
Oleh: Rohmatul Fauziyah, Universitas KH Abdul Chalim, Mojokerto
Bagi sebagian banyak orang, hari Minggu adalah hari libur. Biasanya mereka akan bersantai, menikmati waktu luang dengan orang tersayang atau bisa jadi untuk berwisata ke Pantai. Namun, tidak dengan Shanum, dia harus mengawali hari Minggunya dengan membaca Al-Qur’an.
Kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap hari Minggu. Suasana yang menakjubkan dimana lantunan ayat-ayat Al-Qur’an terdengar di sekeliling Masjid. Terdapat beberapa santriwati yang mengikuti kegiatan itu, termasuk Shanum.
Tak seperti biasanya, Shanum terlihat kelelahan bahkan sampai ketiduran saat kegiatan tersebut.
“Shanum!” Tegur seorang wanita paruh baya.
Shanum tersentak dari tidurnya saat mendengar namanya dipanggil “Astaghfirullah aku ketiduran, iya Umi, apakah Shanum salah mengucapkan?” Tanya Shanum karena ketahuan tidur di saat membaca Al-Qur’an.
“Kamu ketiduran, cepat sana ambil wudu kemudian lanjutkan baca Al-Qur’an!” Perintah wanita paruh baya itu yang bernama Hana—Umi atau yang sering dikenal sebagai Ibu Nyai di dalam komplek Pondok Pesantren.
“Baik Umi,” kata Shanum kemudain melaksanakan apa yang sudah diperintah oleh Hana.
Shanum berjalan ke tempat wudu yang berada di belakang masjid. Dia berjalan tertatih, tangan kanan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
“Astaga Shanum, kamu kenapa bisa ketiduran,” gumam Shanum, “Kenapa kepalaku jadi pusing sekali. Iya, aku baru ingat kalau tidak biasanya telat datang bulan. Ah, sudahlah tak pernuh dipikirkan lagi, sekarang yang harus aku lakukan itu segera berwudu terus kembali ke Masjid.” Lanjutnya.
Hanya sekitar lima menit Shanum sudah kembali ke Masjid, setelah sampai Ia kembali duduk di tempat semula.
“Kamu tidak biasanya seperti ini Num, kenapa?” Tanya sahabatnya yang duduk disampingnya.
“Husstt, lanjutkan membacanya Hilya.” Shanum memberi peringatan sahabatnya yang bernama Hilya.
Tanpa Shanum ketahui, Hilya diam-diam mengikutinya saat berwudu.
Suasana kembali khusuk untuk membaca Al-Qur’an. Kegiatan ini memang rutin di adakan saat hari Minggu, sebagai santriwati yang tinggal di Pondok Pesantren Khusus Putri Ar-Rohma.
***
Selesai solat Asar berjamaah, Hilya pergi ke ndalem untuk menemui Hana. “Assalamualaikum, Umi,” salam Hilya setelah sampai di depan pintu masuk.
Hana yang melihat anak asuhnya yang terlihat panik. Hana segera menuju pintu depan kemudian menghampiri dan mempersilakan Hilya masuk.
“Waalaikumusalam, ada apa Nduk?” Tanya Hana.
“Shanum, Umi.” Hilya menyebut nama sahabatnya.
“Ada apa dengan Shanum?” Tanya Hana kembali.
Suara Hilya yang semakin lirih seperti berbisik “Umi, Sudah tahu kalau Shanum sedang hamil.” Pernyataan itu langsung membuat Hana terkejut.
“Apa yang kamu katakan Hilya?” Ucap Hana “Umi tau Shanum, tidak mungkin melakukan hal yang kotor seperti itu apalagi sampai hamil.” Bantah Hana.
“Saya mendengarnya sendiri kalau Shanum telat datang bulan, Umi.” Ujar Hilya menyakinkan bahwa memang Ia telah mendengarkan berita itu. “Dan ini saya menemukan di dalam kamar mandi masjid tadi siang.” Hilya menunjukan sebuah alat untuk mengetahui kalau positif atau negatif hamil.
Melihat tespek yang di tunjukan, terlihat garis dua yang menandakan bahwa positif hamil. Membuat Hana terduduk lemas tidak menyangka bahwa Shanum telah hamil diluar nikah. Itu hal yang sangat memalukan, sering dianggap sebagai aib dikalangan komplek Pesantren dan ini menyangkut salah satu satriwatinya.
