
Oleh: Mahasiswa Nurul Hasanah, Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Namaku Made. Aku lahir di sebuah desa kecil di Solo, dari keluarga petani sederhana. Ayahku menyadap karet dan sesekali menanam padi di lahan milik orang. Ibuku seorang ibu rumah tangga, yang sekaligus tak pernah lelah membantu pekerjaan Ayah. Setiap pagi, Ibu menyiapkan bekal untukku sebelum berangkat ke MTs. Sejak kecil aku sudah akrab dengan kehidupan yang serba pas-pasan, tapi penuh kehangatan. Aku tumbuh di tengah suara jangkrik, aroma tanah basah, dan tawa anak-anak desa yang berlari di antara pematang sawah, masa kecil yang sederhana, tapi membentuk keteguhan dalam diriku.
Setelah lulus MTs, orang tuaku mengirimku ke sebuah pesantren yang tidak terlalu besar, namun terkenal akan kedalaman ilmunya. “Mondoklah, De. Ilmu agama akan menjaga hidupmu,” begitu pesan ayah saat mengantarkanku pertama kali.
Pesantrenku berdiri di pinggir kota, dengan bangunan sederhana yang sebagian masih berdinding papan. Asrama kami dihuni belasan orang per kamar, dengan kipas angin yang sering rusak dan atap seng yang menimbulkan suara berisik, serta sering bocor yang membuat malam hujan semakin panjang.
Namun, di balik kesederhanaan itu, semangat belajar kami begitu menyala. Setiap habis subuh, kami duduk melingkar mengaji kitab kuning. Siang hari kami sekolah formal, lalu sore kembali mengaji. Setelah isya, kami belajar mandiri hingga larut malam.
Aku masih ingat, betapa beratnya menyalin pelajaran dengan tangan. Pulpen sering macet, kertas habis di tengah jalan. Bahkan, beberapa kali aku harus meminjam buku teman karena tidak mampu membeli. Meski begitu, tak sekalipun aku berpikir untuk menyerah.
Tahun-tahun berlalu, dan aku menyaksikan perubahan besar di pesantren. Gawai mulai masuk ke tangan para santri. Dulu, hanya ustadz atau alumni yang memilikinya. Sekarang, hampir setiap teman sekamar memegang gawai, lengkap dengan paket data internet.
Awalnya aku terkesima, betapa mudahnya belajar dengan teknologi. Al-Qur’an digital sangat mudah diakses, kitab bisa dibuka dalam bentuk PDF, terjemahan tersedia hanya dengan satu klik. Bahkan, ada aplikasi untuk belajar tajwid dan murottal yang bisa memperdengarkan bacaan ayat dengan suara merdu.
“Masya Allah, belajar sekarang gampang sekali,” kataku pada teman sekamar, Alif, yang sibuk menunjukkan aplikasi tafsir di gawainya.
Alif tersenyum, “Zaman sudah berubah, De. Kita harus ikut menyesuaikan.”
Aku mengangguk, meski dalam hati masih ragu. Benarkah semua perubahan ini membawa kebaikan?
Beberapa bulan kemudian, keraguanku mulai mendapat jawabannya. Tidak semua santri mampu bijak menggunakan teknologi.
Di kamar, aku sering melihat teman-teman lupa waktu karena asyik bermain media sosial. Ada yang larut menonton drama Korea, ada pula yang kecanduan game online. Bahkan, pernah suatu malam aku mendengar tawa keras dari kamar sebelah. Rupanya, mereka sedang membuat konten TikTok dengan gaya berjoget, padahal saat itu jam belajar malam.
Aku sendiri pun tidak luput dari godaan. Pernah suatu kali aku lebih memilih menonton video di internet ketimbang mengulang hafalan. Malam itu, ketika aku sedang asyik menatap layar, tiba-tiba ustaz masuk kamar saat inspeksi mendadak.
“Made, apa yang kau lakukan?” tanyanya tenang, tapi tegas.
Aku gugup, buru-buru menutup layar. “Maaf, Ustaz… hanya menonton sebentar.”
