Oleh: Muhammad Hasyim, Ma’had Aly pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa timur.
Di tanah kerontang itu, salah satu Kiai sepuh menanamkan sejumlah balok ulin yang kelak menjadi rumah bagi puluhan jiwa gersang. Bangunan itu sederhana, berdinding papan yang mulai digerogoti rayap, namun tetap menanggung harap. Atapnya terbuat dari seng yang sudah berkarat, yang ketika terkena angin merengek seolah berdoa meminta,
“Kuatkanlah.”
Usianya memang tidak lagi layak disebut muda, namun dedikasinya semakin ke sini semakin terasa. Pesantren itu telah menghidupkan tanah tak subur itu, menjadikannya sumber harapan jiwa saat kaktus pun enggan menumbuhkan akarnya.
Namanya Layla, gadis malang yang ditinggal ibunya saat balita adalah salah satu dari puluhan santri yang menanamkan harapan di pondok tua itu. Konon mendiang ibunya pernah mondok di sana. Layla terlahir sebagai orang kota, namun, sejak kecil dia telah bersahabat dengan sunyi. Sang ibu meninggalkannya saat dia masih mengeja doa qunut, lalu sang ayah memilih menikah lagi padahal tanah makam ibunya masih basah.
Tentu saja ibu tirinya tidak mau merawat anak orang lain. Layla kecil pun dirawat oleh neneknya di kampung, kemudian dengan penuh harapan, sang nenek menitipkan cucu satu-satunya itu ke pesantren yang berada di ujung gunung itu. Menurut cerita sang nenek, dulu leluhur Layla ikut serta dalam membangun pondok yang usianya lebih satu abad itu.
Bagi banyak orang, pesantren hanyalah tempat menimba ilmu dan belajar kitab. Namun, bagi perempuan yang biasa dipanggil Lyly, pesantren adalah satu-satunya rumah—tempat tinggal, bertahan hidup, dan tempat untuk bersembunyi dari pelukan sepi.
Ujian terbesar Layla bukanlah sepi atau finansial, melainkan kerinduan pada kasih sayang seorang ibu melebihi dalamnya sumur kering. Namun, dia sadar rindu tidak akan mengembalikan keadaan, atau menyuburkan tanah tandus. Dari sana, Layla mulai belajar mencintai segala sepi dini hari, segala dingin lantai musala, segala gelap di sepertiga malam, dan segala tetes keringat saat menimba air dari sumur pesantren.
Layla termasuk santri kesayangan Bu Nyai Salwa. Dia telah nyantri di pondok itu selama tiga belas tahun.
Suatu hari, Bu Nyai Salwa membawa bermacam bibit bunga dari luar kota. Beliau memanggil seluruh santri putri dan menyuruh mereka untuk menanam bibit-bibit itu. Layla tidak hadir karena dia sibuk menyiapkan makan malam keluarga Bu Nyai. Setelah salat Isya dia diberi tiga biji bibit mawar kuning oleh Nadifah—teman satu kamarnya.
“Ini katanya bibit mawar kuning. Tapi aku tidak tahu juga. Karena tidak ada yang mau mengambil, jadi aku bawa saja,” Nadifah membuka lipatan kertas lusuh tempat tiga biji itu disimpan.
Layla menerimanya. “Kamu mau nanam biji bunga apa, Dif?”
Nadifah mengeluarkan bungkusan kertas berisi sepuluh bibit mawar warna merah dan pink. “Ini,” tunjuknya pada Layla. “Kata Bu Nyai ini ada yang warna merah ada yang warna pink.”
Layla manggut-manggut. “Terima kasih ya, Dif.”
“Sama-sama.”
Keesokan harinya, saat bumi berpayung senja, awan tipis berderet seakan tidak bergerak. Permukaannya disapu oleh cahaya matahari. Semua santri putri sibuk menyemai biji bunganya masing-masing. Bu Nyai memantau para santrinya.
“Perempuan itu ibarat bunga, Nak. Dia akan tumbuh subur dan mekar jika berada di tempat yang tepat dan dijaga dengan baik,” ujar Bu Nyai tersenyum.
Para santri diam, masih belum menangkap maksud dari ucapan itu.
“Semua orang menyukai perhiasan dan keindahan. Segala perhiasan tidak akan lepas dari keindahan. Yang namanya perhiasan harus dijaga dengan baik dan penuh kesabaran.” Bu Nyai Salwa diam sejenak, semua santri sepakat akan hal itu.
“Bunga yang indah jika tumbuh di sembarang tempat dan tanpa penjagaan yang baik dia akan dipetik oleh tangan tak bertanggung jawab bahkan sebelum kelopaknya mekar sempurna. Begitu juga wanita, dia akan menjadi perhiasan terbaik jika berada di tempat dan bimbingan yang tepat. Untuk sekarang ini tidak ada tempat paling baik dibanding pesantren. Rawatlah dan jagalah bunga yang kalian tanam sebagaimana pesantren menjaga kalian.”