“Cepat. Panggil Shanum!” tintah Hana.
“Baik Umi,” Hilya segera memanggil Shanum seperti yang diperintahkan oleh Hana.
***
Di lain tempat, seperti biasanya sore itu Shanum terlihat sedang khusuk membaca tilawah Al-Qur’an. Kembali untuk selalu bermuhasabah dengan Al-Qur’an.
“Shanum, kamu dipanggil ke ndalem oleh Umi Hana.” Ucap Hilya.
“Iya Lya, sebentar aku mau melanjutkan ayat terakhir.” Kata Shanum lalu melanjutkan sedikit ayat sampai selesai membaca satu juz.
“Ada apa?” Tanya Shanum setelah selesai membaca Al-Qur’an.
“Tidak tau, aku tadi disuruh panggil kamu,” jawab perempuan yang memakai kerudung maroon.
“Baik, aku ke ndalem dulu ya.” Shanum menyimpan mushafnya ke laci kemudian berjalan ke ndalem.
Jarak yang tidak terlampau jauh, Shanum sampai langsung mengetok pintu dan memberi salam terlebih dahulu sebelum masuk ke ndalem.
“Assalamualaikum, Umi,” salam Shanum.
Tanpa membalas salam, Hana yang semula duduk langsung berdiri dari duduknya saat kedatangan Shanum.
“Umi kenapa tidak balas salam dariku” Gumam Shanum dalam hati.
” APA INI?” Suara Hana yang biasanya dengan nada rendah, kini menjadi nada tinggi. Menunjukan sebatang tespek bergaris dua kepada Shanum.
“Itu apa umi?” Tanya Shanum tidak tau, bahkan ia kaget dengan nada bicara Hana.
“KAMU TIDAK TAU DIRI. UMI SUDAH ANGGAP KAMU SEBAGAI ANAK KAMI, TAPI APA YANG KAMU PERBUAT.”
“Umi, Shanum tidak melakukan apapun itu.” Jujur Shanum.
“SAMA SIAPA? ITU ANAK SIAPA?” Seperti tak memperdulikan ucapan Shanum.
“Umi, Shanum tidak tau.” Shanum mulai tidak berdaya, karena terus ditondong oleh pertanyaan dan pernyataan yang tidak sama sekali Shanum lakukan. Air mata yang tadi masih bisa ditahan, sekarang sudah membasahi kerudung warna coklatnya.
“KAMU TELAH MEMBUAT MALU UMI DAN ABAH. KAMU ITU AIB.” Ucapan Hana masih dengan nada tingginya. Hana terus menodongkan pertanyaan dan pernyataan tanpa menerima jawaban dari Shanum.
“Umi.” Bak tersambar oleh petir di sore hari, tubuh Shanum tepaku dan tidak kuat lagi untuk membela. Shanum terduduk lemas.
“Umi Kecewa sama kamu. Mulai sekarang kamu tidak di perbolehkan masuk ke ndalem lagi. Umi tidak sudi melihat wajahmu itu.” Hana memalingkan wajahnya. Hal itu membuat Shanum tidak bisa berbuat apapun selain berbalik badan dan meninggalkan ndalem.
***
Suasana malam di ndalem, terlihat sunyi tanpa ada lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari suara merdu Hana. Sekarang, Hana tak mampu melakukannya ia hanya duduk di kursi meja makan. Perasaan kecewa dengan yang diperbuat oleh Shanum.
“Assalamualaikum,” suara berat pria paruh baya menyapa Hana yang berapa di dalam.
“Wa’alaikumsalam, abah.” Hana berdiri untuk menghampiri saat mendengar suara Ibrahim —
Suaminya.
“Umi kenapa?” Tanya Ibrahim karena melihat raut wajah Hana yang gelisah.
“Shanum Abah, dia sudah merusak kepercayaan kita.” Jawab Hana.
“Apa yang umi maksud?” Ibrahim memegang tangan Hana yang dingin.
“Dia hamil, ini buktinya.” Hana menunjukan sebuah tespek bergaris merah dua kepada Ibrahim.
“Astaghfirullah Umi,” Kalimat istigfar yang keluar dari Ibrahim. “Apa umi yakin itu milik Shanum?” Namun, Ibrahim belum percaya sebelum ia mendengar penjelasan dari Shanum.