Beliau menatapku dalam-dalam, lalu berkata, “Ingat, De. Ilmu itu cahaya. Jangan padamkan cahaya itu hanya karena kau salah menggunakan zaman.”
Kalimat itu menancap kuat di hatiku. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku merasa seperti berada di persimpangan, memilih hanyut dalam arus teknologi, atau tetap teguh memegang ruh kesantrian.
Keesokan harinya, aku merenung lama di musala pesantren. Aku sadar, melawan teknologi sepenuhnya bukanlah pilihan bijak. Dunia sudah berubah, dan aku tidak mungkin memutar balik waktu. Namun, aku juga tidak boleh hanyut hingga melupakan kitab dan adab.
Aku memilih jalan tengah. Aku mulai menulis catatan kecil dari pengajian kitab setiap hari, lalu membagikannya di media sosial. Awalnya hanya beberapa teman yang membaca, tapi lama-kelamaan semakin banyak orang yang memberi komentar.
“Masya Allah, catatannya bermanfaat sekali.”
“Terima kasih, aku jadi lebih paham.”
“Semoga istiqamah ya, De.”
Komentar-komentar itu membuatku terharu. Aku tak menyangka tulisan sederhana bisa menyentuh hati orang lain.
Melihat hasil itu, aku semakin bersemangat. Aku lalu membuat grup belajar online untuk teman-teman sekamar. Di grup itu kami berdiskusi tentang materi kitab, saling mengirim catatan, bahkan mengadakan kajian daring bersama alumni yang kuliah di luar negeri.
Ternyata, teknologi bisa menjadi jembatan, bukan jurang.
Namun, tentu tidak semua orang langsung mendukung. Ada sebagian teman yang masih mengejek, “De, buat apa repot-repot? Lebih enak main game.”
Aku hanya tersenyum. Dalam hati aku yakin, setiap orang punya pilihan. Aku memilih jalan ini, tetap menjadi santri, tapi juga adaptif dengan zaman.
Suatu hari aku dipanggil ke ndalem kiai. Aku sempat takut, khawatir ada yang salah dengan caraku menggunakan media sosial. Namun, kiai justru menyambut dengan senyum hangat.
“Aku mendengar kau sering menulis di media sosial, De. Bagus. Teruskan. Tapi ingat, jangan sampai teknologi menguasaimu. Biarlah ia hanya menjadi sarana. Ruh keilmuanmu tetaplah kitab, akhlakmu tetaplah cermin utama.”
Aku mengangguk penuh haru. Kata-kata kiai meneguhkan langkahku.
Sejak hari itu, aku semakin yakin dengan pilihanku. Aku terus menulis, berbagi catatan, bahkan membuat video singkat berisi kutipan kitab atau nasihat dari ustaz.
Suatu ketika, ada pesan masuk dari seseorang yang tidak kukenal.
“Terima kasih, De. Tulisannya membuatku semangat kembali mondok. Aku hampir berhenti, tapi setelah membaca catatanmu, aku sadar betapa berharganya waktu di pesantren.”
Aku terdiam lama membaca pesan itu. Air mataku menetes. Aku merasa kecil, tapi Allah memberiku kesempatan untuk memberi manfaat, meski hanya lewat layar kecil gawai.
Kini, setiap kali menatap gawai, aku selalu mengingat pesan kiai.
“Gunakan zaman sebagai sarana, jangan jadikan ia menguasaimu, yang membuatmu santri bukan hanya sarung dan kitab, tapi juga akhlak yang kau jaga.”
Aku percaya, selama santri tidak kehilangan akhlaknya, ruh keilmuan itu akan tetap hidup, meskipun zaman berubah secepat kilat. Dan aku, Made, hanyalah satu dari ribuan santri yang mencoba menjaga cahaya itu tetap menyala di era digital. Dan dalam setiap sujudku, aku berdoa semoga kelak cahaya kecil ini menjelma lentera yang menerangi jalan para santri lain agar ilmu, iman, dan adab tak pernah redup di tengah gemerlap dunia maya.