Seandainya saya tidak pernah membuka lembaran kitab al-Thabaqât karya Imam as-Subki, barangkali rahasia kecil tentang silsilah keluarga akan selamanya tersembunyi.
Kakek saya dari garis keturunan ibu bernama “Usymuni’, atau yang kerap kami sapa Asymuni. Entah, apakah perubahan itu berangkat dari lidah orang Madura yang sering memanggil nama orang lain sekenanya asal mudah dilafalkan atau karena faktor lain, saya tidak tahu pasti.
Tapi yang jelas, selama ini saya mengira itu hanya nama Arab biasa dengan makna yang baik. Namun, tatkala membaca literatur klasik sebagaimana disinggung di atas, membuka cakrawala pemahaman saya mengenai asal-usul nama tersebut. Usymuni rupanya adalah nama sebuah distrik yang tepat berada di jantung salah satu wilayah negara Mesir.
Begitu pula dengan nama Syansyuri, yang masyhur di kalangan warga Nahdliyyin, karena salah satu pendiri NU bernama “KH. Bisri Syansyuri”. Bila ditelisik lebih jauh, Syansyuri sendiri merupakan nama sebuah desa kecil yang tenang, yakni “Syansyur” dalam distrik Usymun, Mesir. Selain itu, ada juga nama besar seperti Nawawi, yang merujuk pada tempat yang bernama Nawa, sebuah kota di Suriah.
Pertanyaannya, mengapa nama-nama tempat di Timur Tengah itu bisa begitu menggema di seluruh penjuru dunia Islam, bahkan hingga membumi menjadi nama penduduk di Nusantara? Saya rasa jawabannya terletak pada kebesaran para ulama yang lahir dari rahim wilayah-wilayah tersebut. Dalam tradisi keilmuan Islam, ada budaya yang cukup mengakar yang disebut “nisbah”. Nisbah sendiri merupakan istilah dalam tradisi Islam yang berarti menyematkan nama tanah kelahiran di bagian paling belakang nama seseorang.
Ketika para ulama melakukan pengembaraan demi menebarkan ilmu pengetahuan ke berbagai penjuru dunia, mereka tidak hanya membawa nama pribadi. Lebih dari itu, mereka turut memanggul nama kampung halamannya dan memperkenalkannya kepada dunia.
Jika kita renungkan, bukankah ini wujud paling murni dan elegan dari nasionalisme? Bagi saya, itu adalah bukti cinta tanah air yang tak perlu diteriakkan, apalagi diseremonialkan lewat acara-acara yang menguras waktu dan anggaran. Nasionalisme sejati yang diabadikan lewat dedikasi dan lautan ilmu pengetahuan.
Saking berakarnya cinta tersebut pada tanah kelahiran, para ulama itu bahkan sering kali mematrikan nama desa atau kota asalnya ke dalam judul-judul kitab mahakarya abadi yang mereka tulis. Dalam tradisi pesantren, kita mengenal kitab-kitab babon yang menjadi rujukan penting dalam khazanah intelektual pesantren seperti, Syarhu al-Syansyûrî ‘Alâ Matni al-Rahbiyyah fi al-Farâid. Atau Syarhu al-Usymunî ‘Alâ Alfiyyah Ibni Mâlik fî al-Nahwi. Melalui tinta emas di atas lembaran kertas itulah, eksistensi desa Syansur dan distrik Usymun pun hidup abadi melintasi pergantian zaman dan generasi. Tradisi merawat memori kampung halaman ini rupanya terus mewaris dari generasi ke generasi, melintasi samudra hingga tiba di tanah Nusantara.
Ketika ulama-ulama besar Indonesia menginjakkan kaki di Tanah Suci dan perlahan menjadi rujukan keilmuan dunia Islam, mereka tidak lantas menanggalkan identitas lokalnya. Mereka justru dengan bangga menyematkan kepingan daerah asal di Nusantara pada kancah global. Lihat saja deretan nama besar yang mengharumkan nama bangsa ini seperti Syekh Yasin al-Fadani, ulama ahli sanad dunia yang bangga membawa nama Padang.
Lalu ada Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Imam dan khatib Masjidil Haram yang tak pernah melepaskan identitas Minangkabaunya. Kemudian ada Syaikh Abdul Qadir al-Mandaili, ulama kharismatik kebanggaan Mandailing Natal yang menjadi guru-guru ulama Nusantara, terutama mereka yang belajar di Madrasah Shaulatiyah, Mekkah. Selanjutnya ada Syaikh Yusuf al-Makasari, tokoh ulama sufi, sekaligus pejuang dari Makassar, dan Syaikh Usama al-Mandurah, ulama terkemuka yang membawa harum nama Madura dan masih ada hubungan famili dengan pesantren Bustanul Huffadz di Sampang dan Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep.
Pada akhirnya, menyematkan nama daerah di belakang nama besar bukanlah sebatas pelabelan asal-usul yang sifatnya formalistik. Penyematan nama daerah merupakan bukti kecintaan terhadap tanah air. Nasionalisme lewat nama menjadi bukti bahwa setinggi apa pun ilmu dan reputasi seseorang, ia tidak akan pernah lupa dari mana ia berasal. Selamat HUT RI ke-81.