Layla menyemai tiga biji itu di depan musala. Setiap mau salat lima waktu, biji itu disiram dengan sisa air wudunya.
Dua minggu berlalu, tunas mulai tumbuh, daun pertama dan kedua melebar sempurna. Layla terus merawat bunga itu, sesekali di waktu sore—setelah pekerjaan di dalem kelar, dia mencongkel tanah di sekitar tunas. Semua santriwati berlomba-lomba merawat bunganya masing-masing.
“Anggaplah bunga itu anak kalian, perlakukan bunga itu seperti kalian memperlakukan anak-anak kalian nanti.” Begitulah ucapan Nyai Salwa dua hari yang lalu saat berkeliling melihat pertumbuhan bunga-bunga santrinya.
Enam minggu setelahnya, bunga-bunga itu sudah mengeluarkan kuncup, pertanda tidak lama lagi akan mekar. Namun, tidak untuk bunga Layla, ia layu, daun-daunnya menguning, sebagian berlubang dimakan ulat. Layla terus merawat bunga itu walaupun sebagian teman Layla bilang itu akan mati. Saking tulusnya, Layla sampai meneteskan air mata dalam doanya agar bunganya bisa subur kembali.
Saat memasuki minggu ketujuh, pucuknya kering, daun-daunnya berjatuhan. Tak ada lagi harapan. Batangnya sudah layu. Namun, Layla tetap gigih dan rutin menyiraminya dengan sisa air wudu seakan dia masih menaruh harapan di satu doa dari ribuan doa yang mengambang.
“Udah, Lay… cabut aja. Ganti dengan bunga lain. Lagian kamu nanamnya di tempat yang tidak sejuk, jauh dari air.” Ini bukan bentuk hinaan dari Desi, justru ini bentuk kepeduliannya pada Layla agar tidak berharap pada hal yang sulit untuk dicapai.
Layla tersenyum. “Aku sudah menitipkan bunga ini pada Allah, sekecil apapun kemungkinannya, aku akan terus merawat bunga ini sebagaimana aku merawat doa-doaku, sebagaimana pesantren mendidik murid-muridnya, sebagaimana Majnun menunggu Layla, sebagaimana zikir meluluhkan hati. Selagi ada kemungkinan di situlah ada harapan.”
Desi kehilangan kata-kata. Dia hanya tersenyum kecut lalu pergi meninggalkan Layla yang masih sibuk mencabuti rumput kecil di sekitar batang mawarnya.
Di minggu kedelapan, sebagian bunga para santri sudah mekar, ada juga yang masih berkutat dengan kuncup dan ada yang masih mekar separu. Lihat! Sekitar pesantren sudah mulai indah dengan bunga-bunga warna-warni.
Tapi sayang… liburan panjang tiba. Semua santri pulang, termasuk Layla yang ingin menemani sang nenek selama Bulan Ramadan. Tidak lupa, dia selalu mendoakan bunga itu seolah Kiai mendoakan muridnya, orang tua mendoakan anaknya dan ulama mendoakan umatnya.
Selama Bulan Ramadan, Layla yang waktu itu berusia sembilan belas tahun dipercaya menjadi imam tarawih. Selain karena bacaannya yang fasih, suara Layla juga sangat merdu, dan setiap selesai salat subuh, dia mengisi kultum untuk para ibu-ibu muslimat.
Bukan hanya itu, selama Ramadan Layla juga berjualan takjil di sore hari untuk bekal nanti ketika balik ke pondok. Uang bulanan yang dikirim oleh ayahnya dari kota jauh dari kata cukup, sang nenek juga tidak mampu menambah uang kiriman ayah Layla yang tidak seberapa itu.
Di pondok, Layla diperbolehkan untuk mencari pemasukan oleh Nyai Salwa dengan syarat tidak mengganggu pelajarannya. Segala bentuk pekerjaan yang bisa membuat dirinya bertahan di pondok itu Layla lakukan—mulai dari mencucikan baju temannya, melukis—kalau ada pesanan, dan kadang menjual gorengan.
Walaupun seperti itu, dia juga menjadi sandaran bagi santri lain. Layla tidak jarang membantu santri lain yang kekurangan biaya seolah dirinya paling tercukupi.
Sebagai santri senior, dia juga yang paling sering menemani para santri baru yang belum betah di pondok. Semua itu dia lakukan dengan hati lapang. Seperti namanya, Layla laksana malam, walaupun kehidupannya gelap namun tetap tenang, dan menjadi tempat ternyaman untuk bersandar. Suaranya yang lembut dan akhlaknya yang patut diajungi jempol, membuat semua santri mengenalnya.
