Jelang Munas-Konbes NU 2026, Ning Jazil Ungkap Kesiapan Pesantren Al-Falah Ploso

0

RISALAH NU ONLINE, KEDIRI – Selaku tuan rumah, Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri terus melakukan upaya peningkatan infrastruktur demi kenyamanan para kiai dan nahdliyin se-Indonesia yang hadir dalam gelaran Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026.

Ning Jazilah Annahdliyah, selaku perwakilan dzuriyyah (keluarga besar) Ponpes Al-Falah Ploso, menyampaikan bahwa persiapan peningkatan fasilitas publik sedang gencar dilakukan di dalam area pondok. Tidak hanya penambahan sarana sanitasi dan peremajaan visual, pembenahan juga menyentuh aspek logistik dan akomodasi peserta.

“Salah satu persiapannya mulai dari penambahan fasilitas kamar mandi (WC), pemasangan AC di ruangan-ruangan, menyewa bus untuk transportasi peserta, bersih-bersih pondok, mengecat ulang seluruh kawasan pondok, hingga mempersiapkan tempat-tempat untuk sidang komisi,” paparnya kepada Risalah NU saat dihubungi melalui whatsapp pada Selasa, (9/6/26) malam.

“Semoga upaya ini bisa sesuai dengan harapan. Sebagai tuan rumah, pasti kami ingin memberikan penghormatan yang terbaik. Mohon doanya,” tambahnya.

Selain kesiapan fisik yang dikebut di lapangan, Ning Jazil juga menyampaikan persiapan konseptual. Beliau sendiri merupakan sosok di balik lahirnya logo Munas-Konbes NU 2026 yang dibuat usai mendapat kepercayaan dari KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar).

“Tidak ada arahan apapun dari Gus Kautsar karena beliau paham betul kalau soal desain atau gambar memang itu bakat dan passion saya, jadi beliau percaya sepenuhnya kepada saya. Karena dari kecil saya memang suka menggambar, dan kebetulan saya juga desainer baju hijab dari brand-brand saya sendiri,” tuturnya.

Secara filosofis, logo rancangan Ning Jazil membawa elemen simbol payung yang melambangkan bahwa Munas NU kali ini berteduh di bawah perlindungan, pengayoman, dan persatuan para masyayikh.

Karakter visual ini dipertegas dengan kombinasi warna hijau (keteduhan dan nilai Islam), warna emas (kejayaan masa depan), serta huruf NU yang bergandengan sebagai simbol eratnya tali persaudaraan.

Sebagai bagian dari keluarga besar pesantren, Ning Jazil mengaku terharu dan bersyukur ketika karya visualnya digunakan menjadi representasi resmi gelaran akbar berskala nasional ini.

“Ya pastinya sangat bersyukur. Semoga karya kecil ini bisa bermanfaat dan menjadi satu muara harapan serta doa kita semua. Dan semoga karya ini bisa menjadi jalan khidmah dan bukti cinta saya kepada Nahdlatul Ulama, juga kepada para masyayikh, khususnya muassis (pendiri) NU Simbah Kiai Hasyim Asy’ari,” pungkasnya.

(Anisa).

Leave A Reply

Your email address will not be published.