
Oleh: Hilda Agusfirlana, Universitas KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto
Di sebuah malam yang diselimuti cahaya layar, Fachri menatap pantulan wajahnya di monitor yang padam. Ia bukan sekadar remaja penggemar teknologi; di balik matanya yang redup, tersimpan pergulatan panjang tentang arah hidup. Sejak kecil, ia tumbuh di rumah yang dipenuhi suara ketikan dan aroma solder. Ayahnya, seorang pengembang situs web di kota, sering berkata bahwa jaringan kabel bisa menghubungkan dunia tapi tidak selalu bisa menyatukan hati manusia.
Kalimat itu melekat di benak Fachri. Setelah kepergian sang ayah, ia mulai mempertanyakan makna “cahaya” yang selama ini ia kejar lewat layar. Mungkin bukan di ruang server atau dunia maya tempat ia menemukan jawabannya, melainkan di pesantren tempat di mana cahaya tidak datang dari kabel, tapi dari ilmu dan doa. Maka, ia pun memutuskan untuk nyantri, membawa satu misi dalam hatinya: menyalakan kembali lentera iman di tengah rimba teknologi, agar santri lain tak buta arah di dunia digital.
Hari pertama Fachri menapaki halaman pesantren Roudlotul Jannah, udara pagi membawa aroma tanah basah dan suara lantunan ayat suci dari surau kecil di ujung lapangan. Semua terasa asing, namun menenangkan. Di sini, sinyal internet mungkin lemah, tapi sinyal hati terasa lebih kuat.
“Di pesantren ini,” ujar Kiai Mukhlis sambil tersenyum, “kita belajar membaca ayat, bukan hanya yang tertulis di mushaf, tapi juga yang terhampar di semesta.”
Kata-kata itu menusuk lembut ke hati Fachri. Ia mulai mengerti: teknologi adalah ayat modern yang juga perlu dibaca dengan iman.
Malamnya, saat teman-temannya sudah terlelap, Fachri masih terjaga di depan laptop tuanya. Ia bukan sedang berselancar di dunia maya, melainkan menulis baris-baris kode sederhana untuk membuat laman kecil “SantriNet”, tempat para santri bisa belajar komputer dan menulis dakwah digital. Setiap baris kode ia ketikkan dengan niat seperti membaca doa: pelan, tulus, dan penuh harapan. Dalam diam, ia merasa seolah sedang merangkai jembatan antara pesantren dan dunia. Ia ingin santri tak lagi takut pada teknologi, tapi juga tak hanyut di dalamnya.
Pagi berikutnya, ketika fajar mulai merekah, suara azan menggema bersama desiran angin. Fachri menatap ufuk timur, lalu berbisik lirih, “Ayah, mungkin inilah caraku menyalakan cahaya dari jaringan yang lebih dalam jaringan doa.”
Dan sejak hari itu, Fahri dikenal bukan hanya sebagai santri baru, tapi sebagai kompas kecil di rimba teknologi. Ia menunjukkan bahwa ilmu tak harus menenggelamkan iman; keduanya bisa berjalan beriringan, seperti cahaya yang menuntun arah di tengah gelapnya layar dunia.
Temannya, Hasan, sering menggoda.
“Ri, kau ini santri apa mahasiswa? Bawa laptop ke serambi, kayak mau bikin skripsi.”
Fahri hanya tersenyum. Ia tahu, di pesantren ini membawa laptop bukan hal biasa. Kiai sering mengingatkan agar santri tidak lalai karena layar. Jaringan Wi-Fi hanya hidup di ruang guru, itupun sinyalnya sering tersendat. Colokan listrik terbatas, dan beberapa ustaz masih memandang laptop sebagai “barang dunia” yang bisa mengganggu zikir.
Namun bagi Fachri, laptop bukan sekadar alat. ia ibarat kitab modern tempat menulis ilmu dan berdakwah di zaman digital.
“Siapa bilang santri harus buta teknologi?” katanya pelan. “Justru kita harus bisa menyalakan cahaya di rimba zaman ini.”
Hasan hanya menggeleng, separuh heran, separuh kagum. Dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya: mungkinkah layar dan kitab bisa berjalan seiring?
Tradisi dan Teknologi
Kehidupan pondok berjalan seperti biasa. Pagi belajar nahwu-sharaf, siang kitab fiqh, sore hafalan Qur’an. Malamnya, suara santri membaca kitab gundul bergema di serambi, berpadu dengan desir angin dari kebun tebu di belakang pesantren. Namun di balik ketenangan itu, Fahri merasakan ada sesuatu yang ganjil. Beberapa kali ia mendengar kabar miring dari luar pesantren. Ada warga yang menuduh pesantren mereka mengajarkan paham sesat. Bahkan nama Kiai Mukhlis, pengasuh pesantren, disebut-sebut dalam berita daring sebagai kiai “radikal”.