Pagi itu, satu bulan sudah masa liburan, azan subuh mengetuk dinding-dinding langit. Embun menyelimuti bumi, angin sejuk menusuk kulit dari sela-sela mukena. Layla dengan sang nenek menuju musala yang jaraknya sekitar dua ratus meter dari rumahnya. Tiga puluh menit setelahnya mereka sudah kembali ke rumah. Layla menyiapkan beberapa kue basah dan kerupuk untuk tamu.
Ya, hari ini adalah hari Lebaran. Tujuh hari lagi Layla akan kembali ke pondok. Di satu sisi dia tidak tega meninggalkan sang nenek, namun di sisi lain dia masih semangat mencari ilmu, dan… satu lagi, dia tidak sabar ingin melihat kondisi bunganya.
Matahari bersinar lembut pagi ini, kicauan burung-burung seolah berseru riang menyambut hari kemenangan. Suara takbir menggema, bersaut-sautan di antara beberapa masjid dan musala terdekat sejak selesai subuh tadi.
“Ayahmu sudah tiga kali Lebaran tidak ke sini Ly. Apa mungkin Lebaran kali ini tidak akan ke sini lagi.”
Layla menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah si nenek yang sedang mempersiapkan antaran ke tetangga. Layla tersenyum, tanpa berkomentar apapun. Dia baru sadar ternyata sudah tiga tahun tidak bertemu dengan sang ayah.
Anak perempuan mana yang tidak ingin mendapat pelukan sang ayah? Bukankah anak perempuan manjanya pada seorang ayah? Entahlah… tiba-tiba Layla merindukan ayahnya. Seperti apapun kondisinya Layla tetaplah anak dari seorang ayah. Wajar jika dia ingin berbakti pada sosok laki-laki itu dan memeluknya.
Seharian tamu Layla datang silih berganti. Mulai dari tetangga, kerabat dan teman-teman Layla yang satu pondok, Rani, Tina, Ririn, Susi, Alma dan beberapa yang lain yang sudah menganggap Layla sebagai kakak kandung mereka. Tahun ini tamu yang datang jauh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Dia bahkan tidak sempat berkunjung kepada tetangganya. Hanya ke makam sang Ibu tadi pagi sepulang dari salat Id.
Malam harinya Layla sangat lelah, dia ingin segera istirahat langsung sehabis salat Isya. Namun, niatnya urung setelah kedatangan tamu yang memang diharapkan namun tidak juga ditunggu. Dialah Rusli—ayah Layla. Dia datang dengan seorang perempuan dan dua anak kecil, mungkin berumur sepuluh tahun dan satunya dua tahun lebih muda.
Malam itu suasana rumah nenek Layla menjadi ramai dengan kehadiran dua adik tiri Layla. Walaupun tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi tiga bersaudara itu langsung akrab seolah sudah lama tinggal bersama. Layla sangat tidak keberatan kedua adiknya tidur di kamarnya yang tidak terlalu lebar itu. Keesokan harinya, hari raya kedua, cuaca tidak secerah kemarin. Matahari bersembunyi di balik mendung pekat, sesekali hanya semburat cahayanya yang terlihat di sela-sela mendung yang terurai.
“Ly. Ayah mau bicara berdua sama kamu.”
Layla yang baru saja meletakkan kopi di meja—depan sang Ayah, hanya tersenyum lalu duduk di kursi sebelahnya.
Dua tahun berlalu begitu cepat, bagaikan kelapa jatuh tanpa disadari pertumbuhan batangnya. Warna tembok pesantren memudar seolah dosa-dosa yang disesali dalam doa. Kini kehidupan Layla berubah drastis. Dia tengah hamil. Ya, dia telah menjadi seorang istri muda saudagar kaya.
Segala kebutuhan finansial tercukupi. Namun, seorang hamba yang dicintai Tuhannya, tidak akan pernah luput dari yang namanya ujian. Karena dengan ujian itu dia akan diangkat derajatnya. Ujian bagaikan mendung, kelam, namun menurunkan hujan kehidupan.
Usia kandungan memasuki bulan keenam. Layla adalah istri ketiga dari pengusaha sukses. Suaminya jarang pulang. Layla tinggal satu atap dengan kedua madunya. Sudah bisa ditebak bagaimana dia diperlakukan oleh kedua istri tua sang suami. Bahkan dia diperlakukan melebihi pembantu-pembantu di rumah besar itu. Lebih parah lagi, para pembantu di sana memandang Layla layaknya pembantu baru. Hanya tukang kebun yang masih menganggapnya sebagai majikan.
