
Oleh: Alfiah Nur Sabrina, SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan BPPT Genggong, Probolinggo
Di pelosok desa berdiri sebuah pondok pesantren kecil, di bagian atas gerbang utama terpasang plang bertuliskan “Pondok Pesantren Al- Barokah”. Pesantren kecil itu tampak lengang. Biasanya suara riuh para santri terdengar di setiap sudut pesantren, tetapi kali ini berubah menjadi hening. Hanya terdengar suara siulan burung-burung gereja dan derit pintu asrama yang tertiup angin. Hari itu memang masa liburan santri, sehingga banyak bilik-bilik santri kosong, mushalla sepi, dan halaman pesantren tampak senggang.
Namun, Ziyad memilih untuk tetap tinggal di pesantren. Bukan karena ia tak punya kampung halaman untuk dijadikan tempat pulang, tetapi ia memutuskan menetap di pesantren untuk mengabdikan diri. Setiap hari ia membantu membersihkan ndalem kiai, menyapu area pesantren, dan sesekali diminta untuk menemai kiai saat menghadiri undangan.
Sebenarnya ia bukan hanya tinggal di pesantren untuk berkhidmah, melainkan juga menanti pengumuman hasil seleksi masuk perguruan tinggi. Ia sengaja menunggu kabar tersebut di pesantren, karena ia meyakini pesantren tempat penuh dengan keberkahan doa.
Hari yang ditunggu-tunggu Ziyad tiba, ia sibuk berkutat dengan laptop di hadapannya. Layar laptopnya memperlihatkan laman pengumuman yang terasa begitu menegangkan. Sorot matanya memantulkan harap-harap cemas yang tak bisa ia sembunyikan.
Perlahan jari-jemarinya mengetik nama Ziyad Pratama, lalu menekan tombol enter dengan mata terpejam. Jantung Ziyad berpacu sangat cepat, jari-jemarinya bergetar kuat, waktu terasa berjalan sangat lambat. Dengan iringan bacaan basmalah, matanya terbelalak saat tulisan “Anda dinyatakan LULUS Seleksi” terpampang jelas di layar laptopnya. Di waktu bersamaan, Ziyad langsung bersujud mengungkapkan rasa syukur kepada sang pemilik alam semesta.
Selepas pengumuman itu, Ziyad bergegas menghubungi kedua orang tuanya. Dengan wajah berbinar, ia menyampaikan kabar kelulusannya. Tak selang beberapa detik, panggilan teleponnya sudah terhubung.
“Assalamu’alaikum bu,” ucap Ziyad mengawali pembicaraan.
“Waalaikum salam, ada apa le?” sahud ibunya dari saluran handphone.
“Alhamdulillah bu, Ziyad lulus, terimakasih atas doa-doanya” nada suara Ziyad sangat bersemangat bercampur haru
“Alhamdulillah, selamat ya. Nanti ibu kabari bapak juga,” suara ibunya terdengar sedikit serak. “Besok ibu sama bapak ke pondok mau minta izin ke kiai, sekalian jemput kamu,”
“Ya sudah bu, nanti Ziyad mau tanya dulu, takutnya besok kiai miyos,” jawabnya pelan
“Iya, sudah le, Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam,” balas Ziyad sebelum sambungan telepon terputus.
Selepas telepon ditutup, Ziyad masih memandangi layar ponsel yang sudah mendapat ijin penggunaan dari kiainya. Ada rasa lega sekaligus haru yang sulit ia jelaskan. Pengorbanannya belajar mati-matian selama ini dibarengi riyadhah yang kuat demi merubah nasib keluarganya, terasa sedikit terbayarkan.
Keesokan paginya, saat Ziyad baru saja selesai mengemas barang-barangnya. Bapaknya mengabari kalau sudah ada di depan gerbang pesantren. Ziyad segera berdiri dan bergegas menuju area depan pesantren untuk menemui kedua orang tuanya.
Kedua tangan Ziyad menyambut tangan kanan ibu. “Terimakasih bu…, do’amu mustajabah” sembari mencium tangan ibu penuh kasih sayang. Begitu juga ia lakukan pada bapak saat di gerbang pesantren. Selanjutnya mereka bergerak menuju kediaman pengasuh pesantren. Ziyad mengucapkan salam di depan pintu kediaman kiai, mereka bertiga berdiri di depan pintu dengan menundukkan kepala. Tak sampai menunggu lama, kiai sudah membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk dengan senyum hangat.