“Umi yakin, bah.” Tegas Hana, memperjelas bahwa sangat yakin dengan yang diucapkan.
“Sekali lagi Abah tanya, apa Umi yakin?” Tanya ibrahim kembali untuk memastikan.
“Iya umi yakin.” Hana mantap dengan apa yang telah diucapkannya.
“Sekarang, Umi ingat-ingat kembali bagaimana Shanum yang datang ke rumah kita?.” Ibrahim mengajak Hana untuk tetap tenang agar hati yang lebih tenang.
“Umi selalu ingat waktu pertama kali Shanum datang ke pondok kita. Dulu, dia datang dalam keadaan sedang sakit, rasa takut kehilangan itu datang setiap umi melihat Shamun sedang sakit. Karena Umi tidak ingin kejadian kehilangan putri pertama kita terulang kembali, Abah.” Hana mengingatnta dan tentu Ibrahim mendengarkan semuanya, bahkan sangat mengerti apa yang Hana rasakan.
“Umi, selalu ingat kan? Begitu juga dengan saya yang selalu berada disamping umi.” Ibrahim berusaha untuk menenangkan sang istri. “Dan kedatangan Shanum saat itu menjadi cahaya yang berpendar di hati kita. Umi masih yakin dengan sebuah tespek yang belum tau itu punya siapa.” Lanjutnya.
“Tapi Umi tadi dengar dari Hilya sendiri, Abah.” Hana mengelak.
“Umi langsung percaya?” Tanya Ibrahim.
“Iya Umi percaya, Itu sudah ada buktinya, kenapa Abah tidak mengerti perasaan umi.” Ujar Hana.
“Abah dengar tadi sempat ada keributan,” Ibrahi tau kejadian yang beberapa menit tadi.
“Iya, Umi tadi memanggil Shanum dan kecewa dengannya.”
“Umi kebawa oleh amarah sampai tidak sadar kalau Shanum ingin membela.”Kata Ibrahim yang langsung membuat Hana terdiam tak bisa berkata lagi.” Besok pagi selesai solat subuh panggil Shanum dan Hilya!” Perintah Ibrahim pada sang istri.
***
10 tahun sebelum berdirinya Pondok Pesantren Khusus Putri Ar-Rohma.
Langit pagi, dihari Selasa tidak terlihat cerah, melainkan langit kala itu menunjukan warna abu-abu sebagai tanda akan ada hujan. Bahkan, matahari belum sempat menyapa pagi hari.
Seperti semesta tahu bahwa di hari Selasa tersebut ada hati seorang ibu yang telah kehilangan putri pertamanya.
“Nak, kamu tega meninggalkan Umi sendirian?” Hana memeluk raga putrinya yang sudah tidak bernyawa. Tubuh kaku dan terasa dingin.
Putri pertamanya yang masih berusia 7 tahun itu harus meninggalkan keluarganya. Karena ada penyakit yang telah mengerogotinya sedari kecil, sekarang tubuhnya sudah tidak cukup kuat menahan rasa sakit itu.
“Apa Alina tidak ingin melihat adik yang masih ada di perut umi? Alina ingin mempunyai adik laki-laki?” Hana mengelus perutnya yang tengah mengandung anak ke-dua.
“Umi, Alina sudah tenang disana. Allah sangat sayang pada putri kita, jadi Alina tidak kesakitan lagi.” Ibrahim mengambil alih tubuh istrinya, memaksanya untuk melepaskan jenazah sang putri.
Ibrahim juga sama sedihnya saat putri pertama yang masih belia harus meninggalkanya. Namun, kalau ia berlarut dalam kesedihan juga, ia harus tetap tangguh karena tak akan ada yang menenangkan hati istrinya yang sama-sama rapuh.
Minggu, tanggal 15 September 2015. Tepat sehari setelah berulang tahun yang ke 7 tahun. Alina Zahira Ar-Rohma Binti Ibrahim, telah dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul empat dini hari.
