Kisah Santri Penghafal Qur’an Ponpes Nihadlul Qulub Raup Jutaan Rupiah dari Ekspor Digital

0

RISALAH NU ONLINE, PEMALANG — Di balik hiruk-pikuk gelombang PHK, pengangguran dan sistem ekonomi yang kian tak menentu, sebuah pesantren kecil di kaki Gunung Slamet justru menghadirkan model pendidikan yang membuat publik terperangah: “Loh, ada ya pesantren model begitu?”

Pondok Pesantren Nihadlul Qulub yang terletak di Desa Moga, Pemalang, Jawa Tengah, bukanlah pesantren besar dengan gedung megah dan fasilitas mewah. Daya tampungnya hanya sekitar 20-30 santri, dan hingga kini baru terisi separuhnya. Namun dari kesederhanaan itulah lahir sebuah perjuangan yang menggetarkan: para santri penghafal Al-Qur’an justru mampu meraup jutaan rupiah dari ekspor produk digital ke Amerika, Canada, dan Eropa.si Pesantren yang sederhana, sejuk, dan menguji. Berada di tengah hamparan persawahan yang dikelilingi perbukitan hijau dan aliran sungai jernih, pesantren ini menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan sekaligus menguji. Di musim angin, udara terasa super sejuk——menyenggol tulang. Di musim hujan, geruduk dan kilat menyambar besar-besaran. Atap-atap yang bocor membuat hampir semua ruangan terkena semprotan air hujan.

Kapasitas pesantren yang dirancang untuk 20-30 orang itu kini baru diisi sekitar separuhnya——kurang dari 15 santri. Sebuah jumlah kecil yang justru memungkinkan pendekatan personal dan pengawasan intensif dari pengasuh.

Setiap pagi, suara kodok bersahutan menyambut subuh. Malam hari, deru angin bercampur dengan gemericik selokan air sawah menjadi pengantar tidur. Di sinilah——di tengah kesederhanaan yang menguji ketahanan fisik dan mental——para santri menjalani dua misi sekaligus: menjaga hafalan al-Qur’annya dan belajar menghasilkan uang.

Bukan Sekadar Hafalan

“Bukan perkara mudah mempertahankan hafalan,” begitu pengasuh pesantren, Ali Sobirin El-Muannatsy, kerap mengingatkan. Setiap waktu harus muraqabah (menjaga kesadaran akan Allah), muraja’ah (mengulang hafalan), dan setoran. Melawan kantuk, capek, bosan, dan godaan skrolan ponsel.

Rutinitas harian mereka padat dan terstruktur:

– Muraqabah: satu juz setelah setiap salat fardlu

– Murajaah: mengulang hafalan sebelum setoran, bakda subuh

– Setoran kepada pengasuh: pukul 06.00–07.00 pagi, dilakukan di luar ruangan menikmati sejuknya pagi

Mereka yang terjebak begadang atau skroling HP hingga larut malam, hampir pasti besoknya akan “ngadat” saat setoran. Ada yang terlambat jamaah, bangun siang karena malamnya tenggelam dalam gawai, kurang gigih murajaah——dan akhirnya setoran tersendat.

“Semua berkelindan, sebuah rintangan dan beban. Sungguh, tidak mudah atau seringan membalik telapak tangan,” ujar pengasuh menggambarkan fakta keseharian di pesantren.

Dari Lab Komputer ke Pasar Global

Di sinilah letak kejutan utamanya. Para santri tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga digital marketer yang melayani ekspor ke pasar global.

Mereka mengelola toko e-commerce internasional, menjual produk-produk digital——terutama desain grafis——ke luar negeri. Waktu operasional di lab komputer hanya sekitar 3 jam per hari (pukul 09.00–11.00), dengan Jumat dan Minggu libur. Bahkan di lapangan, jam 09.00 para santri baru mulai naik ke lab, dan sebelum pukul 11.00 rata-rata sudah turun. Artinya, waktu proses mereka paling banter 3 jam per hari.

Namun dalam keterbatasan waktu itu, rata-rata penghasilan per santri sudah sedikit melampaui UMR Pemalang.

Kisah Para Santri

Abdinal, asal Cirebon, menjadi santri dengan penghasilan paling besar——sekitar Rp 4 juta per bulan. Bukan karena paling cerdas, namun karena paling rajin dan tekun. Di balik kegigihannya, ada cerita pilu: ibunya sering sakit dan menjalani kemoterapi. Penghasilannya ia kirimkan untuk biaya pengobatan.

Lehan, asal Lampung, adalah pendobrak pertama. Di bulan ketiga setelah membuka toko, ia meraup Rp 9 juta. Sayangnya, setelah selesai pondok, tokonya tidak berlanjut——mungkin karena tingkat tuntutan diri berbeda, tidak punya laptop, atau lingkungan yang berubah.

Andar, asal Papua, paling telat memulai karena kendala administrasi. Baru di bulan ke-7 setup toko, namun di bulan ke-10 totalnya sudah menyentuh Rp 7 juta.

Masih ada santri lain yang perolehannya ratusan ribu per bulan. Namun semua sepakat: tingkat keberhasilan ada di ketekunan dan sense seni. Karena produknya adalah gambar——desain digital.

“Kunci suksesnya bukan bakat atau kecerdasan, melainkan visi, kebiasaan, dan ketekunan yang didukung lingkungan,” tegas pengasuh.

Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika pengasuh bertanya kepada seorang santri:

“Uangmu mana? Saya tidak mau minta.”