Di kediaman kiai, orang tua Ziyad menyampaikan maksud kedatangan mereka. “Alhamdulillah kiai, Ziyad sudah diterima kuliah, Yai,” ucap bapaknya dengan nada penuh syukur.
“Alhamdulillah, selamat ya Ziyad,” ucap Kiai Abdurrahman, sembari menatap ke arah Ziyad. “Sebelumnya saya mau bertanya dulu ke Ziyad. Disana itu kota besar le, apa hatimu sudah benar-benar mantap?” tanya sang kiai.
“Saya kiai, saya sudah memikirkan ini dari sebelumnya kiai, saya yakin bisa menjaga diri dan identitas saya sebagai santri,” jawab Ziyad dengan mantap tetapi tatapan matanya masih tergambar sedikit keraguan.
“Ya sudah kalau begitu, saya hanya mau mengingatkan le. Sekarang zaman sudah sangat berubah,” suara kiai terdengar bersamaan dengan helaan napasnya. “Kota itu bagaikan samudra yang luas dengan gelombang ombak yang kuat. Kalau kamu tidak pintar berenang, kamu bisa hanyut terbawa arus. Banyak orang yang datang ke kota dengan niat baik, tapi pulang-pulang malah jadi rusak. Karena mereka tidak bisa membentengi dirinya,” kiai meneguk kopi hangat yang tersedia di atas meja, menjeda pembicaraan. “Ingat pesan saya, almuhafadzotu alal qodimis sholih wal akhdu bil jadidil aslah, pelihara tradisi lama yang baik yang kamu amalkan di pesantren ini dan jangan sampai ketinggalan sesuatu baru yang lebih baik di kampusnya nanti.
“Kami sebagai orang tua sudah ikhlas kiai melepas Ziyad. Tapi sebagai seorang ibu, hati ini tetap ada rasa khawatir. Saya takut anak ini terbawa arus,” suaranya bergetar menampakkan rasa kekhawatiran.
“Itu kekhawatiran yang wajar, bu. Tapi percayalah doa orang tua adalah benteng yang paling kuat. Selama doa bapak dan ibu tidak putus, Ziyad akan baik-baik saja,” sang kiai mencoba meyakinkan kedua orang tua Ziyad.
“Insyaallah kiai, kami tidak akan pernah lelah untuk mendoakan Ziyad,” ucap bapaknya yang sedari tadi masih sibuk dengan pikirannya sendiri. “Kami juga meminta izin untuk membawa Ziyad pulang kiai, dan terimakasih atas bimbingan kiai pada anak kami”
Kiai mengangguk perlahan. “Bawalah dia pulang, saya juga akan selalu mendoakan masa depan Ziyad dan para santri,”
Ziyad menunduk, mencium tangan kiai dengan khidmat. “Maafkan semua kesalahan-kesalahan saya selama di pesantren kiai,” ucapnya lirih dengan air matanya membasahi pipinya, serasa tak kuasa meninggalkan pesantren tercintanya ini.
“Saya sudah memaafkan semuanya, jaga dirimu baik-baik, dimanapun kamu berada, tetep jaga nama baik pesantren dan harga diri keluarga” kiai mengusap lengan Ziyad pelan.
Ziyad mengangguk, hatinya mulai bergemuruh, pesan gurunya akan selalu bergema sepanjang usianya. Mereka pun berpamitan, perlahan keluar meninggalkan kediaman Kiai Abdurrahman. Ziyad mengedarkan pandangan ke beberapa sudut pesantren, sebelum ia meninggalkan pesantren sejuta kenangan ini.
Di perjalanan pulang, mobil mini bus yang mereka sewa dari tetangga melaju membelah jalan desa. Orang tua Ziyad kembali mengingatkan untuk kesekian kalinya. “Ingat pesan kiai-mu nak, jangan sampai terbawa arus perubahan zaman yang buruk, pilih yang baik-baik saja jangan sampai ikut-ikutan yang rusak, jika tak ingin cita-citamu tergadaikan selamanya..!” ucap bapaknya sembari menatap Ziyad lekat.
“Inggeh, pak, bu. Ziyad akan selalu ingat pesan itu,” ucap Ziyad tersenyum kecil.
Selama berada di rumah, Ziyad meluangkan waktunya untuk beristirahat, membantu kedua orang tuanya dan menyiapkan segala kebutuhan kuliahnya.