Namun, semua itu bukanlah tandingan bagi hati teguh Layla yang dari kecil hidup dalam medan cobaan.
Bunga mawar yang sudah mekar akan memberikan bau semerbaknya pada tangan yang memetik dan menyakitinya.
Itulah Layla, tak ada dendam, dan tak ada kebencian yang bersembunyi di lubuk hatinya. Hatinya tercipta untuk selalu mengasihi, layaknya bunga mawar yang selalu membuat senang mata yang memandang. Bunga mawar? Ya, dua tahun lalu saat Layla berpamitan untuk berhenti mondok, Nyai Salwa bertanya.
“Ly. Kamu sudah melihat bunga yang kau tanam?”
“Sudah, Bu Nyai.”
“Bagaimana bunga itu sekarang.”
“Alhamdulillah mekarnya sudah sempurna, Bu Nyai. Dan aromanya sangat harum bahkan tercium hanya dengan lewat di dekatnya.” Layla dengan bangga menceritakan kondisi bunga itu.
“Bukankah satu bulan yang lalu saat kamu pulang bunga itu layu, seolah tidak ada harapan untuk kembali subur apalagi mengeluarkan bunga seindah sekarang?” Layla manggut-manggut menunggu lanjutan penjelasan Nyai Salwa.
“Sekarang bunga itu menjadi bunga paling harum dibanding bunga-bunga yang santri lain. Kadang bunga itu hanya membutuhkan manusia untuk menyemainya tanpa perlu dirawat setiap waktu. Dia bisa hidup dengan sendirinya dan pada waktunya dia akan mengeluarkan bunga yang indah yang bisa dinikmati oleh tidak hanya orang yang menyemai, tapi semua orang yang memandangnya dari jauh sekalipun. Begitu juga santri, pesantren tidak perlu mendidiknya selalu, pesantren hanya sebagai perantara dia mengenal Tuhannya. Pada masanya, pesantren akan melepaskan santri-santrinya untuk tumbuh dan mekar di luar sana. Menyebarkan harumnya agama kepada setiap orang yang dia jumpai. Saya yakin, Ly, kamu bisa tumbuh seperti bunga yang kau tanam itu. Turuti apa kata ayahmu, Ly.”
Layla mengusap ujung matanya sebelum membentuk sungai kecil. Dia masih ingin tinggal di pondok ini, mengabdikan diri di tempat yang menampung masa kecilnya. Mengayomi adik-adik santri, dan satu lagi… dia masih ingin melihat bunga yang dia tanam bermekaran dan menebar bau harum.
Namun di sisi lain dia tidak mau menolak permintaan orang tuanya yang selama ini membiayai. Layla tidak mau melihat sang ayah masuk penjara gara-gara tidak mampu melunasi utangnya.
Dengan bismillah dan berserah diri pada Allah, Layla menerima menjadi istri muda juragan kaya dengan imbalan utang ayahnya dianggap lunas.
Sejak menjadi istri muda, Layla tidak pernah lagi ke pondoknya. Dia tidak tahu bahwa bunga yang pernah dia tanam dulu sekarang sudah menjadi ciri khas pondok itu. Bahkan sebagian orang menjuluki pondok itu sebagai Pondok Mawar Kuning, karena seluruh halaman pesantren dipenuhi Mawar Kuning hasil bibitan dari tiga pohon mawar yang dulu dia tanam.
Nama Layla selalu disebut saat membicarakan bunga itu. Para santri lama bercerita tentang sosok Layla—kesabarannya, akhlaknya dan ketelatenannya pada para santri baru.
Bunga-bunga itu seolah menyimpan doa-doa Layla yang ditanam bersama kesabaran dan bekas air wudu.
Dengan keteguhan hati dan doa-doa yang selalu mengetuk langit, lambat laun Layla mulai dihormati di rumah megahnya.
Dan Masyaallah… setelah sepuluh tahun menjadi istri saudagar kaya, Layla dipercaya sang suami untuk mengelola sebagian bisnisnya.
Kini Layla sudah memiliki dua toko emas, satu restoran dan dua toko bunga. Layla tidak hanya menjadi seorang pebisnis, dia juga menjadi dai dan motivator golongan muda.
Semua lapisan masyarakat mengenalnya. Seluruh keluarga besar saudagar kaya itu menghormatinya, bahkan kedua madunya pun juga sangat menaruh hormat padanya.
Semua kekayaan yang dia miliki tidak lain hanya untuk membantu perkembangan pondok pesantren yang kini lebih dikenal sebagai Pondok Mawar Kuning, dan pada suatu hari nanti, dia dipanggil Ibu Nyai oleh santri-santrinya.
“Ibu Nyai Layla—Sang Mawar Kuning dari Pesantren Tua.”
- Hasyim
Sukorejo, 07/10/2025