Disela Munas Konbes NU pada pekan ketiga Juni 2026 di Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, kru Majalah Risalah NU memanfaatkan kesempatan untuk ziarah ke makam KH Ahmad Dazuli Usman, pendiri Pesantren Al-Falah Ploso Kediri. Makam tersebut terdapat di lingkungan komplek pondok induk Al-Falah.
Suasana khidmat terasa selama lantunan doa dipanjatkan. Sejumlah peziarah tampak memenuhi komplek makam yang tidak begitu luas. Di komplek makam ini juga terdapat beberapa pusara keluarga KH Ahmad Djazuli, diantaranya pusara putranya, KH Zainudin Djazuli.
KH Ahmad Djazuli merupakan pendiri Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, sebuah lembaga pendidikan asrama berbentuk pesantren salaf. Kini, Pesantren Al-Falah Ploso berada di bawah asuhan KH. Nurul Huda Djazuli.
Pada pertengahan tahun 1924, dengan satu masjid dan seorang santri, Kiai Djazuli mulai merintis pesantren. beliau meneruskan pengajian untuk anak-anak desa sekitar Ploso yang sudah dimulainya dengan pulang pergi sejak masih berada di Karangkates. Jumlah murid pertama yang ikut mengaji ± 12 orang. Di penghujung tahun 1924 itu seorang santri Tremas bernama Abdullah Hisyam asal Kemayan (± 3 km selatan Ploso) datang bertamu kepada Kiai Djazuli sambil membawa salam dan surat-surat dari sahabat lamanya. Akhirnya Hisyam melanjutkan belajarnya kepada kyai Djazuli yang memang sudah dikaguminya semenjak di Tremas.
Berbekal tekad yang kuat, pada tanggal 1 Januari 1925 kyai Djazuli mengajukan surat permohonan pemantauan kepada pemerintah Belanda untuk lembaga baru yang kemudian dikenal dengan nama Al-Falah. Karena Madrasah tersebut belum punya gedung maka tempat belajarnya menggunakan serambi masjid. Inilah awal keberangkatan seorang Djazuli menjadi seorang Kyai di usia yang masih muda 25 tahun.
Cerita tentang berdirinya Madrasah sudah terdengar di kalangan yang lebih luas hingga satu demi satu santri berdatangan dan menetap di Ploso.
Pondok Pesantren Al-Falah Ploso menganut sistem manajemen tradisional, dalam arti, kepemimpinan tunggal yang tersentral pada figur seorang kiai memegang otoritas yang tinggi dalam pengelolaan pesantren. Manajemen semacam itu terus berlangsung sampai saat ini.
Pondok Pesantren Al-Falah yang berdiri pada tahun 1925, sejak awal berdirinya sampai hari ini masih tetap eksis mempertahankan status salafiyahnya, tidak tergoda dengan dinamika pendidikan yang berkembang.
Perkembangan santri yang mondok di pondok induk pun setiap tahun selalu mengalami kenaikan. Sampai hari ini Al-Falah telah melahirkan banyak alumni yang tersebar di berbagai penjuru nusantara, bahkan hingga negeri tetangga seperti Malaysia. Selain pondok induk, Al- Falah juga memiliki cabang yang dikelola oleh para dzurriyah kiai Djazuli dan tersebar di beberapa tempat di Desa Ploso, yakni:
Al Falah II 6. Tarbiyatul Qur’an (PPTQ) Al Falah
Al Falah Putri 7. Manhajul Qur’an (MQ)
Nurul Falah 8. Tuhfatul Athfal
Queen Al Falah 9. Tabassam Al Falah
Al Badrul Falah 10. DNE (Ndalem Ning Eva)
Jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri dimulai dari Madrasah Islamiyah Salafiyah Riyadlotul ‘Uqul (MISRIU) dengan dua tingkatan; Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Pada tingkatan Ibtidaiyah ditempuh selama 3 tahun yang materi pendidikannya memprioritaskan pembinaan akhlaq santri (moralitas dan mentalitas), pengembangan wawasan santri, menulis huruf arab, tajwid, pemantapan tauhid dan pengenalan dasar-dasar gramatika arab (ilmu nahwu shorof) sebagai persiapan memasuki tingkat Tsanawiyah.
Selanjutnya di tingkat Tsanawiyah, ditempuh selama 4 tahun. Pada kelas 1, 2 dan 3 Tsanawiyah, materi yang ditekankan adalah pendalaman ilmu nahwu, shorof (dengan kajian utama; kelas 1 kitab Jurumiyah, kelas 2 kitab ‘Imrithy dan kelas 3 kitab Alfiyah Ibni Malik serta dilengkapi pula kajian tauhid, fiqh dan risalatul mahidl sebagai penyempurna.
Sedangkan di kelas 4 Tsanawiyah lebih dititik beratkan pada penguasaan ilmu balaghoh (kesusastraan), mantiq (logika), qowa’idul fiqhiyah dan faroidl (waris).
Kegiatan madrasah dilaksanakan pada pukul 07.30 s/d pukul 10.30, mulai hari Sabtu s/d hari Kamis. Dan setiap ba’da Isya’ dilaksanakan musyawarah (diskusi bersama) sampai pukul 22.30. Masih dalam naungan MISRIU, dibuka pula madrasah siang (Nahariyah) dan madrasah malam (Lailiyah).
Madrasah Nahariyah memberi kesempatan untuk siswa diluar pondok (desa) yang tidak dapat mengikuti sekolah pagi dengan biaya lebih ringan. Kegiatan sekolah dimulai pada pukul 13.30 s/d 15.00.
Sedangkan Madrasah Lailiyah, sekolah malam yang dimulai pada pukul 19.00 s/d 20.30 untuk siswa pondok yang juga mengikuti sekolah umum. Sebagai pendalaman materi pelajaran dilaksanakan musyawarah setelah ashar sampai pukul 16.15 WIB. Ditambah privat untuk pelajaran umum pukul 21.30–22.30.
Selain mengikuti kajian-kajian sesuai tingkatan masing-masing, para santri juga diterjunkan dakwah di tengah-tengah masyarakat guna memberi pencerahan sekaligus sebagai sarana praktikum para santri. Dengan demikian, diharapkan setelah menamatkan jenjang ini, santri benar-benar menjadi generasi tangguh yang sanggup menghadapi tantangan zaman. (Zahid)