Setelah menghabiskan waktu beberapa Minggu bersama keluarganya di desa, tiba saatnya Ziyad untuk menjemput mimpinya. Pagi buta selepas salat Subuh, Ziyad dan orang tuanya sudah mempersiapkan ransel besar berisi pakaian, buku, laptop dan beberapa kebutuhan lainnya. Setelah selesai mengemas, Ziyad berpamitan kepada ibunya. Sementara itu, bapaknya ikut mengantarkan Ziyad ke stasiun menggunakan motor bututnya yang sudah berumur setengah usia Ziyad.
Sesampainya di stasiun, bapaknya kembali mengingatkan, khawatir ada barang bawaan yang tertinggal. Setelah di rasa sudah lengkap, barulah Ziyad berpamitan kepada sang ayah. Mereka saling berpelukan, menguatkan hati masing-masing sebelum Ziyad menapaki dunia baru.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, kereta akhirnya sampai di kota tujuan Ziyad. Gedung-gedung tinggi terlihat megah dari kejauhan, suara bising klakson kendaraan dan beberapa manusia yang tampak selalu terburu-buru. Sungguh ini sangat jauh berbeda dengan kehidupannya di desa yang amat tenang dan damai.
Ziyad terus meyusuri jalanan kota yang panas dan sesak. Ia berencana mencari kosan dekat kampus yang murah. Ia sudah berjalan sekitar 15 menit, raut mukanya tampak lelah, Ziyad memutuskan untuk duduk di bangku pinggiran trotoar.
Tak lama, matanya menangkap sosok familiar yang berdiri tak jauh darinya. Ziyad mencoba melambaikan tangan ke arah orang tersebut, lambain tangannya berbalas senyuman lebar dari seberang.
“Ziyad!, lama banget ga ketemu,” soraknya sekuat tenaga. Orang itu adalah Fahri teman lama dari desanya yang ikut orang tuanya untuk mengadu nasib ke kota.
“Nyari kerja apa gimana nih?” tanya Fahri sembari menjabat tangan Ziyad.
“Kuliah Ri,” jawab Ziyad. Setelahnya mereka membahas banyak hal mulai dari keadaan kampung dan kehidupan Fahri di tempat barunya ini. Rupanya Fahri juga satu kampus dengan Ziyad. “Udah dapet kos belum?” tanya Fahri.
Ziyad menggeleng pelan. “Kalau belum nemu kos, sama aku aja, di kos-ku masih ada kamar yang kosong,” Ziyad sempat ragu sejenak mendengar tawaran Fahri. “Tenang, biaya kos-nya murah kok. Tapi ya maklumi fasilitasnya ga seberapa,”
“Ya udah ikut aja,” ucap Ziyad akhirnya. “Nah gitu dong, jangan sungkan-sungkan, kalo ada apa-apa kabari aja,” balas Fahri.
Mereka berjalan beriringan menuju kos yang Fahri maksud. Selama perjalanan, mereka berbincang ringan sembari berbagi tawa. Sesampainya di kos, Fahri menunjuk sebuah bagunan lantai dua yang cat temboknya sudah tampak kusam. Ziyad tersenyum, setidaknya masih ada teman baik dan tempat tinggal untuk berteduh setelah lelah menyusuri panasnya kota.
Hari ini adalah hari pertama Ziyad masuk kampus. Ia mengenakan baju koko putih, celana hitam dan kopyah. Teman kos-nya merasa aneh melihat penampilan Ziyad yang seperti itu. Fahri sudah mengingatkan untuk ganti penampilan saja, mengikuti standart berpakaian teman-temannya yang lain. Tetapi, Ziyad lebih memilih untuk tetap pada pendiriannya.
Ia melangkah mantap menuju kampus barunya. Meskipun tatapan-tatapan aneh sekitarnya tak lepas dari penglihatannya. Ziyad memasuki kelas yang sudah di tentukan untuknya. Bisik-bisik temannya mulai masuk ke pendengaran Ziyad.
“Ngapain sih, ke kampus gak fashionable?”
“Zaman udah berubah, eh, ini malah ngampus gaya culun,”
Ziyad menundukkan pandangannya dan tersenyum tipis. Di sinilah ujian sebenarnya dimulai. Dunia di luar pesantren tak selamanya ramah. Ia memilih diam dan tidak mendengarkan, biarkan waktu yang menjawab siapa dirinya sebenarnya.