Awalnya Fachri tak percaya. Namun setelah diselidiki, tuduhan itu muncul karena video ceramah Kiai Mukhlis yang dipotong dan disebarkan tanpa konteks. Dalam potongan video itu, Kiai terlihat berbicara dengan nada tegas tentang jihad melawan hawa nafsu, tapi warganet yang tidak memahami isi lengkap pengajian menafsirkan jihad itu sebagai ajakan kekerasan. Sebagian warga yang kurang paham dunia digital ikut terpengaruh. Mereka tak menyadari bahwa pesantren tempat Fachri belajar justru mengajarkan Islam rahmatan lil ‘alamin, penuh kasih dan kedamaian.
Bagi Fachri, inilah bukti bahwa teknologi bisa menjadi pedang bermata dua bisa menerangi, tapi juga menyesatkan bila digunakan tanpa ilmu.
Beberapa hari setelah ide Fachri disetujui, suasana pondok berubah. Sebagian santri bersemangat membantu, tetapi sebagian lain masih ragu. Di tengah semangat itu, muncul masalah baru akun media sosial yang mereka buat justru diserang oleh warganet dengan komentar pedas.
>“Pesantren pura-pura baik!” tulis seseorang.
“Radikal tapi pakai dalih sosial!” tambah yang lain.
Fachri menatap layar ponselnya dengan dada sesak. Ia tidak menyangka niat baiknya menimbulkan badai baru. Malam itu, ia menemui Kiai Mukhlis.
“Kiai, kenapa mereka tetap tidak percaya, padahal kita sudah menunjukkan kegiatan kita?” tanyanya lirih.
Kiai Mukhlis tersenyum tenang. “Kebenaran tidak selalu diterima seketika, Nak. Tapi jangan berhenti berbuat baik hanya karena cibiran.”
Namun ujian belum selesai. Keesokan harinya, datang surat dari aparat desa yang meminta klarifikasi resmi. Ada laporan bahwa pondok mereka terindikasi menyebarkan ajaran keras. Santri-santri panik, bahkan beberapa wali santri menjemput anaknya pulang karena takut.Suasana pondok mencekam. Aula pesantren yang biasanya ramai bacaan kitab, kini hening. Fachri merasa bersalah ia khawatir usahanya justru memperburuk keadaan.
Di tengah kebingungan itu, seorang wartawan lokal datang ke pesantren untuk mewawancarai Kiai Hasan. Fachri memohon izin untuk ikut berbicara.
“Saya yang membuat laman dan konten tentang kegiatan kami, Pak. Kami hanya ingin masyarakat tahu bahwa pesantren tidak seperti yang diberitakan,” ujarnya tegas.
Wartawan itu menatapnya dalam. “Kalau begitu, izinkan saya meliput langsung kegiatan kalian.”
Hari-hari berikutnya menjadi titik balik. Wartawan tersebut menulis artikel panjang berjudul “Pesantren yang Dituduh Radikal, Ternyata Tempat Melahirkan Santri Kreatif Digital.” Berita itu viral. Dukungan mulai berdatangan, dan masyarakat yang dulu mencibir kini datang bersilaturahmi.
Suatu sore, Fachri duduk di serambi pondok, menatap para santri yang kembali bersorak membaca kitab. Ia tersenyum lega. “Kadang, fitnah memang menyakitkan,” katanya dalam hati, “tapi tanpa badai, kita takkan tahu seberapa kuat akar keikhlasan tumbuh.” Kiai Mukhlis menghampirinya pelan. “Kau sudah belajar satu hal penting hari ini, Nak. Tradisi dan teknologi bukan untuk dipertentangkan, tapi dipersatukan dalam kebaikan.”
Tantangan dari Dalam
Beberapa minggu berlalu sejak laman resmi pesantren mulai aktif. Video kajian, kegiatan sosial, dan dokumentasi hafalan santri menarik perhatian banyak orang. Akun pesantren itu tumbuh cepat ribuan pengikut dalam waktu singkat. Namun, popularitas membawa ujian baru. Suatu sore, Fachri duduk di serambi sambil memantau komentar di laman. Di antara pujian, muncul sindiran:
>“Pesantren sekarang cari viral, bukan ilmu.”
“Dakwah kok gaya influencer?”
