Risalah NU Online, Kediri – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU bersama Badan Pengembangan Inovasi Strategis (BPIS) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Talkshow Inovasi II bertajuk “The Future of Nahdliyin: Peluang, Tantangan, dan Transformasi di Era AI” di Pondok Pesantren Al Badrul Falah, Ploso, Mojo, Kediri, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Nahdliyin Innovation Summit (NIAS) 2026, forum yang dirancang untuk menumbuhkan ekosistem inovasi digital di kalangan santri dan kader Nahdlatul Ulama (NU). Forum tersebut menjadi ruang bagi santri dan kader NU untuk memahami perkembangan teknologi sekaligus menyiapkan diri menghadapi era digital.
Talkshow ini mendapat sambutan antusias dari peserta, khususnya kalangan santri pesantren salaf yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap isu-isu teknologi mutakhir. Banyak peserta mengaku baru pertama kali mendapatkan pemaparan mendalam mengenai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan dampaknya bagi kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja.
“Sebagai santri pondok salaf, acara seperti ini menambah wawasan. Awalnya kami tidak terlalu melek teknologi, tetapi setelah mengikuti kegiatan ini jadi tahu bahwa santri juga harus mulai memahami perkembangan teknologi,” ujar Nisrina Wafda, Santri Pondok Pesantren Al Badrul Falah.
Peserta lain, Farikha Maya, menambahkan bahwa pemahaman tentang AI perlu terus diperdalam agar masyarakat tidak sekadar mengikuti tren tanpa memahami manfaat dan risikonya.
“Ketika sekarang banyak orang membicarakan AI, kita perlu belajar lebih dalam agar tahu bagaimana menyikapinya ke depan,” ucap Farikha Maya, Peserta Talkshow Inovasi II.
Sekretaris Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiah menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari rangkaian persiapan menuju Nahdlatul Ulama Innovation Summit (NIAS) yang akan digelar PBNU. Sebelum forum puncak berlangsung, PBNU melakukan sosialisasi dan diskusi di berbagai daerah untuk menyebarluaskan gagasan inovasi sekaligus menghimpun ide-ide kreatif dari kader-kader NU.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menghimpun ide-ide kreatif, aksi-aksi inovatif yang dimiliki kader-kader NU. Nantinya berbagai gagasan itu akan menjadi bagian dari NIAS,” jelas perempuan yang akrab disapa Teh Ufi ini.
Ufi menambahkan, NIAS diharapkan menjadi platform yang mempertemukan kader-kader NU pemilik gagasan dan inisiatif kreatif dengan publik serta berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, inovasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan individu, melainkan memerlukan ekosistem pendukung agar ide-ide tersebut dapat berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas.
“Kader Nahdliyin memiliki banyak ide kreatif dan inovatif. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mendukung agar kreativitas dan inovasi itu bisa tumbuh,” terang perempuan yang juga Rektor ITB Tuban ini.
Ia menilai upaya membangun ekosistem inovasi tersebut sejalan dengan visi transformasi yang diusung Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. Dengan jumlah warga yang sangat besar, NU membutuhkan platform yang efektif dan efisien untuk memperkuat kolaborasi, pengembangan gagasan, serta pemanfaatan teknologi digital.
Sejumlah agenda strategis yang dibahas dalam Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU juga dinilai memiliki irisan kuat dengan penguatan transformasi digital dan pengembangan ekosistem inovasi di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Suara Surabaya Media, Rudy Hartono, menyoroti besarnya potensi digital Indonesia yang harus dibaca oleh generasi muda, termasuk kalangan santri. Ia menyebut Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia.
“Lebih dari 80 persen penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Kita juga termasuk empat besar negara dengan populasi pengguna internet terbesar di dunia,” ujar Rudy Hartono, Manajer HRD dan Umum, Suara Surabaya Media.
Rudy menambahkan, tingkat kepemilikan perangkat yang terhubung internet di Indonesia juga sangat tinggi. Berdasarkan data April 2026, sekitar 90 persen masyarakat telah memiliki perangkat yang terkoneksi dengan internet. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat kemampuan memahami teknologi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari, terutama saat para santri kelak terjun ke masyarakat dan dunia kerja.
“Ketika teman-teman keluar dari pondok, apa pun profesinya, baik menjadi entrepreneur maupun profesional, akan berhadapan dengan calon konsumen dan masyarakat yang sangat melek internet,” imbuhnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa penggunaan Artificial Intelligence (AI) kini telah menjadi bagian penting dalam berbagai bidang pekerjaan, sehingga generasi muda perlu memahami teknologi tersebut agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Menurutnya, penggunaan AI sekarang menjadi sangat mandatori di berbagai pekerjaan. AI akan mempermudah apa yang kita lakukan, termasuk dalam kreasi, inovasi, dan pengembangan kreativitas.
Talkshow Inovasi II adalah seri kedua dari rangkaian Road to Nahdliyin Innovation Summit (NIAS) 2026, setelah sebelumnya digelar Talkshow Inovasi I.
Rangkaian kegiatan ini bertujuan menghimpun gagasan inovatif dari kader dan komunitas Nahdliyin di berbagai daerah, sebelum dirangkum dan ditampilkan dalam forum puncak Nahdlatul Ulama Innovation Summit (NIAS) 2026 yang digagas oleh Lakpesdam PBNU bersama BPIS PBNU.