkan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Riset terhadap ayat kauniyah atau alam semesta ini melahirkan ilmu astronomi, ilmu biologi, matematika, fisika, kimia, geografi, dan sebagainya. Melakukan riset terhadap fenomena sosial melahirkan klaster ilmu sosial, seperti ekonomi, politik, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.
Dengan mengembangkan pemikirannya, manusia malahirkan ilmu filsafat dengan berbagai macam cabangnya dan membaca segala sesuatu dengan mata hatinya, melahirkan ilmu tasawuf. Dari ayat-ayat tentang alam semesta, melahirkan berbagai macam disiplin ilmu yang tergabung dalam sains, dan teknologi.
Al-Qur’an mengarahkan umat manusia agar rajin dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Sesungguhnya, siapapun yang ingin memperoleh kebahagiaan dunia hendaklah menjangkaunya dengan ilmu. Kebahagiaan di akhirat juga harus dijangkau dengan ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat, maka hendaknya dijangkau dengan ilmu.
Kedudukan ilmu dalam Islam sangat tinggi, diisyaratkan dalam al-Qur’an:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah, 58:11).
Manusia yang paling tinggi iman dan takwanya dan sangat takut terhadap murka Allah, adalah para ilmuwan atau orang-orang yang berilmu, baik ilmu keagamaan, ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Mengapa kaum ilmuwan tergolong orang yang bertakwa? Karena mereka sangat memahami keagungan Allah s.w.t.. Orang-orang awam melihat organ jantung yang ada pada diri manusia atau makhluk lain, organ ginjal, liver, otak, dianggap sebagai segumpal daging.
Di kalangan para ilmuwan, memahami organ-organ itu dengan pemahaman yang sangat dalam dan juga memahami berbagai macam fungsinya. Betapa tingginya pemahaman kaum ilmuwan terhadap ayat-ayat al-Qur’an sangat berbeda dengan pemahaman orang-orang awam. Demikian tingginya kedudukan para ilmuwan dan ulama, sehingga disebutkan sebagai pewaris para nabi.
إنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ وإنَّ الأنبياءَ لم يُورِّثوا دينارًا إنما وَرَّثوا علمًا
“Sesungguhnya para ulama/ilmuwan adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar; mereka hanyalah mewariskan ilmu…” (HR. Abu Daud, 3641).