Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Insan muslim yang memahami ajaran agamanya akan berusaha secara maksimal untuk mencukupi kehidupannya, mensyukuri apa yang diperolehnya. Ia terus memacu diri untuk mengejar kemajuan-kemajuan yang lebih tinggi, serta memiliki harga diri yang kokoh.
Dengan harga diri itu, ia tidak akan menyandarkan kehidupannya pada orang lain dan patang meminta-minta atau mengemis belas kasihan dari sesamanya.
Ajaran Islam mencela dengan keras bahkan memerangi orang-orang yang suka meminta-minta. Nabi bersabda: “Barang siapa yang meminta-minta pada seseorang untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya ia telah meminta bara api. Maka terserah kepadanya, apakah seseorang mau memperoleh bara api itu atau menghilangkannya”. (HR. Muslim, 1041).
Menimbun atau memperbanyak bara api, artinya sering meminta-minta kepada berbagai kalangan. Sedangkan menghilangkan bara api atau menepisnya, berarti menghindarinya, yaitu menghindari agar tidak meminta belas kasihan orang lain. Orang-orang yang sering meminta belas kasihan orang lain digambarkan seperti manusia yang tidak punya rasa malu, sehingga wajahnya diumpamakan seperti tengkorak.
Nabi menyebutkan: “Tidak henti-hentinya seseorang meminta belas kasihan pada orang lain, sehingga ia datang pada hari kiamat dengan wajah seperti tengkorak”. (HR. Bukhari, 1474, Muslim 1040). Hakim bin Hizam pernah meminta bantuan kepada Rasulullah s.a.w., kemudian Nabi memberinya. Pada waktu lain, ia melakukan hal yang sama, kemudian Nabi memberinya juga. Hal ini terus berlangsung hingga tiga kali, setelah itu beliau memperingatkan Hakim, sebagai berikut:
إِنَّ هَذَا الْمَالَ خُضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِطِيْبٍ نَفْسٍ بُوْرِكَ لَهُ فِيْهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكُ لَهُ فِيْهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ (رواه البخاري ومسلم)
Wahai Hakim, harta itu memang indah dan manis, maka barang siapa mengambilnya dengan kelapangan hati, maka diberkahi, maka barang siapa menerimanya dengan penuh kerakusan maka ia tidak diberkahi, bagaikan penyantap makanan yang tidak pernah kenyang” (HR. Bukhari, 6441, Muslim, 1035).
Selanjutnya, nabi menyampaikan pesan yang sangat luhur bahwa tangan di atas, lebih baik dari tangan yang di bawah. (HR. Bukhari). Hakim bin Hizam sangat memperhatikan dan menyambut peringatan Rasulullah s.a.w. seraya berkata: Demi Tuhan yang membangkikanmu dengan kebenaran, sesungguhnya aku tidak akan menerima pemberian apapun dari siapapun hingga aku meninggal dunia. (HR. Bukhari, 2974, Muslim, 717).
Demikian seriusnya Hakim dalam menghayati peringatan Rasulullah s.a.w., sehingga pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar al-Shiddiq, beliau mendapat bantuan dari Baitul Mal. Ia menolak bantuan itu. Pada masa Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia juga mendapat bantuan dari Baitul Mal, tetapi ia juga menolak pemberian itu. Dalam Riwayat yang sahih menyebutkan bahwa beliau tidak pernah mau menerima pemberian atau bantuan dari orang lain, sampai wafat.
Apabila kita memperhatikan berbagai pengarahan dari uraian di atas, kita pasti akan menyadari betapa agungnya akhlak yang diajarkan Rasulullah s.a.w.. Betapa mulianya orang-orang yang menapaki jalan yang ditempuh oleh Rasul akhir zaman itu, para sahabatnya dan para penerusnya sampai hari kiamat. Kita diarahkan berinfak kepada orang-orang yang hidup sangat miskin. Tapi mereka tidak mau meminta-minta, mereka tetap menjaga kehormatannya.
Karena itu, disebutkan bahwa seorang yang keluar masuk dari satu kampung ke kampung yang lain, memasuki daerah yang padat dan sengaja mencari orang-orang miskin, jompo, yatim, dhuafa yang punya harga diri kemudian ia memberikan bantuan kepada mereka, status orang itu sama dengan orang yang berjihad di jalan Allah.
Kaum fakir yang punya harga diri, inilah yang harus diperhatikan, sesuai dengan bimbingan al-Qur’an:
لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًا ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ࣖ
(Apa pun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis. Engkau mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Tahu tentang itu. (QS. Al-Baqarah, 02:273).