RISALAH NU ONLINE JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat melalui program strategis jangka panjang. Fokus utama gerakan ini menyasar kemandirian energi dan peningkatan produktivitas ekonomi di tingkat akar rumput guna menghadapi tantangan global yang kian dinamis.
Dalam keterangannya usai rapat koordinasi di PBNU, Jakarta, Senin (4/5), Ketua PBNU, Alissa Wahid, menyampaikan bahwa NU tengah mengintensifkan pengembangan sistem pertahanan sosial ekonomi yang berbasis pada kelestarian lingkungan.
“Kita saat ini sedang mengembangkan pertahanan sosial ekonomi masyarakat, terutama dari sisi lingkungan. Fokus kami misalnya pada sektor energi, agar masyarakat tidak rentan terdampak oleh fluktuasi bahan bakar fosil. Hal-hal seperti inilah yang menjadi prioritas kami,” ujar Alissa Wahid.
Program ini dirancang bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai peta jalan (roadmap) ketangguhan jangka panjang bagi warga NU. Alissa menekankan pentingnya membekali warga dengan kapasitas ekonomi yang mumpuni agar menjadi lebih produktif secara mandiri.
Tujuan utama dari inisiatif ini adalah memastikan masyarakat di lapisan terbawah memiliki daya tahan (resiliensi) yang kuat dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa depan.
Menyadari luasnya cakupan wilayah dan besarnya tantangan yang dihadapi, NU membuka pintu kolaborasi lebar-lebar dengan organisasi keagamaan besar lainnya di Indonesia. Alissa menyebutkan bahwa sinergi lintas iman menjadi kunci agar program ini menjangkau masyarakat hingga ke pelosok.
“Kita ingin bekerja sama dengan organisasi-organisasi yang memiliki daya jangkau kuat ke akar rumput. Di Indonesia, kekuatan itu ada pada NU, Muhammadiyah, Gereja Katolik, dan Gereja Protestan,” jelasnya.
Melalui kemitraan strategis tersebut, diharapkan terjadi pertukaran sumber daya dan pengetahuan dalam membekali warga dengan keterampilan produktif serta literasi lingkungan yang memadai. Kolaborasi lintas iman ini menjadi simbol kuat bagi persatuan bangsa dalam menghadapi isu-isu kemanusiaan dan ekonomi, sekaligus menjadi dasar bagi terbentuknya masyarakat yang lebih tangguh dan berdaya saing di masa depan.
“Ini adalah langkah bersama untuk mempersiapkan warga Indonesia agar lebih tangguh secara ekonomi dan berdaya secara lingkungan dalam jangka panjang,” tutup Alissa.
(Delia)