Fachri terdiam lama. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada tuduhan hoaks dulu. Kini bukan orang luar yang mencibir, melainkan sebagian alumni dan ustaz dari pesantren tetangga. Mereka menilai pesantren Kiai Mukhlis mulai kehilangan ruh keikhlasannya. Malam itu, Fachri dipanggil ke ndalem Kiai. Suasana hening, hanya suara jangkrik menemani.
“Kiai,” ujar Fachri pelan, “apakah benar, apa yang saya lakukan ini membuat orang salah paham?”
Kiai Mukhlis menatapnya lekat, lalu berkata lembut, “Nak, dunia berubah. Dulu orang berdakwah dengan suara, kini dengan layar. Tapi ingat, setiap cahaya bisa juga menimbulkan bayangan.”
Fachri menunduk. “Saya hanya ingin menjaga nama baik pesantren, Kiai.”
“Dan itu niat yang baik,” jawab sang Kiai, “tapi jangan sampai niat baikmu berubah menjadi kebanggaan diri. Teknologi itu seperti pedang bermata dua. Satu sisi menolong dakwah, sisi lain bisa menebas keikhlasan.”
Kata-kata itu membekas di hati Fachri. Malam itu ia termenung di depan layar laptop, menatap pantulan wajahnya sendiri di monitor. Di balik cahaya biru, ia menyadari sesuatu bahwa ujian terbesar bukan lagi dari luar, melainkan dari dalam: dari hati yang mulai mencari pengakuan.
Keesokan harinya, Fachri menonaktifkan akun pribadinya. Ia tetap mengelola laman pesantren, tapi tanpa menampilkan wajah, tanpa nama. Semua video kini berfokus pada ilmu dan kegiatan sosial, bukan dirinya. Beberapa minggu kemudian, akun itu justru semakin ramai. Banyak yang menulis,
> “Pesantrennya adem. Dakwahnya murni, tanpa pamer.”
Fachri tersenyum kecil. Di matanya, kejernihan itu terasa lebih menenangkan daripada popularitas. Saat ia berjalan menuju surau untuk salat Isya, Kiai Mukhlis menepuk pundaknya dan berkata pelan,
“Begitulah, Nak. Teknologi boleh maju, tapi hati tetap harus tunduk pada tradisi.”
Penutup (Cahaya yang Menyala dari Dalam)
Langit malam di atas pesantren tampak seperti kitab terbuka; setiap bintang adalah huruf yang bersinar di halaman langit. Angin membawa aroma tanah dan suara jangkrik yang berpadu dengan dengung kipas tua di kamar santri seolah alam pun ikut berzikir. Fachri duduk di serambi, menatap layar laptop yang kini mulai meredup. Di situ, pantulan wajahnya tampak samar antara dirinya sebagai santri, dan dirinya sebagai jembatan menuju dunia luar. Layar itu tak lagi sekadar kaca digital; ia telah menjelma cermin jiwa, tempat ia belajar bahwa cahaya ilmu tidak selalu datang dari neon atau piksel, melainkan dari hati yang ikhlas menuntut ridha.
Beberapa bulan lalu, fitnah datang seperti badai di tengah musim tenang. Tapi kini, badai itu reda. Bukan karena angin berhenti bertiup, melainkan karena hati-hati di pesantren telah belajar menjadi pelita di tengah gelap kabar palsu. Fachri tak lagi merasa kecil di rimba teknologi; ia telah menjadi kompas yang menuntun arah, bukan hanya bagi santri lain, tapi juga bagi dirinya sendiri.
Kiai Mukhlis datang menghampiri, langkahnya pelan namun pasti. “Fachri,” ucapnya lembut, “jangan biarkan sinar dari layar lebih terang dari sinar hatimu.”
Fachri menunduk, tersenyum. “InsyaAllah, Kiai. Saya akan jaga agar ilmu tak hanya di ujung jari, tapi juga di dalam diri.”
Kiai tertawa kecil. “Bagus. Kalau laptopmu panas, matikan dulu, biar tidak hang. Tapi kalau hatimu panas karena sombong, segera wudhu, Nak. Itu virus paling berbahaya.”
Tawa ringan terdengar di antara dzikir malam. Suasana kembali hening, hanya lampu minyak di pojok serambi yang berkelip kecil, tapi setia. Fachri menatapnya lama, seolah di sana tersimpan jawaban dari semua perjalanan:
“bahwa api ilmu tidak menyala karena arus listrik, melainkan karena kesabaran dan niat suci yang tak pernah padam.”
Dan ketika adzan Subuh memecah langit, Fachri menutup laptopnya sepenuh hati. Di layar yang gelap, ia melihat bayangan bintang bukan lagi cahaya dari mesin, tetapi pantulan dari hati santri yang menemukan arah pulang.
4 Oktober 2025