Santri itu menjawab singkat: “Dikirim ke orang tua, Kyai. Semua.”

Pengasuh tersenyum: “Bagus. Itu seperti saya dulu. Uang gampang dicari, bakti kepada orang tua secepat-cepatnya. Mumpung berkesempatan. Nanti pada tahap tertentu, kalian harus mulai mengatur keuangan, untuk pengembangan diri.”

Di pesantren ini, hasil jerih payah para santri tidak dinikmati sendiri——melainkan dikirimkan untuk orang tua. Bahkan ada santri asal Bondowoso yang harus menunda rencana pendakian karena uangnya baru dikirim untuk biaya pengobatan orang tua yang sedang musibah.

Pendakian Gunung Slamet

Setiap santri diwajibkan menjalani laku mendaki Gunung Slamet——minimal sekali. Di sinilah fisik dan mental diuji secara nyata. “Maksa otot dan persendian kaki, napas, dan jantung untuk lebih kokoh dan kuat,” begitu pengasuh menggambarkan makna “pendadaran” ini.

Rata-rata santri yang sudah bergabung cukup lama telah mendaki dua kali. Hampir semua——suab belasan santri——telah merasakan pengalaman ini.

Dalam perjalanan pendakian, mereka belajar:

– Manajemen emosi: mengatasi capek, emosi, dan apa yang dirasakan

– Manajemen teknis: dari berangkat hingga pulang

– Dokumentasi dan report

– Komunikasi dengan orang baru

– Survival mengatasi kekurangan

– Kepedulian pada yang perlu bantuan

Ada yang muntah di tengah jalan. Ada yang hampir hipotermia karena kaus tangan dipinjamkan ke teman lain. Ada yang hampir nyerah. Namun semua menjadi pengalaman berharga——termasuk saat mereka dibantu oleh pendaki lain.

Rencana pendakian ke Sindoro-Sumbing yang mestinya di hari kemerdekaan pun tertunda. Bukan karena kurang semangat, tapi karena kemandirian finansial——kini mereka harus membiayai sendiri, tak lagi ditanggung pengasuh.

Di Tengah Realitas Ekonomi yang Awut-awutan

Pengasuh pesantren, Ali Sobirin El-Muannatsy——yang juga dikenal sebagai hipnoterapis dan trainer nasional——memahami betul realitas yang dihadapi generasi muda: jubelan sarjana pengangguran dan sistem ekonomi yang salah urus.

Di hadapan fakta itu, pesantren ini memilih jalan berbeda: membangun generasi yang berpijak pada visi, kebiasaan, kegigihan, dan ketekunan——bukan sekadar ijazah.

“Ijazah dan sebangsanya konon sekadar hiburan dan gegayaan,” ujar pengasuh dengan nada reflektif. Pesantren ini mengajarkan bahwa tidak ada istilah bodoh atau cerdas. Yang ada adalah: sudah latihan atau belum. Sudah berapa ratus kali latihan.

Program yang mereka jalani bukan sekadar pelatihan kerja, melainkan:

– Mengubah mindset: semua berpijak pada visi/cita-cita hidup

– Membangun kebiasaan tekun: tidak ada yang mudah, tidak ada yang cepat

– Pola hidup sehat: wal-laila libasa, wan-naharo ma’asya——malam tidur, siang berkarya

– Pembelajaran tambahan: digital marketing, nahwu sharaf, membaca buku, public speaking, pengembangan diri

Ketika Santri Menghadapi Godaan Skrolan

Di pesantren yang berpijak pada kemandirian, para santri pada dasarnya bebas menentukan kemanfaatan diri di bidang apa saja. Yang jualan di pasar malam pun——seperti santri asal Lampung——silahkan.

Namun godaan skrolan tetap menjadi tantangan. Ada yang menggunakannya untuk mengusir bosan, ada yang malah tenggelam di dalamnya. Tapi yang rajin——mereka memanfaatkan waktu luang untuk nandur tomat, sawi, cabe——walau tak tahu kapan panennya.

Ini adalah perjuangan sehari-hari: antara kelalaian dan ketekunan, antara godaan dan kegigihan.

Catatan dari Kaki Gunung Slamet

“Ini sekadar catatan. Sebuah pendakian. Mondar-mandir ke Gunung Slamet untuk pendadaran. Rencana mau ke Sindoro-Sumbing pun belum kesampaian. Tiba ngatur keberangkatan, ‘uang baru dikirimkan, biaya pengobatan,’ kata sebagian.”

Begitulah sepenggal kisah pengawalan——melalar ngerti tanggungjawab sedari awalan. Asli ngasah otot-tulang, melatih kekuatan kaki dan tangan, untuk nyatanya rahmatan.

Ini bukan kisah tentang hobi, bakat, atau kecerdasan. Ini adalah kisah nyata tentang visi, kebiasaan, ketekunan, dan lingkungan yang mendukung.

Mungkin inilah jawaban atas pertanyaan publik: Bagaimana menyiapkan generasi menghadapi masa depan yang tak pasti?

Jawabannya ada di Moga, Pemalang——di kaki Gunung Slamet, di tengah sawah dan sungai jernih. Di sebuah pesantren kecil dengan kapasitas 20-30 orang, yang baru terisi separuhnya. Di sanalah——di tengah kesederhanaan dan keterbatasan——sebuah perjuangan besar sedang berlangsung. (Nihadlul Qulub, Moga, Pemalang, Jawa Tengah).

Leave A Reply

Your email address will not be published.