Di saat masih berduka atas kehilangan putrri pertamanya, Hana selalu menghabiskan waktunya untu membaca Al-Qur’an. Di sela tilawanya ia mendengar suara bayi yang menangis, kehadiran seorang bayi perempuan yang datang ke rumahnya. Berada didalam kerdus dengan keadaan yang memprihatikan, bayi perempuan itu datang tanpa ada identitas. Kemudian, Hana memberi nama Shanum Alesya. Seperti tanda bahwa bayi yang bernama Shanum adalah sebagai pelipur lara bagi mereka yang rapuh. Bagaikan Cahaya yang berpendar di jeda tilawah.
Tak selang satu bulan kemudian, ada kabar kelahiran anak ke dua. Hana dan Ibrahim masih merasa kehilangan namun dengan hadirnya anak ke dua, mereka terlihat kembali bahagia.
“Abah, dia ganteng sepertimu.” Ujar Hana melihat wajah bayi laki-laki yang baru berusia seminggu.
“Matanya mirip seperti Umi,” kata Ibrahim.
“Umi senang sekali sekarang kita mempunyai dua anak yang cantik dan ganteng.” Ucap Hana.
“Allah telah mendengar doa dan usaha kita, Umi.” Kata Ibrahim, senang dengan kebahagian yang telah di berikan oleh Tuhannya setelah cobaan kehilangan putri pertamanya.
Dari kesedihan membawa kebahagian yang tak pernah dibayangkan. Shanum datang membawa kebahagian dalam keluarga tersebut, dan juga kelahiran Muhammad Nizar yang melengkapi kebahagian tersebut.
Ibrahim membangun Pondok Pesantren Khusus Putri Ar-Rohma, bukan semata-mata untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang yang mempunyai Ilmu Agama dan ingin ilmu tersebut bisa bermanfa’at untuk orang lain. Pondok Pesantren Khuhus Putri Ar-Rohma dibangun atas dasar cinta terhadap istrinya, dan juga untuk mengenang sang putri pertamanya yang telah lama meninggal dunia.
Dan dari situlah Pondok Pesantren Khusus Putri Ar-Rohma berdiri. Nama yang diambil dari nama putri pertamanya, membawa banyak santriwati yang menempuh pendidikan non-formal disana.
***
Keesokan harinya, Shanum dan Hilya sudah berada di dalam ndalem. Di dalam ruang tamu ndalem sudah ada Ibrahim, Hana, Shanum dan juga Hilya.
“Assalamualaikum, Umi, Abah,” Shanum bersalaman kepada Ibrahim dan juga Hana. Walaupun, Hana masih terlihat cuek padanya.
“Wa’alaikumsalam, putri Abah.” Ucap Ibrahim membalas salam sang putri. Shanum sudah menjadi mahramnya, karena pada saat itu Hana juga menyusui bayi perempuannya.
Lalu Hilya juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Shanum tadi.
“Abah, panggil kalian kesini karena ada yang ingin abah tanyakan.” Kata Ibrahim.
“Iya Abah,” Jawab Hilya.
Hana masih diam dan hanya memperhatikan apa yang akan dikatakan oleh ibrahim.
“Hilya, apa kamu benar telah menemukan tespek ini di dalam kamar mandi masjid?” Tanya ibrahim
“I-iya abah,” Jawab Perempuan yang duduk di sebelah Shanum.
“Jawab jujur, Nduk!” Ibrahim menekankan Hilya untuk jujur kepada semuanya.
Tangan Hilya meremas kerudung panjangnya. “I-itu punya kakak saya, Abah.” Jujur Hilya, pada akhirnya semua kebenaran ini akan terungkap.
Hana dan Shanum kaget dengan apa yang dikatakan Hilya. Ibrahim yang dari awal sudaah tidak yakin bahwa tespek itu bukan milik purti angkatnya.
“Kenapa bisa ada di kamu, Hilya,” Hana akhirnya bersuara.
Dengan menunduk Hilya mulai menceritakan “Kemarin siang, keruarga saya kesini untuk menjenguk, kakak saya memberitau bahwa kakak sedang hamil dan membawa tespek itu.” Mata Hilya sudah memerah. “Saya meminta tespek itu untuk saya simpan.” Lanjutnya.
“Sekarang, Abah tanya sekali lagi pada kamu Hilya,” Ujar ibrahim “Apa yang kamu lakukan dengan tespek itu?” Tanya Ibrahim memastikan.
“Saya memfitnah Shanum dengan dalih bahwa dia telah mengandung di luar nikah.” Jujur Hilya, ia sudah mengakuinya.