Seperti biasa, hari pertama masuk kuliah di isi dengan perkenalan diri dari masing-masing mahasiswa baru. Ziyad diminta untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu oleh dosennya, karena ia memilih duduk di bangku paling depan.
“Perkenalkan nama saya Ziyad Pratama, biasa dipanggil Ziyad. Saya alumni Madrasah Aliyah Barokah di bawah naungan pondok Al-Barokah,”
Beberapa orang bertepuk tangan pelan, beberapa diantaranya tersenyum meremehkan.Tapi di antara mereka, ada satu tatapan yang memandang kagum ke arah Ziyad. Tatapan itu milik mahasiswi bernama Nisa, ia duduk dua baris di belakang Ziyad. Sejak melihat penampilan Ziyad dan mendengar bahwa ia adalah anak pesantren, ada sesesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Hari demi hari berlalu, lingkungan kampus modern masih terasa asing baginya. Mulai dari teman-temannya yang menganggap budaya pacaran adalah hal lumrah hingga teman satu kos-nya yang sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Sering kali Ziyad mengeluh kepada Fahri, orang satu-satunya yang masih bisa ia ajak bicara. Fahri selalu menguatkan Ziyad agar tetap memegang teguh prinsipnya dan terus menjaga identitasnya sebagai santri.
Suatu hari, Ziyad terpaksa untuk ikut nongkrong di kafe demi mengerjakan tugas kelompoknya. Ia berusaha berbaur dengan teman-temannya, Ziyad menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu tertutup sehingga teman-temannya sungkan untuk sekedar menyapa dan mengajak berbicara. Dalam hati, Ziyad berpikir sudah saatnya ia mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya yang sangat berbeda dari pesantren dahulu. Setidaknya, ia tetap bisa mengambil sisi baik dari perubahan zaman.
Namun semuanya tidak berjalan mulus, beberapa teman-teman Ziyad meremehkannya, karena ia tidak tau cara meringkas jurnal dan cara pembuatan makalah seperti mereka. Tak jarang mereka juga menertawakan Ziyad karena sikapnya yang masih dianggap kolot.
“Gimana sih, kaya gini aja ga bisa,” sindir Randi, si bintang kelas.
“Udah jangan gitu. Dia masih proses penyesuaian diri, jadi kita harus bantu bukan malah ngerendahin,” salah satu teman satu kelompok Ziyad yang lain berusaha menjadi penengah. Orang itu adalah Nisa, gadis yang selalu diam-diam menatap Ziyad dan menaruh rasa kagum kepadanya sejak pertemuan pertama di kelas. Sebenarnya, Ziyad tidak menyadari hal itu. Bagi Ziyad, Nisa hanyalah teman sekelasnya yang sopan dan tekun.
“Eh, Yad. Kamu gak ada niatan ngubah penampilan, apa ga bosen sok-alim gitu terus?,” celetuk salah satu temannya sambil tertawa. Ziyad hanya tersenyum, meski hatinya terasa perih.
Malam itu, Ziyad sedikit menyesal ikut nongkrong bersama teman-temannya. Tapi kalau tidak, ia akan merasa tambah menyesal jika tidak ikut berkontribusi untuk segera menyelesaikan tugas kelompoknya. Lontaran-lontaran menyakitkan dari teman-temannya masih terngiang jelas di telinganya, membuat semangatnya nyaris runtuh.
Di tengah kegalauannya, setiap hari Nisa selalu datang menghampirinya. Terkadang hanya untuk menanyakan tugas, memberi semangat hingga saling bertukar cerita tentang kehidupan. Tanpa sadar, kehadiran Nisa juga memunculkan sesuatu yang baru dihatinya, perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat Ziyad sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia tengah asyik mengobrol lewat pesan chat dengan Nisa. Entah sejak kapan, gadis itu menjadi tempatnya bercerita. Namun, dibalik semua itu, Ziyad jadi jarang menghubungi kedua orang tuanya. Bukan karena tak peduli, hanya saja ia merasa semuanya baik-baik saja di rumah.
