RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Anwar Iskandar menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan ukhuwah islamiyah tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.
Kiai Anwar menyampaikan pesan mengenai filosofi persatuan umat Islam di Indonesia. Menurutnya, persatuan tidak berarti meleburkan perbedaan yang ada pada tiap ormas.
“Ketika kita bersatu, bersatu itu tidak berarti kemudian melebur. Yang NU biarlah menjadi NU, yang Muhammadiyah biarlah menjadi Muhammadiyah, yang Al-Washliyah, Mathla’ul Anwar, biarlah menjadi mereka. Tidak usah yang NU harus jadi Muhammadiyah atau sebaliknya, tidak bisa begitu,” ujar Kiai Anwar dalam penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) Ke-8 sekaligus Peringatan Milad ke-51 MUI yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Ahad (27/7/2026) malam.
Kiai Anwar mengibaratkan ormas-ormas Islam seperti lidi. Lidi-lidi tersebut baru akan memiliki daya guna dan kekuatan yang nyata ketika diikat bersama dalam satu kesatuan.
“Bagaikan sapu lidi, sapu lidi itu bisa bermanfaat ketika mereka berkumpul dalam satu ikatan. Dan Majelis Ulama Indonesia inilah yang akan menjadi pengikat dari ormas-ormas Islam di Indonesia agar menjadi sebuah kekuatan,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar setiap ormas membuang jauh-jauh ego sektoral. Jika tiap kelompok hanya menonjolkan egonya sendiri, kekuatan umat akan terpecah dan hanya melahirkan kelemahan.
Dalam kesempatan itu pula, Kiai Anwar menyampaikan sikap tegas dan eksplisit MUI yang berada di belakang perjuangan Palestina, menolak tindakan genosida, serta melawan fenomena islamophobia global.
“Majelis Ulama mesti tegas secara shorih bahwa Majelis Ulama berada di belakang perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina. Itu harus pasti,” ujar Kiai Anwar di hadapan para peserta kongres dan Menteri Agama RI.
Mengakhiri pidatonya, Ketua Umum MUI menyerukan agar seluruh elemen umat membuang sikap cengeng dan ragu-ragu dalam menghadapi tantangan zaman.
“Jangan seperti pepatah dulu, ‘maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai’. Itu terlalu cengeng. Mari kita ubah: maksud hati memeluk gunung, mari kita bergandengan tangan bersama-sama, dan akan kita bawa gunung itu, gunung kehormatan Izzul Islam wal Muslimin wa Izzu Indonesia Raya,” pungkasnya.
(Anisa)