Terlalu sakit kalau didengar, Shanum sudah tidak bisa berkata-kata lagi setelah tau semuanya. Air matanyayang kemarin malam sudah kering kini kembali mengalir.
“Kamu tau itu adalah hal tercela, Hilya.” Tegas Hana. “Shanum, maafkan umi ya nak,” Hana merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan kemarin sore. Setelah mendengar itu Shanum keluar ndalem tanpa pamit pada kedua orang itu angkatnya.
“Saya tau Umi, Abah, saya meminta maaf atas semua perbuatan yang saya lakukan.” Penyesalan yang selalu berada diakhir.
“Kamu harus meminta maaf pada putri Abah, Hilya. Susul dia!” Ucap Ibrahim.
“Abah, Umi telah bersalah pada Shanum,” Hana menyesal karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Shanum. Malah ia terus mempertanyakan yang sama sekali Shanum tidak lakukan.
“Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, Umi.” Ujar Ibrahim. “Kalau kita ikut campur maka kejadian seperti kemarin akan terulang lagi.” Cegah Ibrahim agar Hana tidak lagi ikut campur dengan masalah anak remaja.
***
Usai mengetahui apa yang sudah terjadi kepadanya, Shanum memilih untuk kembali ke Asramanya yang tenang karena sebagian ada satriwati yang sedang pulang.
“Semalaman, semalaman aku tak bisa tidur setelah Umi mengatakan bahwa diriku seorang anak angkat yang tidak tau adab, bahkan, Umi sampai tidak ingin bertemu denganku. Kamu kejam sekali, menyiksa bagian yang tak pernah aku pikirkan yaitu hatiku dan hati seorang Ibu. Kamu tau kelemahan dari diriku tapi kamu dengan tega menghancurkan sebagian diriku, Lya.”
“Maafkan aku Shanum.” Hilya mendengar semuanya.
“Maaf? Aku sudah memaafkan kamu tapi setelah tau dalang dari fitnah itu, tak tau lagi apakah aku masih bisa menganggap kamu adik atau sahabatku lagi?” Ungkapan Shanum yang menusuk hati Hilya.
“Maaf aku telah jahat kepadamu.” Kata Hilya, bukan jawaban yang Shanum dapatkan melainkan pengakuan dan penyesalan.
“Aku sudah menganggap kamu sebagai adikku seperti adik-adik santriwati yang lain. Tapi kenapa kamu tega memfitnah diriku seperti itu. Kemudian, kamu hancurkan kepercayaan keluarga Ndalem. Apa aku pernah ada kesalahan denganmu? Lya.” Tanya Shanum setelah mengetahui siapa di balik semuanya. Ia tidak menyangka bahwa yang melakukan itu adalah sahabatnya sendiri.
“Kamu nggak punya salah. Aku yang terlalu dibutakan oleh sifat iri yang membuatku sampai tega memfitnah kamu. Aku tidak tau bahwa dampaknya sampai seperti ini. Aku khilaf, Sekali lagi Maafkan aku, Num.” Hilya meraih tangan Shanum untuk minta maaf atas semua yang sudah terjadi.
Shanum menggenggam tangan Hilya, lalu ia menatap wajah Hilya sebelum akhirnya mengalihkan tatapan itu. Karena air mata tak lagi bisa ia bendung.
“Aku tidak lagi sanggup untuk marah ataupun berteriak, Lya.” Kata Shanum “Aku juga sudah memaafkan kamu sebelum pengakuanmu tadi.” Lanjautnya.
“Terima kasih sudah jadi sahabat yang selalu mengingatkan diriku bila aku salah.” Mata Hilya berkaca-kaca
Shanum memeluk Hilya, walaupun masih dengan rasa kecewa. Shanum tetaplah Shanum yang mempunyai jiwa yang penyayang, dan bersikap dewasa dengan memaafkan Hilya yang sudah memfitnahnya. Fitnah adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Pada akhirnya semua perbuatan akan ada hukumannya.
Hilya mendapatkan hukuman itu, ia menyesal dan selalu memohon maaf kepada Shanum. Namun, Shanum tetap bersikap seperti biasanya. Itu yang membuat Hilya makin merasa bersalah.
Seperti pada awalnya Cahaya itu selalu berpendar untuk orang disekitarnya, termasuk untuk orang tua angkatnya.
TAMAT