Hingga ponselnya tiba-tiba berdering. Nama “Bapak” muncul di layar poselnya. Ziyad tersenyum kecil, mengira bapaknya hanya ingin menanyakan kabar. Dengan santai, ia mengangkat panggilan itu. Namun, suara yang ia dengar bukan suara berat khas bapaknya melainkan suara parau ibunya. “Le, bapak masuk rumah sakit,”
Dada Ziyad terasa begitu sesak, jantungnya berdegup kencang dan bangkit dari posisi rebahannya. “Ba-bapak sakit, sejak kapan bu, sakit apa?” tanyanya panik.
“Tadi tiba-tiba pingsan di halaman,” suara ibunya mulai terisak.
Napas Ziyad tercekat, rasa bersalah mulai menyeruak dalam dadanya. Di saat ia sibuk dengan dunianya dan menemukan tempat cerita baru, ia justru melupakan orang yang selalu mendengarkan keluh kesahnya.
Esok harinya, Ziyad duduk termenung di taman kampus. Pandangannya kosong, pikirannya masih tertuju pada bayangan bapaknya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Ia juga sudah sedikit menghindar dari Nisa, ia merasa dirinya sudah sedikit berlebihan dengan selalu mengirim pesan yang ia rasa memang tidak cukup penting untuk didiskusikan. Nisa juga mencoba mengerti dengan kondisi Ziyad, ia juga berusaha tetap menghargai Ziyad sebagai seorang alumni pesantren. Sambil lalu, Nisa juga berusaha memperbaiki dirinya.
Hingga tiba-tiba, suara seseorang membuyarkan lamunannya. “Ziyad pas sekali!, saya dari tadi nyariin kamu,” suara Pak Rudi -salah satu dosennya- membuat Ziyad hampir terlonjak dari bangku taman.
“Mikirin apa, kok sampai kaget begitu?” tanya Pak Rudi sambil terkekeh melihat ekspresi gugup mahasiswanya itu.
“Eh… a-ada. Pak. Hehe, cuma….sesuatu ,” jawab Ziyad gugup, tangannya refleks menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
“Hmm, begini, saya mau mengajak kamu ikut lomba karya tulis ilmiah antar kampus,” ujar Pak Rudi sambil menepuk pundak Ziyad.
“S-saya pak,” Ziyad menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya, ia merasa tidak yakin.
“Iya kamu,” sahut Pak Rudi. “Lomba ini dilakukan berpasangan. Saya sudah tunjuk Randi jadi partner kamu,” ucap Pak Rudi sembari menunjukkan pesan chat-nya dengan Randi beberapa jam lalu.
“Bagaimana kamu mau atau tidak?” tanya Pak Rudi setelah membaca raut wajah Ziyad yang ragu.
Ziyad sudah ingin membuka mulutnya, tiba-tiba saja Randi datang dengan raut wajah kesal.
“Saya sudah membuka pesan dari bapak tadi,” Randi yang baru saja datang langsung menimpali. “Saya rasa.. kami tidak cocok pak jadi satu tim, pikiran kami berbeda,” ucap Randi sambil melirik ke arah Ziyad yang masih menunduk.
“Justru itu bagus, lomba ini mengangkat judul tentang etika dalam penggunaan teknologi,” Pak Rudi berusaha meyakinkan Randi. “Begini, nanti kamu bagian membuat aplikasi dan pemahaman tentang teknologi. Nah, Ziyad bagian menjelaskan etika yang harus diterapkan dalam penggunaan teknologi tersebut,” dosen yang dikenal ramah itu memandang Randi dan Ziyad bergantian.
Keduanya terdiam, sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar sayup-sayup kicauan burung yang memecah keheningan.
“Baik, Pak. Saya akan coba,” putus Randi pasrah.
“Saya juga bersedia, Pak,” putus Ziyad setelah cukup lama termenung, meski dalam dirinya ada rasa ragu saat harus satu tim dengan orang yang pernah merendahkannya. Namun, ia selalu terbayang wajah teduh bapaknya yang penuh keringat, beliau rela kelelahan demi membayar segala kebutuhan kuliah Ziyad. Sudah saatnya ia membalas pengorbanan bapaknya dan menunjukkan bahwa santri juga bisa bersinar di tengah dunia yang terus berubah.
Keesokan harinya, Ziyad dan Randi sepakat untuk mengerjakan karya tulis mereka di kantin fakultas. Awalnya keduanya sama-sama terlihat sangat canggung. Ziyad sibuk dengan buku catatan yang di penuhi dengan kutipan dan ide-idenya, sementara Randi sibuk berkutat dengan laptop dihadapannya. Namun, seiring berjalannya waktu, pembahasan demi pembahasan mulai mengalir. Ziyad mencoba menjelaskan pandangannya tentang etika dan tanggung jawab penggunaan teknologi secara realistis. Randi yang semula cuek menjadi terpikat, melihat cara pandang Ziyad yang begitu kritis dan jarang dimiliki orang lain bahkan dirinya sendiri. Perlahan, diskusi mereka menjadi hangat dan membuat ikatan pertemanan antar keduanya semakin kuat. Terkadang, Randi juga mengajarkan hal-hal baru kepada Ziyad, seperti cara menggunakan berbagai aplikasi dan mengerjakan tugas dengan teknologi agar lebih efisien.
Hari perlombaan pun tiba. Aula kampus yang menjadi tuan rumah perlombaan tersebut ramai oleh peserta dari berbagai Universitas ternama. Ziyad dan Randi duduk berdampingan, menunggu giliran dengan jantung berdebar-debar.
Ketika nama mereka dipanggil, keduanya naik ke atas panggung. Slide demi slide ditampilkan, suara mereka bergantian menjelaskan. Tak ada lagi rasa canggung dan saling merendahkan. Semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja.
Beberapa juri mengangguk-anggukkan kepala dan menjulurkan ke dua jempolnya kearah mereka. Tibalah giliran Randi untuk menampilkan aplikasi yang telah ia rancang sebelumnya. Semuanya berjalan lancar, sampai tiba-tiba aplikasi yang ditampilkan Randi mengalami gangguan. Tombol-tombolnya tidak dapat berfungsi, semuanya macet di tengah jalan.
Randi mulai panik, ia mencoba mengutak-atik aplikasinya lagi. Ziyad berusaha membantu Randi, tapi hasilnya nihil, aplikasi tersebut tak kunjung berjalan normal.
“Biar aku saja yang bantu menjelaskan,” bisik Ziyad pelan sambil melangkah maju dengan tenang.
“Beginilah teknologi,” katanya tersenyum kecil ke arah juri. “Kadang tak bisa diandalkan sepenuhnya. Tapi di situlah pentingnya manusia untuk hadir dengan akal dan moralnya, memastikan semuanya tetap berjalan di jalur yang benar,”
Ruangan seketika hening, lalu tepuk tangan bergema di dalam aula perlombaan. Semua mata tertuju pada Ziyad, kagum oleh ketenangannya menghadapi situasi genting. Bahkan teman-teman kampusnya yang menonton lewat siaran langsung tak henti-hentinya membanjiri kolom komentar dengan berbagai pujian.
Sesi yang ditunggu-tunggu oleh para peserta pun tiba. Jantung mereka berdebar kencang saat juri mulai membacakan hasil lomba. Suasana mendadak hening, nama mereka disebut sebagai juara dua. Tepuk tangan mulai terdengar, namun bagi Ziyad, piala bukanlah hal berarti melainkan pembuktian bahwa santri juga mampu bersinar di tengah arus zaman yang terus berubah.
Usai acara, Ziyad segera menghubungi kelurga di rumah dan menceritakan perihal prestasinya, “Bapak bangga padamu le,” ucapnya dari sambungan handphone, membuat Ziyad merasa bertambah senang, karena selain mendapat prestasi, bapaknya juga sudah kembali pulih.
Beberapa minggu setelah lomba, suasana kampus terasa berbeda baginya. Hampir seluruh teman-teman kampusnya menyapa Ziyad dengan ramah. Ia bukan lagi Ziyad yang duduk diam di pojokan kelas. Ia mulai ikut nongkrong di kafe bersama teman-temannya, tapi bukan untuk sekadar bermain-main melainkan untuk mendiskusikan berbagai tugas dan hal-hal penting.
Ziyad juga mulai aktif ber-organisasi dan sering ditunjuk untuk menjadi pembicara di acara kampus dan seminar-seminar di luar kampus. Prestasi demi prestasi berhasil ia raih, membuat banyak orang kagum pada keteguhannya. Ia juga berhasil meringankan beban kedua orang tuanya dengan mendapatkan beasiswa full sampai lulus sarjana.
Ziyad tersenyum menatap langit sore yang dibalut oleh warna gradasi merah muda dan jingga. Ia telah membuktikan, santri bukanlah yang tertinggal oleh arus perubahan zaman, melainkan mampu berjalan beriringan dengan tetap menjaga identitasnya sebagai santri.